Peminjam Terbesar Perusahaan Logistik dan IT

Pinjam Meminjam Uang Lewat Fintech Booming

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

Layanan Pinjam Meminjam Uang Langsung Berbasis Teknologi Informasi atau Peer to Peer Lending (P2P) Financial Technology (Fintech) saat ini sedang booming. Ini merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang tak dapat dihindarkan. Bahkan pertumbuhannya sangat luar biasa.

RADARSEMARANG.COM – FINTECH sebenarnya ada berbagai macam jenis seperti payment, clearing, dan settlement, e-aggregator, manajemen risiko dan investasi, dan peer-to-peer (P2P) lending. Namun yang lagi booming saat ini adalah pinjam meminjam uang langsung.

Saat ini, masih banyak kue yang bisa dibagi di industri P2P Lending Fintech. Karena masih ada potensi sebesar Rp 1.000 triliun pada pembiayaan di Indonesia yang belum terlayani. Apalagi setelah dikeluarkannya Peraturan OJK nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi untuk mengakomodasi aturan, prosedur, dan tata cara yang jelas terhadap para pelaku usaha P2P lending dalam memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat luas. Kini semakin banyak penyedia platform P2P lending yang terdaftar di OJK. Seiring dengan itu, maka tingkat kepercayaan masyarakat juga lebih tinggi. Bahkan, semakin banyak platform serupa yang bermunculan dengan menghadirkan produk unggulan yang berbeda-beda.

Co-Founder & CEO PT Investree Radhika Jaya, Adrian Gunadi mengungkapkan Fintech P2P lending, mulai mendapatkan perhatian dari masyarakat Indonesia sekitar 2 tahun lalu. Di tahun 2016, tepatnya Mei, Investree melakukan soft launching dengan perolehan angka pinjaman terdanai sebesar Rp 53 miliar pada Desember 2016. Saat itu, masih sedikit pemain P2P lending yang bergabung bersama Investree, serta 2 pemain lainnya yang berasal dari Singapura dan Malaysia.

“Investree merupakan peer-to-peer lending platform/ marketplace yang telah resmi terdaftar dan diawasi oleh OJK sejak 31 Mei 2017. Di Investree sendiri, angka pertumbuhannya sangat signifikan,” jelas Adrian yang juga Vice Chairman Fintech Association Indonesia (FAI).

Dijelaskan, pada Desember 2016, jumlah pinjaman yang terdanai Investree mencapai Rp 53 miliar. April 2018 ini, jumlah pinjaman yang sudah terfasilitasi yakni IDR 737 miliar dengan pinjaman yang sudah terdanai telah mencapai Rp 586 miliar atau naik lebih dari 10 kali lipat.

Begitu pula angka Pemberi Pinjaman (Lender) dan Penerima Pinjaman (Borrower) yang bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini membuktikan bahwa semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan P2P lending untuk mengembangkan ekonomi individu dan bisnis serta ingin bergabung dalam animo tersebut.

Ini berbeda dengan perbankan. Di P2P lending, tidak menghimpun dana layaknya bank. Proses transaksi dilakukan oleh bank rekanan sehingga fungsi Investree murni hanya sebagai marketplace yang menghubungkan antara Lender dan Borrower. Intinya, Investree sebagai P2P platform akan membantu mengamankan hubungan antara Lender dan Borrower, sehingga keduanya dapat sama-sama menikmati keuntungan: return yang atraktif untuk Lender dan pinjaman berbunga kompetitif untuk Borrower. “Sampai hari ini, di Investree terdapat 2000-an Borrower Bisnis dan 1000-an Borrower Perorangan/Karyawan yang terdaftar,” katanya.

Terkait caranya meminjam, jelasnya, Investree menyediakan beberapa jenis pinjaman, menyesuaikan dengan target market yaitu Invoice Financing untuk para UKM berbadan hukum yang memiliki tagihan ke perusahaan lain. Ada pula pinjaman usaha Online Seller (Fast Track Loan) bagi para UKM yang berbadan hukum dan memiliki toko online aktif di e-commerce rekanan Investree dan Employee Loan yang merupakan pembiayaan karyawan yang dapat diajukan bagi karyawan yang perusahaan tempat bekerjanya sudah menjadi rekanan Investree. “Oleh karenanya ada sedikit perbedaan dalam pengajuannya, menyesuaikan dengan kebutuhan penilaian analisa risiko kreditnya,” jelasnya.

Terkait bunga pinjaman, diakui Adrian, Investree memiliki rentang tingkat bunga mulai dari 12 persen per tahun hingga 20 persen per tahun sesuai dengan hasil Analisa kredit pinjaman yang dilakukan.

