Bangun Keadilan Keluarga dengan Kompromi

368
CINTA KELUARGA: Ida Fauziyah bersama suami dan kedua anaknya. (DOKUMEN PRIBADI)
CINTA KELUARGA: Ida Fauziyah bersama suami dan kedua anaknya. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – KONSEP sebuah keluarga dalam gender mainstreaming, tak sekadar kesetaraan dan keadilan, tapi juga kompromi. Demikian halnya suami istri dalam membesarkan anak, tidak boleh membebankan pada satu pihak saja, tapi menjadi tanggung jawab bersama.

“Memberikan pendidikan kepada anak laki-laki dan perempuan harus secara proporsional. Jadi, jangan beralasan karena laki-laki, pendidikannya harus lebih tinggi dari perempuan. Karena laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama,” harap Ida Fauziyah.

Pemilik hobi traveling ini, telah menerapkan konsep tersebut dalam keluarganya. “Saya bisa begini, karena dukungan suami. Karena itu, kaum perempuan ingin aktif di luar rumah, harus dibicarakan dengan suami, karena semua langkah istri sangat berkaitan dengan suami. Suami memberikan support, maka konsekauensinya akan diterima bersama,” jelasnya.

Diakui Ida, meski aktif dengan banyak kegiatan, perhatiannya besar terhadap kedua anaknya. Bahkan, kedua anaknya sangat dekat dengannya. “Kalau kesibukan menyita banyak waktu, maka kami akan mengagendakan libur bersama dengan quality time,” tandasnya. (ida nor layla)