BAHAS KTR : Suasana pelatihan Penyusunan Regulasi Kawasan Tanpa Rokok di Grand Artos Hotel Magelang, Selasa (17/4). (Ahsan fauzi/radar kedu)
BAHAS KTR : Suasana pelatihan Penyusunan Regulasi Kawasan Tanpa Rokok di Grand Artos Hotel Magelang, Selasa (17/4). (Ahsan fauzi/radar kedu)

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Jumlah perokok anak atau di bawah usia 18 tahun di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Kesehatan, pada 2015 jumlah perokok di bawah 18 tahun tercatat ada 8,8 persen, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 7,2 persen.

“Target kami, prevalensi perokok usia di bawah 18 tahun menurun menjadi 6,4 persen pada 2016 dan 5,4 persen pada 2019. Namun, kenyataannya saat ini malah meningkat secara signifikan,” kata Kasubdit Penyakit Paru Kronik dan Gangguan Imunologi Kementerian Kesehatan RI, Theresia Sandra Diah Ratih saat mengisi pelatihan Penyusunan Regulasi Kawasan Tanpa Rokok yang diselenggarakan Muhammadiyah Tobbaco Control Centre (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang di Grand Artos Hotel Magelang, Selasa (17/4).

Theresia mengatakan, salah satu faktor mempengaruhi peningkatan perokok aktif pada usia di bawah 18 tahun, yakni murahnya harga rokok dan mudah dijangkau oleh anak-anak. Banyak warung yang menyediakan rokok. Selain itu, ada kebiasaan buruk yang dilakukan orang tua dengan menyuruh anaknya membelikan rokok. “Dengan menyuruh anak membeli rokok tersebut, secara tidak sadar mengajarkan kepada anak untuk merokok. Bahkan ada juga orangtua yang sengaja membelikan rokok kepada anaknya jika mempunyai prestasi belajar di sekolah,” ujarnya.

Faktor lain yang menyebabkan peningkatan jumlah perokok anak yakni tidak tersedianya tempat khusus sebagai kawasan tanpa rokok (KTR). Menurut dia, dari 515 kabupaten/kota yang tersebar di seluruh Indonesia, baru sekitar 260 kabupaten/kota yang telah membuat peraturan larangan merokok di kawasan tertentu. Dari jumlah tersebut, baru 30 persen yang menjalankan aturan dengan efektif.

Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang Eko Muh Widodo mengatakan, terhitung Februari 2018 lalu, UM Magelang telah mendeklarasikan sebagai kawasan tanpa rokok. Deklarasi kawasan tanpa rokok di area kampus Universitas Magelang tersebut tecantum dalam Surat Keputusan Rektor nomor 0176/KEP/II.3.AU/F/2017 tentang Implementasi Program Kawasan Tanpa Rokok. “Kampus UM Magelang menjadi area yang dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan atau mempromosikan produk tembakau sesuai dengan UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,” katanya. (san/ton)