Mahmudah Piawai Kemudikan Mobil Tanki Pertamina

221
TANGGUH : Mahmudah, satu-satunya perempuan pengemudi awak mobil tanki (AMT) Pertamina. (dokumen pribadi)
TANGGUH : Mahmudah, satu-satunya perempuan pengemudi awak mobil tanki (AMT) Pertamina. (dokumen pribadi)
Mahmudah (dokumen pribadi)
Mahmudah (dokumen pribadi)

RADARSEMARANG.COM – LAZIMNYA pengemudi awak mobil tanki (AMT) Pertamina adalah seorang pria. Namun pekerjaan pria ini bisa dilakukan dengan baik oleh Mahmudah. Ya, perempuan berusia 45 tahun ini sudah lebih dari 20 tahun mengemudikan kendaraan-kendaraan besar.

Tahun 1996, ia mulai mengendarai bus antar kota, kemudian bus pariwisata antarpulau juga dikemudikannya mulai 2007. “Sempat akan pensiun dari profesi ini, tapi pada 2013 lalu ternyata ada lowongan sebagai pengemudi ATM Pertamina. Saya coba melamar dan lolos,” ujarnya.

Mengemudikan kendaraan besar, boleh dibilang sudah cukup berpengalaman. Namun untuk mobil tanki diakuinya pengalaman baru. Bila sebelumnya, ia membawa penumpang, kini Mahmudah harus membawa 24 KL bahan bakar minyak (BBM) dari depot di Yogyakarta ke beberapa daerah lain seputar Kedu.

“Rasa takut harus saya akui, awalnya ada. Apalagi yang saya bawa BBM, pikiran nanti kalau kenapa-kenapa juga ada. Kemudian saya yakini, niat saya baik, saya ikuti prosedur, kemudian saya jalani,” ujarnya.

Dalam sehari, ibu tiga orang anak ini bisa mengantarkan BBM ke tiga tempat hingga berpuluh-puluh kilometer. Dari pagi hingga pagi lagi, dalam kota maupun luar kota.

Hari pertama, ujar Mahmudah, biasanya saya berangkat dari rumah di Purworejo ke depot di Jogjakarta. Pukul 10.00, Mahmudah mulai berangkat dari depot mengantarkan BBM untuk SPBU di dalam kota dengan jarak tempuh sekitar 18-20 kilometer, kemudian kembali ke depot pukul 12.00.

Berikutnya, pukul 13.00 ia kembali mengantar BBM dengan jarak tempuh yang kurang lebih sama dengan sebelumnya. Terakhir, sekitar pukul 21.00, Mahmudah kembali berangkat dari depot untuk mendistribusikan keluar kota.

“Kalau pendistribusian pertama dan kedua di dalam kota, untuk yang ketiga biasanya luar kota dengan jarak tempuh sekitar 60–70 kilometer. Kemudian kembali lagi dan sampai di depot sekitar pukul 02.00 dini hari,” ujarnya.

Profesi yang dijalaninya tersebut, diakui Mahmudah, mendapatkan tanggapan positif maupun negatif. Tak sedikit yang kaget manakala mengetahui di balik kemudi awak mobil tanki adalah seorang perempuan.

“Kadang kalau pas di lampu merah, ada sesama pengendara yang melihat pengemudinya ternyata cewek, kadang kaget dan kasih jempol ke saya. Tapi ada juga yang memberikan tanggapan miring, perempuan kok jadi sopir dan pulangnya malam-malam, kadang pagi. Tapi ya biarkan saja, yang penting saya baik,” ujarnya.

Sedangkan dari keluarga, salah seorang putra yang telah bekerja, sempat meminta Mahmudah untuk pension. Namun ia merasa masih cukup mampu bekerja untuk membiayai dirinya dan keluarga. “Anak saya sempat menawari, sudah ibu istirahat saja, nanti dia yang membiayai. Tapi saya bersyukur hingga saat ini masih sehat dan mampu bekerja. Jadi ya rezeki anak biar untuk anak, saya bisa biayai hidup saya sendiri,” ujarnya. (dna/ida)