Genjot Fashion dan Kerajinan Tangan

326
BERI PENJELASAN : Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Bekraf Abdurohim Boy Berawi dan Anggota Komisi X DPR RI Drs H Mujib Rohmat, menjelaskan kontribusi ekonomi kreatif di Kampus Unnes, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERI PENJELASAN : Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Bekraf Abdurohim Boy Berawi dan Anggota Komisi X DPR RI Drs H Mujib Rohmat, menjelaskan kontribusi ekonomi kreatif di Kampus Unnes, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Subsektor industri fashion dan kerajinan tangan terus digenjot oleh pemerintah, karena kontribusinya yang besar dalam pertumbuhan ekonomi.  Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2014 adalah Rp 784,82 triliun atau meningkat 8,6 persen pada 2015 menjadi Rp 852 triliun.

Deputi Riset, Edukasi dan Pengembagan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Abdurohim Boy Berawi mengatakan bahwa sektor ekonimi kreatif seperti kuliner, kriya, dan fashion, memberikan kontribusi sebesar 41,69 persen, fashion 18,15 persen, dan kriya 15,70 persen. Selain itu, industri film tumbuh 10,28 persen, musik 7,26 persen, seni serta arsitektur 6,62 persen, dan game tumbuh 6,68 persen.

”Khusus untuk fashion, perubahannya cukup cepat dalam hitungan bulan, selalu muncul mode fashion baru. Ini tak lepas dari produktivitas para desainer fashion lokal yang inovatif dan kreatif,” jelasnya dalam Workshop dan Sosialisasi Trend Forecasting di Kampus Unnes Sekaran, Gunungpati, kemarin.

Kendati begitu, jelasnya, subsektor ini memiliki tantangan besar. Dalam industri fashion, desainer dalam negeri kurang mendapatkan tempat dan kalah bersaing dengan produk impor atau desainer dari luar negeri. Tantangan lainnya, belum sinerginya industri hulu ke hilir, mulai dari pabrik tekstil atau garmen, perancang busana, sampai pemasaran.

Ia mengaku terus melakukan pendampingan kepada pelaku industri fashion di Indonesia, untuk mendorong sub sektor ini agar semakin besar. Selain itu, berencana mengeluarkan kebijakan untuk mendorong penggunaan karya fashion dalam negeri. Salah satunya melancarkan ketersediaan bahan baku, sampai promosi produk-produk fashion dalam negeri di pasar domestik dan global.

Terpisah Anggota Komisi X DPR RI, Mujib Rohmat menuturkan jika indutsri fashion dalam negeri harus dikembangkan, salah satunya mendorong pemerintah untuk melakukan pendampingan berupa riset, edukasi dan pengembangan industri. “Bisa jadi mempermudah akses dan permodalan, infrastruktur, pemasaran, fasilitasi HAKI dan sertifikasi profesi, hubungan antar lembaga dan wilayah,” tambahnya. (den/ida)