MENJAGA KERUKUNAN: Presiden Joko Widodo saat menghadiri acara Silaturahim Penyuluh Agama Provinsi Jawa Tengah di Lapangan Pancasila Semarang, Sabtu (14/4). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA KERUKUNAN: Presiden Joko Widodo saat menghadiri acara Silaturahim Penyuluh Agama Provinsi Jawa Tengah di Lapangan Pancasila Semarang, Sabtu (14/4). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) berjanji mengupayakan kenaikan honor penyuluh agama hingga dua kali lipat. Kenaikan baru akan dilakukan maksimal tahun depan melalui persetujuan DPR RI.

Kenaikan dirasa penting, sebab honor yang diterima para penyuluh agama, terutama yang non PNS masih rendah. Padahal, tugas yang diemban para penyuluh agama cukup berat, terjun di tengah masyarakat untuk mengajak menjaga persatuan serta kerukunan dalam kehidupan.

”Penyuluh agama telah berperan menjaga persatuan dan kerukunan seluruh umat di tanah air. Saya tahu pemerintah belum memberikan apresiasi,” ujar Jokowi di hadapan 5.711 penyuluh agama diikuti riuh tepuk tangan dan senyum para penyuluh agama dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah seakan menerima sinyal kenaikan honor.

Kenaikan honor ini merupakan bentuk apresiasi Jokowi atas pengorbanan para penyuluh agama kepada agama dan bangsa dengan komitmen dan semangat menjaga persatuan. Hal ini pula yang membuat Indonesia menjadi negara yang selalu disanjung karena mampu memberikan contoh kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

”Tentu karena Indonesia memiliki ulama, tokoh agama yang selalu mengajarkan kerukunan, toleransi, dan mengedepankan dialog penuh kesabaran,” tegas pria asal Solo ini dalam acara Silaturahim Penyuluh Agama Provinsi Jawa Tengah bersama Presiden Republik Indonesia 2018 di Lapangan Pancasila, Semarang, Sabtu (14/4).

Jokowi menambahkan, agama dan negara harus berjalan beriringan. Negara memberikan perlindungan keyakinan beragama. Sementara agama memberikan petunjuk bagaimana menjalankan kehidupan di masyarakat. Sehingga menjadi tugas para penyuluh agama untuk selalu mengingatkan masyarakat betapa pentingnya ukhuwah dan persatuan.

”Selalu ingatkan masyarakat betapa nikmatnya perdamaian, kerukunan dan persatuan,” pesan mantan Gubernur DKI Jakarta ini kepada seluruh penyuluh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu.

Pada acara yang juga dihadiri Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno, dan Ketua Umum MUI Pusat Ma’ruf Amin ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut para penyuluh agama sebagai tulang punggung kementerian selain para guru, dosen, penghulu dan yang lainnya. Penyuluh agama merupakan penyambung lidah antara pemerintah dengan masyarakat. Melalui penyuluh agama, aspirasi masyarakat dapat diserap untuk kemudian ditindaklanjuti. Posisi penyuluh agama sangat strategis.

Saat ini jumlah penyuluh agama ada sekitar 8.000-an. Jumlah ini diharapkan mampu membawa masyarakat lebih damai terlebih di tahun politik dengan eskalasi yang terus meningkat.

”Tahun ini ada 171 pilkada, ditambah tahun depan ada pemilihan legislatif dan presiden. Untuk itu, kepada para penyuluh agama kami meminta untuk tetap memperhatikan sembilan seruan kementerian agama, bagaimana para penceramah menyampaikan hal-hal yang perlu disampaikan di tengah-tengah masyarakat,” ujar Lukman Hakim sambil berharap kerukunan dan persatuan di Indonesia dapat terus terpelihara.

Seperti kondisi di Jawa Tengah, disampaikan Plt Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko, tetap aman damai meskipun dalam proses pilkada. Hal ini tak lain karena peran seluruh masyarakat Jateng dan juga para penyuluh agama yang tersebar di seluruh desa. ”Beliau-beliau ini langsung berhadapan dengan masyarakat.  Izinkan kami mengapresiasi keberadaan beliau di tengah-tengah masyarakat,” ucapnya. (sga/aro)