Khawatir Punah, Lestarikan Batik Kudus

200
CINTA BATIK : Yuli Astuti sangat peduli dengan pelestarian batik warisan nusantara. (DOKUMEN PRIBADI)
CINTA BATIK : Yuli Astuti sangat peduli dengan pelestarian batik warisan nusantara. (DOKUMEN PRIBADI)
Yuli Astuti (DOKUMEN PRIBADI)
Yuli Astuti (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – KEKHAWATIRAN akan punahnya Batik Kudus, memantik Yuli Astuti untuk mengangkat kembali warisan budaya ini. Riset motif hingga pendirian sanggar untuk memfasilitasi anak-anak muda dalam belajar membatik pun dilakukan.

“Batik Kudus ini sebelumnya sempat jaya, namun sekitar tahun 2005 lalu perajinnya semakin minim dan tinggal yang usia lanjut. Kalau tidak ada regenerasi bisa punah dan itu sayang sekali,” ujar pemilik Muria Batik ini.

Saya lantas berdiskusi dengan sejumlah pihak yang tertarik untuk meneruskan Batik Kudus. Sejumlah penelitian terkait corak-corak Batik Kudus pun saya lakukan. Sejarah dan kearifan lokal kembali digali. “Dalam proses, saya sisipi kearifan lokal di dalamnya. Sehingga ciri khas Kudus juga tetap menonjol,” ujarnya.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Khususnya dari segi Sumber Daya Manusia (SDM). Awal merintis, diakui Yuli, tak mudah mencari anak-anak muda yang mau menggeluti seni membatik. Sebagian besar memilih ke sektor industri dan lainnya.

“Butuh perjuangan keras agar ada regenerasi, agar anak-anak muda juga mau terjun ke sektor ini. Karena itu, saya juga membangun sanggar, tujuannya untuk tempat belajar mulai dari anak-anak hingga dewasa. Harapannya kalau sejak dini sudah dikenalkan, siapa tahu ke depan mereka mau menggeluti bidang ini,” ujarnya.

Selain itu, Yuli juga aktif mempopulerkan Batik Kudus, tak hanya di dalam tapi juga luar negeri. Di antaranya melalui website, sosial media dan rajin mengikuti pameran. “Selain memproduksi, saya juga mendesain batik menjadi busana siap pakai. Hasilnya ditampilkan dalam fashion show maupun pameran di dalam dan luar negeri,” ujarnya. (dna/ida)