Muh Zen Adv (DOKUMEN JAWA POS RADAR SEMARANG)
Muh Zen Adv (DOKUMEN JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-DPRD menyoroti pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 tingkat SMA/SMK di Jateng yang masih menyisakan berbagai masalah bagi dunia pendidikan. Yakni, masalah teknis yang masih menganggu seperti dengan masalah komputer, jaringan internet, listrik sampai server.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Muh Zen Adv mengatakan bahwa selama melakukan pengawasan saat UNBK SMA/SMK, banyak persoalan setiap pelaksanaan UNBK tak terkecuali di Jateng. “Masalah ini setiap tahun terjadi. Bisa jadi ini menunjukkan ketidaksiapan daerah,” katanya.

Ia menambahkan, masalah lain terkait dengan soal matematika dan peminatan lainnya. Banyak siswa yang mengeluh karena kesulitan menjawab. Sebab, ternyata soal UNBK yang ada jauh dari kisi-kisi yang diajarkan guru. “Artinya ada ketidaksinkronan, materi yang diberikan apa, soal yang diberikan apa,” ujarnya.

Semakin majunya teknologi, banyak kalan yang bisa digunakan siswa/siswi untuk mengungkapkan kekecewaanya terkait UNBK. Melalui medsos mereka menulis mulai dengan kata-kata santun sampai dengan kata-kata buruk yang merusak citra karakter siswa itu sendiri. “Yang parah, para guru justru menjadi sasaran untuk di-bully siswa, karena mengajarkan materi sekolah terutama metematika tidak sesuai dengan apa yang diujikan,” tambahnya.

Ketua PGSI Jawa Tengah ini menilai berbagai persolan tersebut harus segera diatasi. Pasalnya, hal itu akan merugikan semua pihak, termasuk siswa yang akan melanjutkan ke jejang pendidikan lebih tinggi dengan menggunakan nilai UNBK sebagai persyaratan masuk. “Kami mendesak kepada Mendikbud agar secepatnya mengambil langkah-langkah strategis dan taktis agar anak tidak dirugikan dari hasil UNBK yang keluar dari materi yang diajarkan. Harus ada evaluasi menyeluruh,” pintanya.

Dewan berharap ke depan pelaksanaan harus lebih maksimal. Selain itu, tidak ada lagi diskriminasi antara sekolah negeri dan swasta. Karena itu, harus dipersiapkan baik sarana prasarana maupun kesiapan siswanya. “Karena sekolah swasta yang masih kekurangan fasilitas, akan menghambat proses belajar-mengajar,” tambahnya. (fth/ida)