Pemain dan Penabuh Gamelan dari Siswa Sekolah Dasar

142

 ACHMAD ULIL ALBAB, Pati

 PELATARAN Pasar Pragolo penuh. Orang-orang berdesakan mencari tempat paling nyaman. Mereka ingin duduk dan menyaksikan pentas ketoprak. Malam minggu kemarin, bukan ketoprak biasa yang dipentaskan di pasar produk unggulan Kabupaten Pati tersebut.

Nama-nama tenar grup ketoprak Pati yang sering didengar gaungnya juga tidak ada. Seperti Wahyu Budhoyo, Siswo Budhoyo, hingga Wahyu Manggolo. Pentas ketoprak itu dari sekelompok pelajar yang masih SD. Kelas IV hingga VI.

Pentas ketoprak pelajar itu diawali pukul 20.30. Seperangkat gamelan lengkap mulai ditabuh. Lirih dan syahdu bunyi-bunyian tradisional khas Nusantara mengalun perlahan.

Wartawan Jawa Pos Radar Kudus mengira, itu suara rekaman. Atau paling tidak yang membunyikan alat musik orkestra paling lengkap di dunia itu adalah orang dewasa. Namun tidak. Di sebelah kanan panggung, anak-anak usia SD yang membunyikannya. Hanya ada dua orang dewasa yang mendampingi. Sesekali memberi arahan. Tak jarang sedikit menegur. Merekalah pelatihnya. Orang-orang yang menjadi bagian dari gerakan Seniman Masuk Sekolah. Sebuah gerakan inisiasi dari Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten.

Gerakan ini memang tengah berlangsung setahun belakangan. Kepala Bidang Kebudayaan Paryanto pun membenarkan. ”Ini bagian dari upaya kami mencoba melestarikan seni budaya ketoprak,” kata Paryanto.

Seni peran tradisional ini memang lekat dengan Kabupaten Pati. Bahkan, kesenian ini sudah menjadi ikon dari kota yang kerap menyandang slogan Bumi Mina Tani ini. ”Ada banyak grup ketoprak. Kami mencatat ada 35, bahkan bisa lebih,” imbuh Paryanto. Namun, Paryanto menemukan kondisi yang memprihatinkan. Ada ketimpangan regenerasi seniman atau pelaku ketoprak di Pati.

”Saat ini grup ketoprak memang banyak. Mampu bertahan di tengah gempuran hiburan modern. Namun yang menjadi ironi, pelaku atau senimannya sudah banyak orang luar Pati,” ucapnya di sela-sela pementasan yang mengambil lakon Babad Pati, seri Rambut Pinutung itu. Sebuah lakon yang mengisahkan berdirinya Kabupaten Pati kurang lebih hampir 5 abad silam.

Paryanto menganggap ini darurat. Regenerasi mesti diperbaiki, didapatlah ide itu. Seniman diprogramkan untuk melatih kesenian anak-anak SD. Hasilnya kini lumayan. Sudah ada beberapa SD yang bisa diandalkan untuk pementasan ketoprak.

Selain SD Sarirejo 3 yang malam itu pentas, masih ada lagi. ”Kini sudah banyak. Seperti di Desa Kudur, Kecamatan Winong, itu ada SD yang ketopraknya bagus. Selain itu di Batangan, Tambakromo, dan Cluwak, juga ada SD yang memiliki grup ketoprak pelajar,” terang Paryanto.

Munculnya ketoprak pelajar memang tak lepas dari peran seniman yang menyempatkan waktunya untuk berbagi ilmu di sekolah. Memang, Paryanto kembali berkisah, butuh ketelatenan untuk melakukan hal tersebut.

”Banyak tantangannya. Di usia anak-anak, untuk menerima latihan ini cukup sulit. Seperti penguasaan Bahasa Jawa lama. Di kehidupan sehari-hari kosa kata lama tersebut jarang bahkan nyaris tak pernah digunakan. Itu menjadi bagian yang lumayan sulit, terlebih untuk diterapkan pada anak-anak,” kata Paryanto.

Meski begitu, semangat untuk membumikan seni budaya ketoprak ini tak pernah surut. Apalagi dukungan sangat besar mengalir. Dukungan moril utamanya. Saat latihan tak hanya anak-anak yang antusias. Melainkan orang tuanya, bahkan rela menunggui saat anaknya berlatih. 

(ks/lil/top/JPR)

Silakan beri komentar.