Neraca Perdagangan Jateng Defisit

386

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Neraca perdagangan Jawa Tengah pada Maret lalu mengalami defisit sebesar US$ 487,69 juta. Hal ini disebabkan oleh besarnya impor migas.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Sri Herawati mengatakan, nilai ekspor provinsi ini pada Maret mencapai US$ 571,54 juta. Sedangkan nilai impor mencapai US$ 1.059,23 juta.

“Impor hampir dua kali lipat dari ekspor. Terbesar impor migas, mencapai US$ 524, 69 juta atau naik 7,72 persen dari bulan Februari. Sedangkan impor non migas mengalami penurunan 20,17 persen. Yaitu dari US$ 669,58 juta pada Februari menjadi US$ 534,54 juta pada Maret,” ujarnya, kemarin.

Selain migas, lanjutnya, Jateng juga cukup banyak mengimpor bahan baku untuk industri, baik makanan minuman maupun industri olahan. Menurutnya, impor bahan baku industri ini masih dalam taraf baik. Namun perlu ada kesadaran dari masyarakat bila sekedar mengimpor barang-barang jadi yang juga diproduksi dalam negeri.

Meski neraca masih defisit, lanjutnya, ekspor Jawa Tengah di bulan Maret mengalami peningkatan US$ 571,44 juta atau 12, 26 persen dibandingkan Februari. Begitu juga bila dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, ekspor Maret meningkat 9,13 persen.

Non migas berkontribusi cukup besar dalam ekspor Jawa Tengah. Yaitu sebesar US$ 544, 60 juta. Sedangkan ekspor migas sebesar US$ 26,94 juta.

“Untuk ekspor non migas saat ini yang dominan industri tekstil , kayu dan barang hasil pabrik. Dengan negara tujuan Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok,” ujarnya. (dna/ric)