RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Banyaknya permintaan perjalanan umrah, membuat biro umrah bertransformasi menjadi ladang bisnis. Bukan lagi jasa penyalur ibadah, tapi sudah mencari keuntungan finansial dari umat Muslim yang berangkat ke tanah suci. Fenomena inilah bisa menjadi salah satu alasan, banyaknyan biro umrah maupun yang abal-abal.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kanwil Kemenag Jateng, Sholikhin mengakui ada banyak biro umrah tanpa izin yang beroperasi di Jateng. Mereka berperan sebagai pengepul calon jamaah umrah. Ada juga yang menggunakan sistem multi level marketing (MLM) dan skema ponzi.

Dalam skema ponzi, hanya orang yang membayar di awal, dapat berangkat. Sementara, orang yang bergabung belakangan, seringnya tidak bisa berangkat. Pasalnya, uangnya sudah digunakan untuk membiayai orang yang bergabung di awal.

“Modus seperti itu, banyak dilakukan oleh beberapa biro perjalanan yang terjerat kasus penipuan. Mereka pasang tarif murah dengan tujuan menarik sebanyak-banyaknya dana dari calon jamaah. Saat uang terkumpul, dibawa lari atau digunakan untuk hidup mewah,” ujarnya, Rabu (18/4).

Penyelenggara umrah di Jateng yang sudah mengantongi izin resmi, terbilang sedikit. Yang tercatat di Kemenag hanya ada 26 kantor pusat dan cabang ada 35 biro. Sedangkan penyelenggara ibadah haji khusus ada lima untuk kantor pusat dan cabang ada 16 biro. Sementara yang abal-abal, Solikhin mengaku tidak mencatatnya. Menurutnya, biro umroh tidak berizin memang tidak ter-cover di Kanwil Kemenag Jateng.

Mengenai penertiban para pengepul, pihaknya tidak bisa melakukan tindakan langsung. Kanwil Kemenag Jateng hanya bisa menginformasikan kepada seluruh PPIU yang tidak memiliki cabang agar melaporkan kepada Kantor Kemenag. Termasuk kepada Asosiasi PenyelenggaraHaji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) maupun Himpunan Muslim Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh). “Tapi sampai sekarang belum ada laporanyang masuk ke kami. Tapi Insya Allah dengan adanya PPIU yang resmi, mereka tidak akan laku dan akan terseleksi alam oleh kewaspadaan masyarakat,” tegasnya.

Pihaknya mengimbau agar masyarakat yang ingin berumroh agar bisa mengecek biro yang benar-benar terdaftar serta jangan tergiur dengan harga murah. “Jangan hanya tergiur iming-iming harga murah, akhirnya tertipu. Harus diwaspadai biro perjalanan yang menerapkan praktik MLM dan skema ponzi,” jelasnya.

Kepala Cabang Biro perjalanan Umroh dan Haji Mastour Semarang, Jumadi Sastradihardja menambahkan, sebenarnya perlu dicurigai jika ada biro yang menawarkan harga murah. Apalagi di bawah Rp 20 juta. Untuk tiket pesawat saja antara Rp 15 juta hingga Rp 16 juta, belum termasuk visa. Belum lagi hotel, perlengkapan, dan transportasi selama umrah. “Jadi, kalau ada yang menawarkan paket umrah dibawah Rp 20 juta, itu jelas abal-abal dan penipuan,” tegasnya.

Sementara itu, Ekonom dari Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang, Judi Budiman menilai, penyedia jasa umrah sudah berubah menjadi bisnis. Memang, masih ada yang benar-benar murni sebagai pelayanan jasa semata. “Karena banyak permintaan umrah, ini bisa berpotensi dibisniskan. Meraup keuntungan dari mereka yang ingin berengkat umrah,” terangnya. (amh/ida)