Sejauh ini, portofolio peminjam Investree di Jawa Tengah paling banyak berasal dari perusahaan dengan kategori perusahaan logistik dan penyedia jasa/barang Teknologi Informasi (TI) ke pemerintahan. “Kami merasa bahwa potensi pasar paling besar masih berada di kategori tersebut. Namun kami ingin memaksimalkannya terlebih dahulu,” tandasnya.

Telkomsel juga mengelola pembayaran berbasis fintech, yakni melalui T Cash. CEO T Cash, Danu Wicaksana mengungkapkan bahwa T Cash merupakan perusahan fintech dalam kategori pembayaran. “Sedangkan layanan pinjam meminjam belum menjadi fokus kami, karena masih akan dikembangkan di masa mendatang,” katanya.

Dalam layanan finansial, jelasnya, T Cash mengembangkan kerjasama strategis akun ketersambungan T Cash dan BTPN Wow yang terjalin sejak 2016. “Dengan inisiatif ini, kami berharap dapat mendukung visi pemerintah untuk mempercepat pencapaian inklusi keuangan,” katanya.

Lain halnya dengan Muhammad Fuad Hasbi, Co-Founder Tumbas.in, sebuah startup di Semarang tertarik saat ini menjajaki bisnis fintech. ”Karena kebutuhan ibu-ibu untuk lebih mudah bertransaksi, kami mencoba mengembangkan pembayaran berbasis teknologi,” ujarnya.

Tumbas.in, startup yang ia jalankan, bergerak di e-commerse yang membelanjakan kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional, terutama ibu-ibu dengan segudang pekerjaan. Sudah satu tahun startup ini dijalankan dengan 7000 pengguna. Pengguna aktif sekitar 1500 orang di Semarang.

Sementara itu, OJK mencatat layanan pinjam meminjam uang langsung (P2P Lending Fintech) hingga Februari 2018, secara nasional total pinjaman yang disalurkan oleh perusahaan Fintech mencapai Rp 3,54 triliun. Jumlah tersebut meningkat 38,23 persen dari posisi akhir tahun 2017 lalu. Begitu juga dengan jumlah penyedia dana yang mencapai 128.119 meningkat 26,93 persen, serta jumlah peminjam yang melonjak hingga 110,56 persen yaitu sebanyak 546.684.

Sedangkan untuk Jateng sampai Februari 2018, tercatat jumlah pemberi pinjaman sebanyak 8000 orang dengan transaksi sebesar Rp 66,6 miliar. Kemudian jumlah peminjam sebanyak 22.000 orang dengan transaksi sekitar Rp 218,8 miliar.

“Karena itu, kami berusaha mengakomodir, agar ke depan Fintech dapat berjalan beriringian dengan lembaga jasa keuangan lainnya,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jateng-DIJ, Bambang Kiswono.

Selain itu, Fintech juga dinilai membantu pemerintah dalam program inklusi keuangan, dengan menjadi alternatif pembiayaan bagi mereka yang selama ini tidak bankable. Segmentasi inilah yang menjadi pasar terbesar Fintech.

Namun demikian, ia mengharapkan untuk bunga agar tidak terlalu tinggi. Memang, dengan keunggulan kecepatan prosedur bahkan mengakses masyarakat yang tidak bankable, maka risiko juga tinggi. Sehingga untuk bunga juga tinggi. “Untuk Fintech, sejauh ini kami juga tidak mengatur bunga. Hanya saja, kami harapkan tidak terlalu tinggi, karena dapat berisiko pada NPL atau kredit macet yang juga tinggi,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, Fintech sekarang relative baru dan sedang berkembang. Hingga April 2018, yang sudah terdaftar di OJK sebanyak 43 Fintech layanan pinjam meminjam konvensional dan 1 Fintech Syariah. “Memang sekarang sedang berkembang dan kemungkinan jumlahnya bertambah. Sehingga jika bunga terus menerus tinggi, maka tidak akan laku, karena jumlah Fintech semakin banyak,” ujarnya.

Terkait alternative pembiayaan baru ini pun, pihaknya telah mengeluarkan POJK No.77/POJK.01/2016. Dalam waktu dekat juga akan kembali dikeluarkan peraturan terkait Fintech, dengan tujuan melindungi konsumen. “Di pusat sedang dikaji. Akhir semester pertama ini diperkirakan akan dikeluarkan lagi peraturan terkait Fintech,” ujarnya. (dna/sga/ida)

 

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -