SIAGA BENCANA: Para siswa SMPN 12 Semarang berfoto bersama di sela pelatihan siaga bencana bekerja sama dengan PMI dan American Red Cross. (TIM EKSIS SPEDULAS)
SIAGA BENCANA: Para siswa SMPN 12 Semarang berfoto bersama di sela pelatihan siaga bencana bekerja sama dengan PMI dan American Red Cross. (TIM EKSIS SPEDULAS)

RADARSEMARANG.COM – SOBAT Eksis, Kamis (5/4) lalu menjadi hari bahagia bagi seluruh warga SMP Negeri 12 Semarang. Sebab, sekolah di kawasan Banyumanik itu tengah merayakan hari jadinya ke-39. Pesta ulang tahun pun digelar. Selain stan pameran, juga dimeriahkan penampilan para siswa dan guru. Ada tari tradisional, karawitan hingga penampilan para guru bernyanyi.

“Ini merupakan puncak perayaan ulang tahun, semakin meriah karena siswa kelas IX juga menghias stan yang masuk dalam penilaian ujian sekolah,” ujar Kepala SMPN 12, Drs Suwarno Agung Nugroho MM kepada tim Eksis Radar Semarang.

Agung menjelaskan, sebelum puncak acara tersebut, telah lebih dulu digelar sejumlah rangkaian acara. Di antaranya, pelatihan siaga bencana bekerja sama dengan PMI dan American Red Cross.

“Tentu tujuannya untuk melatih siswa supaya lebih tanggap jika terjadi bencana di sekitarnya. Sehingga tidak perlu menunggu bantuan PMI atau BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), mereka sudah tahu harus bagaimana,” tuturnya.

Kegiatan yang dilakukan antara lain dengan pelatihan menghadapi musibah banjir, angin puting beliung, gempa bumi hingga kebakaran. Pihaknya juga menerima bantuan peralatan, yakni petunjuk jalur evakuasi hingga perlengkapan P3K.

“Diharapkan 50 siswa yang ikut pelatihan itu nantinya menjadi fasilitator kepada teman-temannya yang lain. Itu namanya kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat,” paparnya.

Selain itu, Agung pun mengenalkan jika sekolahnya memiliki sebuah gerakan yang melatih siswanya untuk lebih peduli dengan lingkungan. Dalam hal ini, kaitannya dengan pengelolaan sampah. Nama gerakannya, Gerakan Sekolah Peduli Pengurangan Sampah (Gesek Pesek).

“Sampah di sekolah kita itu kan banyak, lha itu kita lakukan pilah sampah dan sebagainya untuk mengurangi itu. Kemudian kita lakukan pelatihan Ecobrick,” jelasnya.

Agung ingin kegiatan Ecobrick ini menjadi terobosan bagi para siswa. Terbukti, dalam satu hari pelatihan, para siswa kerasan dan bahkan sempat menghasilkan sebuah bangku dari bahan sampah tersebut.

“Tidak sampai di situ saja. Sebagian juga ada yang kita sumbangkan untuk dibuat replika Tugu Muda,” katanya.

Agung berharap, seluruh kegiatan yang digelar di sekolahnya itu dapat memberikan manfaat jangka panjang, baik bagi sekolah maupun para siswa itu sendiri. Ke depan, siswa selain lebih peduli lingkungan, juga jauh lebih tanggap ketika menghadapi bencana. (tsa/aro)