Oleh: Nurjadid MSi
Oleh: Nurjadid MSi

RADARSEMARANG.COM – Mendidik bukanlah suatu pekerjaan yang mudah walaupun mulia. Karena di dalamnya terdapat tanggung jawab yang besar. Pendidik harus mampu menjalin relasi yang baik dengan peserta didiknya. Sehingga akan lebih maksimal di kelas, tidak terjebak pada malapraktik pendidikan. Kira – kira salah satu ciri perilaku tersebut adalah ketika pendidik mematikan kreativitas siswa. Ketika sudah mentok, yang paling banyak adalah mencari aman, nyaman, akhirnya tidak melakukan apa-apa (doing nothing ), menyerah, masuk kelas catat kemudian keluar, begitu seterusnya. Maka penulis fokus pada prapembelajaran. Ada tiga gaya pembelajaran, yakni visual, auditori, dan gaya pembelajaran kinestetik.

Pertama, peserta didik  yang tergolong gaya visual cara belajarnya melihat materi atau orang yang mengajarinya, atau lebih sering menggunakan otak kiri. Menurut psikolog Aloysius MA PhD, dosen yang bekerja di Los Angles yang lebih dari 20 tahun, bahwa ciri khas atau trademark peserta didik visual biasanya akan cenderung kepada melihat sesuatu teks, warna, gambar, jadwal, gambar, membaca buku, atau melihat pada paparan komputer, lebih mudah mengingat, memahami arahan dan penerangan dalam membaca teks, paham melalui instruksi lisan dalam mengingat sesuatu, biasanya pendiam (introvert ) dan tidak suka rusuh, karena dia hanya memperhatikan apa yang dia lihat, suka untuk menulis atau membaca. Media LCD dapat juga sebagai penunjang proses pembelajaran, dan sebagainya. Strategi ini cocok untuk peserta didik program studi ilmu sosial, juga yang lainnya.

Kedua, peserta didik dengan gaya ini cenderung kepada penerangan secara lisan. Peserta didik auditori juga biasa mengingat penerangan melalui bacaan kuat (reading aloud) atau menggerakkan bibir ketika membaca, terutama apabila mempelajari sesuatu yang baru. Peserta didik dapat mengukuhkan ingatan dengan merekam, kemudian membawa pulang untuk dipelajari di rumah, saling berinteraksi. Peserta didik yang memiliki model pembelajaran auditori biasanya adalah anak yang cerewet dan sangat senang jika berbicara. Sehingga mereka cenderung banyak berbicara.

Dalam pelajaran Bahasa Inggris dapat dipraktikan game spelling bee atau permainan mengeja dalam waktu tertentu dengan jumlah kata tertentu. Jadi, peserta didik yang memiliki gaya pembelajaran auditori, strategi penyampaian materinya lebih pada bagaimana guru yang aktif berbicara. Strategi ini cocok untuk peserta didik program studi sosial atau kelas ilmu sosial, bahasa, dan agama. Walaupun dapat juga diterapkan di program studi lain.

Ketiga, peserta didik dengan gaya kinestetik ini cenderung belajar dengan praktikal dalam aktivitas pembelajaran seperti gerakan, tanggapan, tindakan fisikal dan emosi, atau lebih sering menggunakan otak kanan, kreatif, bervariasi, dan kegiatan yang di luar ruangan. Gunakan dengan game–game sebelum pembelajaran dimulai. Sehingga peserta didik tidak mudah merasa bosan di dalam kelas. Strategi ini cocok untuk peserta didik program studi exact atau kelas MIPA, walaupun juga dapat diterapkan di kelas – kelas lainnya.

Maka kuncinya adalah konsisten, tenang dalam menangani peserta didik, hindari labeling negative, maka sebaiknya di awal pembelajaran sudah mulai mengenal karakteristik peserta didik, mana yang lebih dominan visualkah, auditorikah, atau kinestetikkah? Walaupun di kelas tersebut beraneka ragam, mungkin sesekali juga dapat diubah, sehingga pendidik akan sedikit melupakan kebosanan, kemarahan, stres, serta malapraktik pendidikan. (igi1/aro)

Guru MA Negeri Salatiga