Oleh : Nurjati, S.Ag., M.Pd.I 
Oleh : Nurjati, S.Ag., M.Pd.I 

RADARSEMARANG.COM – PENDIDIKAN di Indonesia tengah mengalami proses “dehumanisasi”. Indikatornya, terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya. Karena itu, sudah saatnya reformasi pendidikan perlu segera dilakukan. Yaitu gagasan dan langkah untuk menuju pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan (humanisasi).

Berbagai kasus kekerasan yang merebak dalam kehidupan kemasyarakatan kita, mengindikasikan bahwa pendidikan kita telah kehilangan fungsinya sebagai sarana membentuk manusia yang humanis. Pendidikan nasional juga belum mempunyai peran signifikan dalam proses membangun kepribadian bangsa yang memiliki jiwa sosial dan kemanusiaan.

Pendidikan adalah “humanisasi”. Yaitu, sebagai alat atau media serta proses pembimbingan peserta didik dari manusia muda menjadi dewasa yang lebih manusiawi. Tidak boleh ada model kapitalisasi pendidikan dan politisasi pendidikan. Karena pendidikan secara murni berupaya membentuk insan akademis yang berwawasan dan berkepribadian kemanusiaan.

Maka, hakikat pendidikan humanis adalah upaya menjadikan manusia sebagai manusia, pemanusiaan manusia, peningkatan dengan bantuan dan bimbingan bagi anak yang sedang berjalan menuju manusia yang lebih sempurna dan lebih insani. Serta, membantu anak didik kepada kemanusiannya (hablumminanass ). Karena itu, pendidikan yang memanusiakan manusia adalah sebuah keharusan yang harus terus-menerus digelar. Karena ini menjadi prinsip dasar bagi keberhasilan pendidikan sebagai upaya pencerdasan kehidupan bangsa.

Sejalan dengan itu tokoh humanisme Dr Ali Syariati dari Iran ( 1933-1977) memandang keberadaan manusia di bumi tidak bisa dilepaskan dari aspek ketuhanan. Tentang konsep manusia, Ali Syari’ati menunjukkan sikap kritisnya terhadap konsep Barat yang bersifat pragmatis.

Ali meletakkan landasan yang tegas tentang proses penciptaan manusia sebagai proses evolutif yang bergerak menuju pada tingkat kesempurnaan Ilahi. Bagi Ali Syari’ati, humanisme paling ideal adalah ketika manusia bisa kembali ke jalan Tuhan melalui jalan ruhani. Dan, itu pun dapat ditempuh melalui jalan pendewasaan yang dkemas melalui pendidikan.

Salah satu pernyataan Ali tentang manusia yang menarik adalah: ”Manusia menjadi ideal dengan mencari serta memperjuangkan umat manusia, dan dengan demikian, ia menemukan Tuhan”. Sedangkan ciri pemikiran Syari’ati: agama harus ditransformasikan dari ajaran etika pribadi ke program revolusioner untuk mengubah dunia.

Humanisme sebagai wawasan kemanusiaan, menjadi topik penting untuk merumuskan kembali kehidupan yang ideal. Artinya, seluruh potensi yang dikembangkan dalam pendidikan nasional, merupakan usaha untuk mengembangakan dimensi kemanusia itu sendiri (humanisme). Karena itu, antara humanisme dengan pendidikan nasional, sesungguhnya punya kesamaan dalam tujuan yang hendak dicapai.

Terdapat relevansi yang sangat erat antara humanisme yang dipikirkan oleh Ali Syari’ati dengan tujuan pendidikan nasional. bahwa humanisme perspektif, Ali Syari’ati memiliki tujuh asas utama. Yaitu, pertama, Manusia adalah makhluk asli, artinya memiliki substansi yang mandiri dan berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya dengan substansi fisik sekaligus ruh yang dimiliki.

Kedua, manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas. Tiga, manusia adalah makhluk yang sadar (berpikir). Keempat, manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya sendiri. Lima, manusia adalah makhluk kreatif. Enam, manusia adalah makhluk yang memiliki cita-cita dan merindukan sesuatu yang ideal. Tujuh, manusia adalah makhluk moral yang memiliki nilai-nilai. Nilai-nilai diartikan sebagai ungkapan tentang hubungan manusia dengan fenomena, cara atau kondisi yang di dalamnya terdapat motif yang lebih luhur dari pada keuntungan.

Maka, mari kepada pemangku kepentingan pendidikan untuk selalu mengembangakn aspek humanisme dalam setiap hal supaya tujuan pendidikan nasional dapat bermuara pada tujuan yang mulia yaitu memanusiakan manusia dari berbagai aspek dan sudut pandang. (*/isk)

 Guru PAI SMK Negeri Bansari Temanggung