Nyalon Wagub Jateng, Wujudkan Perjuangan RA Kartini

Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ida Fauziyah

277
ZIARAHI RA KARTINI : Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ida Fauziyah saat melakukan ziarah ke makam RA Kartini di Kabupaten Rembang beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)
ZIARAHI RA KARTINI : Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ida Fauziyah saat melakukan ziarah ke makam RA Kartini di Kabupaten Rembang beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)
Ida Fauziyah
Ida Fauziyah

RADARSEMARANG.COM – Perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini menjadi nafas kaum perempuan bangsa ini. Terutama Ida Fauziyah, perempuan tangguh yang terus memperjuangakan keadilan kaum perempuan melalui parlemen maupun kanal lainnya, kini dipercaya menjadi calon wakil gubernur (Cawagub) Jawa Tengah 2018.

BESAR di lingkungan pesantren dan keluarga Nahdliyin, menempa Dra Hj Ida Fauziah dengan pengetahuan dan kemampuan yang lengkap. Pengalamannya itu telah menempatkan dirinya sebagai perempuan dengan kualitas yang setara dengan kaum laki-laki.

Perempuan kelahiran Mojokerto, 16 Juli 1969 ini, telah meluluskan sekolahnya dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tambak Beras Jombang 1989. Kemudian melanjutkan S1 IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1993. Menyandang gelar sarjana, Ida mendedikasikan hidupnya dengan menjadi guru di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Jombang pada tahun 1994-1999 dan guru SMU Khadijah Surabaya 1997-1999.

Bersamaan dengan lahirnya era reformasi, Ida juga memulai karir politiknya bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa.  Di usia yang terbilang muda, baru 29 tahun, pada Pemilu 1999 bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur, Ida lolos masuk Senayan. Menjadi anggota DPR RI termuda, istri Taufiq R Abdullah asal Kebumen Jawa Tengah ini, sangat percaya diri memimpin sidang paripurna tahun 1999-2004.

Pengalamannya di berbagai organisasi maupun organisasi perempuan telah menjadikannya sebagai perempuan yang diperhitungkan di kancah nasional. Popularitas dan kepercayaan masyarakat terhadapnya patut diapresiasi. Terbukti, ibu dua anak ini dipercaya menjadi anggota DPR RI tahun berikutnya hingga sekarang. Yakni terpilih lagi sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2004-2009, kemudian 2009-2014 dan 2014-2019.

Perempuan yang sangat mencintai keluarga dan sangat dekat dengan kedua anaknya, Sibli Adma Firmanda (SMA) dan Adimhaq Fitmanda (SD) ini, kerap dipercaya memegang jabatan tinggi di DPR RI. Pada 2012-2014 dipercaya sebagai ketua Komisi VIII DPR RI di bidang agama, perempuan dan sosial. Tahun 2014-2019, dirinya bertugas di Badan Anggaran (Banggar) dan Komisi I DPR RI, membidangi pertahanan, intelijen, komunikasi dan informatika. Ida juga mendapat kepercayaan sebagai ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI.

Sedangkan pada periode 2009-2012, sempat dipercaya menjadi wakil ketua Komisi II DPR RI yang membidangi otonomi daerah dan pertanahan. Kapasitas dan kapabilitasnya yang mumpuni, Ida juga dikenal sebagai pendiri Kaukus Perempuan Parlemen dan ditunjuk oleh FKB DPR RI menjadi ketua Kaukus Perempuan Parlemen.

Posisinya semakin membumi, saat didaulat sebagai ketua umum Pengurus Pusat (PP) Fatayat NU tahun 2010-2015, badan otonom (Banom) perempuan di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang berakar kuat hingga pelosok nusantara. Bahkan, saat ini masih menjabat ketua Muslimat Nahdlatul Ulama tahun 2010-sekarang.

Masih seabrek aktivitasnya yang lain, di antaranya menjadi anggota Lembaga Advokasi Perempuan PP Fatayat NU 2000-2004, anggota Lembaga Advokasi Perempuan PP Fatayat NU 2000-2004, Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU 2015 – sekarang, dan ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU 2010-2015. Tahun 2002-2007 menjabat sekretaris Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) DPP Partai Kebangkitan Bangsa merangkap ketua PPKB (Partai Kebangkitan Bangsa|Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa).

Berkat dedikasinya yang luar biasa, Ida kini didaulat sebagai Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah mendampingi Sudirman Said dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018. “Melalui tugas yang diberikan kepada saya untuk menjadi Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, adalah bagian dari mewujudkan perjuangan RA Kartini,” tandas perempuan lemah lembut ini.

Diakuinya, mewujudkan perjuangan RA Kartini maupun keadilan bagi kaum perempuan pada umumnya, memang tidak serta merta didapat. Butuh proses bersama masyarakat yang berkesinambungan, meski pelan tapi pasti.

Ida mencontohkan jumlah kaum perempuan separuh lebih di banding kaum laki-laki yang menghuni bangsa Indonesia ini. Namun potensi dari jumlah yang besar, belum sepenuhnya terakomodasi dalam proses pembangunan. Bahkan, belum sepenuhnya mendapatkan manfaat dari pembangunan. “Jumlah yang dominan tersebut, harusnya mendapatkan perhatian yang sama dengan kaum laki laki. Kenyataannya yang kita lihat berbeda, contoh dalam akses pendidikan, perempuan lebih rendah di banding laki-laki,” jelasnya.

Tak hanya itu, derajat kesehatan, angkatan kerja perempuan, maupun partisipasi politik kaum perempuan jauh lebih rendah ketimbang laki-laki. Di lembaga sebesar DPR RI, jumlah perempuan hanya sekitar 17 sampai 18 persen saja. Bahkan di DPRD Jateng maupun kepala daerah di Jawa Tengah, belum mewakili jumlah kaum perempuan. Bahkan, jumlah itu, masih jauh dari 30 persen sebagaimana yang dipersyaratkan dalam peraturan perundang-undangan. Tak hanya itu, pegawai di lembaga eksekutif setingkat eselon 1, jumlahnya masih sangat kecil disbanding laki-laki.

Pada era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dulu, memiliki Inpres tentang Pengarusutamaan Gender. Itu merupakan upaya mendorong agar seluruh proses pengambilan kebjjakan mulai dari perencanaan hingga evaluasi masukkan gender mainstreaming (pengarusutamaan gender). Ini mendorong kaum perempuan agar mendapatkan manfaat dari pembangunan. “Pada era saat ini, kita bersama harus mendorong gender mainstreaming. Kalau mengandalkan Instruksi Presiden (Inpres) saja, tidak cukup kuat. Karena itu, yang masih kami perjuangkan saat ini adalah mendorong ditetapkannya UU Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) yang hingga sekarang belum dibahas di DPR RI,” tandasnya.

Diakuinya, masih beum seimbangnya peran perempuan dalam mengambil manfaat pembangunan di Indonesia, lantaran masih melekatnya budaya patriarki yang cukup kuat. Namun budaya tersebut saat ini mulai bertransformasi ke budaya egaliter, berkat perjuangan bersama selama ini. “Semakin hari mulai terbangun kesadaran bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lainnya. Ini adalah perjuangan RA Kartini sebagaimana dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Masih kita perjuangkan hingga sekarang,” tandasnya. (ida nor layla)