MERADANG: Ketua DPRD Kota Salatiga, Teddy Sulistio (kiri) saat menemui Sekda Fakhurroji diruang kerjanya untuk menyerahkan palu pimpinan sidang sebagai bentuk protes terhadap Eksekutif. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERADANG: Ketua DPRD Kota Salatiga, Teddy Sulistio (kiri) saat menemui Sekda Fakhurroji diruang kerjanya untuk menyerahkan palu pimpinan sidang sebagai bentuk protes terhadap Eksekutif. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Suasana ayem antara eksekutif dan legislatif ternyata hanya seumur jagung. Kemarin pagi, ketua DPRD Salatiga Teddy Sulistio meradang setelah mengetahui adanya kesepakatan dalam pembahasan bersama APBD yang tiba–tiba dicoret tanpa sebab. Ia protes keras. Palu sidang sebagai lambang supremasi dan legitimasi DPRD dikembalikan kepada Wali Kota.

“Kita kembalikan palu sidang agar mereka bisa mengesahkan sendiri. Masak kegiatan yang sudah disahkan dan disepakati bersama antara tim anggaran eksekutif dan badan anggaran DPRD tiba–tiba dicoret semaunya sendiri setelah paripurna pengesahan,” cetus Teddy Sulistio saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, kemarin pagi.

Palu sidang itu dikembalikan Teddy kepada Wali Kota. Namun Wali Kota Yuliyanto tidak berada ditempat dan kemudian dititipkan kepada sekretaris daerah (Sekda) Fakhurroji diruang kerjanya. Sekda juga tidak bersedia menerima dan akhirnya palu ditinggal diruangan kerja sekda.

Kemarahan ketua DPRD ini dipicu oleh proyek pembangunan pemakaman umum di kecamatan Argomulyo, tepatnya di Kumpulrejo senilai Rp 10 miliar. Ketua komisi C (Pembangunan) DPRD Kota Salatiga M Kemat menuturkan, rencana pembangunan itu merupakan usulan dari eksekutif dan sudah disepakati bersama. Namun setelah diperdakan, malah hilang. “Ini merupakan pelanggaran serius karena sudah di Perda-kan. Kita akan lacak lebih detil lagi, sebelum dipastikan langkah tindak lanjutnya,” terang Kemat.

Kemat menceritakan, sebelumnya seluruh kegiatan di Kota Salatiga sudah dibahas bersama antara tim anggaran dan badan anggaran. Seluruh kegiatan dan juga usulan masyarakat dari musrenbang disepakati bersama dan akhirnya menetapkan Rencana APBD. Salah satu pekerjaan yang disepakati adalah pembangunan pemakaman umum di Argomulyo.“Salatiga baru memiliki dua pemakaman umum yakni Sidomukti dan Tingkir. Harapannya di semua kecamatan memiliki satu pemakaman umum karena ini sangat diperlukan,” terang Kemat.

Pada alokasi sebelumnya, Pemkot telah membuat jalan akses masuk ke makam. Bahkan tim pemkot dari dinas Perkim disebutnya telah melakukan kajian dan menyodorkan angka Rp 10 miliar untuk pembangunan makam.

Dilanjutkan Kemat, DPRD tidak mengetahui jumlah anggaran secara detail karena semua diserahkan ke tim teknis. DPRD menyetujui dengan catatan Eksekutif harus bertanggungjawab merealisasikan agar tidak ada Silpa. Kemudian, harus dilakukan survei lapangan pembebasan lahan dan semuanya disetujui oleh perkim.

Ketua fraksi PDIP Suniprat menambahkan, pihaknya heran karena semua sebenarnya telah disepakati dan disampaikan ke gubernur. Namun setelah disetujui, ternyata item itu di DPA tidak muncul. “Jika ada yang menyalahi aturan, maka harus dibicarakan dan tidak serta merta main pangkas. Akan kita evaluasi seluruh anggaran,” tegas Suniprat. (sas/bas)