Berdayakan Perempuan Berarti Tekan Kemiskinan

397
PADAT AKTIVITAS: Calon Wakil Gubernur Jateng Iada Fauziyah selalu menyempatkan waktu untuk membaca buku di sela padatnya aktivitas. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PADAT AKTIVITAS: Calon Wakil Gubernur Jateng Iada Fauziyah selalu menyempatkan waktu untuk membaca buku di sela padatnya aktivitas. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI PEREMPUAN : Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ida Fauziyah, berorasi dan berbaur dengan kelompok peduli perempuan dan anak di Solo, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)
PEDULI PEREMPUAN : Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ida Fauziyah, berorasi dan berbaur dengan kelompok peduli perempuan dan anak di Solo, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – PANGGILAN tugas membangun Jawa Tengah dengan semangat RA Kartini, selaras dengan tiga prioritas srategis jika terpilih dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2018 ini. Yakni, menekan angka kemiskinan secara cepat dan drastis, dari 12,23 persen menjadi 6 persen. Pasalnya, selama ini perempuanlah yang terbesar berada di bawah garis kemiskinan.

“Di antara yang miskin, yang terbanyak adalah kaum perempuan. Karena itu, saya dan Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said berusaha mengakselerasi penyelesaian kemiskinan dengan menciptakan wirausaha perempuan 1 juta per tahun dalam waktu 5 tahun. Karena itu, kami akan menumbuhkan dan memperkuat permodalan, meningkatkan kemampuan manajerial dan teknologi,” tandasnya.

Bahkan, dari 22 janji kerja Cagub-Cawagub Jawa Tengah 2019-2023, Sudirman Said-Ida Fauziyah ini, janji nomor 10 berkomitmen menjadikan perempuan sebagai soko guru pergerakan pembangunan Jawa Tengah. Caranya dengan merevitalisasi kaum ibu dan anak.
“Akibat kemiskinan, derajat kesehatan kaum perempuan sangat rendah. Kematian ibu dan anak sangat tinggi. Bahkan, stunting sangat tinggi. Karena itulah, kami akan mendorong penguatan dan peningkatan Posyandu,” jelasnya.

Karena perempuan menjadi soko guru dalam pembangunan, tandasnya, maka dalam pengambilan kebijakan publik akan selalu melibatkan perempuan. “Saya dan Pak Dirman punya tekad, mewujudkan pembangunan yang menggerakkan masyarakat secara buttom up atau dari akar rumput. Sebagaimana yang dilakuakn Qoryah Toyyibah yang berhasil memberdayakan perempuan dalam aktivitasnya,” katanya.

Ida mengaku prihatin dengan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau pembangunan manusai di Jawa Tengah pada 2015 hanya 69,49 persen, lebih rendah dari IPM nasional 69,55 persen. “IPM Jawa Tengah, kalah dengan Jawa Timur dan Jawa Barat. Kalau bukan Jawa Tengah masih bias dimaklumi jika berada di bawah IPM nasional. Ini berarti ada yang salah. Karena itu, pemimpin Jawa Tengah ke depan harus memiliki kesungguhan menyelesaikan dan mengentaskan kemiskinan,” tandasnya. (ida nor layla)