75 Pengantin Resepsi Masal

383
BERSYUKUR– Puluhan pasang pengantin mengikuti resepsi masal yang digelar oleh Pemda Batang dalam agenda isbat nikah masal dalam rangka HUT ke-52, Minggu (15/4). (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
BERSYUKUR– Puluhan pasang pengantin mengikuti resepsi masal yang digelar oleh Pemda Batang dalam agenda isbat nikah masal dalam rangka HUT ke-52, Minggu (15/4). (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, BATANG– Wajah cerah dan bahagia terpancar dari 75 pasangan nikah masal yang mengikuti prosesi resepsi pernikahan   di Pendopo Kabupatan Batang. Sebelum menggelar resepsi di Pendopo Kabupaten Batang, mereka diarak dari kediaman rumah dinas Bupati Batang menuju ke tempat pelaminan, Minggu (15/4).

Turut mengiringi arak-arakan pengantin, grup rebana Bupati Batang Wihaji bersama Wakil Bupati Suyono, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan pejabat di lingkungan pemerintah daerah. Mendekati pendopo mereka disambut iringan tembang Kebogiro dari Karawitan Ngaku Salah.

Setelah di pendopo seluruh pasangan pengantin langsung mengikuti prosesi resepi. Dari penyerahan secara simbolis buku dan akta nikah, sambutan daribupati, siraman rohani dari KH Duari Asy’ari  dari Semarang dan ditutup dengan hiburan dari campursari Ngaku Salah pimpinan Bupati Wihaji.

Bupati Wihaji menjelaskan, kegiatan isbat masal tersebut dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 tahun Pemerintah Kabupaten Batang.  Ditujukan kepada pasangan suami istri yang telah lama menikah, namun terkendala dalam pencatatannya.

Isbat Nikah sudah dimulai sejak dua bulan sebelumnya, dimulai dari pendaftaran calon peserta isbat, yang dilakukan oleh KUA kecamatan se Kabupaten Batang, verifikasi data oleh panitera pengadilan agama.

“Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama yang baik dari Bupati Batang, Pengadilan Agama dan Kementerian Agama Kabupaten Batang. Juga merupakan bentuk kecintaan pemerintah kepada rakyatnya, agar tercatat secara hukum pernikahannya,” ucap bupati.

Selama ini ada beberapa pasangan nikah sirih yang secara negara statusnya tidak jelas atau belum tercatat. Untuk itu, kewajiban Pemkab melayani, sekaligus membantu mereka bila suatu saat ada permasalahan hukum sudah dilindungi oleh negara legalitasnya.

Pasangan suami istri yang telah menerima kutipan akta nikah dari KUA kecamatan, anak yang telah lahir dari pernikahan itu dapat dimintakan akta kelahiran di catatan sipil. Maka konsekuensi hukum negara atas pernikahan itu dapat tersambungkan baik status anak, waris dan sebagainya.

Dalam nikah masal ini memang ada yang gratis, namun ada beberapa pasangan nikah yang mampu dikenai biaya Rp 200 ribu untuk resepsi pernikahan. (han/lis)