Hafalkan dengan Pola Kemiripan Huruf

76
Oleh: Widyastuti SS MPd
Oleh: Widyastuti SS MPd

RADARSEMARANG.COM – MATERI hari ini adalah mempelajari aksara Jawa. Begitu mendengar guru mengatakan kompetensi dasar yang berhubungan dengan aksara Jawa sebagian peserta didik akan hilang semangatnya karena merasa kesulitan mempelajari materi tersebut. Keadaan kelas akan ramai banyak peserta didik yang berkeluh kesah dan sudah mempunyai pandangan negatif “tidak bisa”.

Pelajaran dengan materi yang kurang menarik akan mengurangi antusias peserta didik mengikuti pelajaran. Suasana belajar mengajar juga kurang menarik dan membosankan. Hal ini akan berdampak pada hasil akhir yaitu pada saat penilaian maupun ulangan harian banyak anak yang remidi. Pemberian tugas juga tidak maksimal.

Mempelajari aksara Jawa memang memerlukan hafalan dan kecermatan. Peserta didik yang mempunyai kendala menghafal huruf memang membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajarinya meskipun dari SD sudah diajarkan. Namun ada acara jitu untuk membantu peserta didik untuk memahaminya yaitu dengan pola kemiripan huruf.

Aksara Jawa yang terdiri atas 20 huruf, yaitu Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, Ma Ga, Ba, Tha, Nga. Dalam menghafalkannya tidak harus dengan cara berurutan, tetapi dengan cara acak. Peserta didik menghafalkan huruf yang mirip. Secara tidak langsung metode ini mengajarkan ketelitian dan kecermatan.

Aksara Carakan

Menghafalkan carakan dengan membagi tiga huruf yang sama Ca Ra Ka – Pa Ha La – Na Ka Da. Empat huruf yang sama: Wa Ta Dha Ca – Ba Nya Tha Nga, kemudian yang berbeda, yaitu Sa Ja Ma.

Peserta didik disuruh menghafalkan tiga huruf yang sama dulu, kemudian empat huruf yang sama kemudian baru tiga huruf yang berbeda. Peserta didik mencermati dan menulis secara berulang tiga atau empat kali. Kemudian berlatih menulis kata 5 -10 kata.

 Aksara Pasangan

Menghafalkan 3 huruf pengecualian dulu yaitu yang penulisannya diatas (sejajar dengan huruf yang carakan), yaitu pasangan Ha Sa Pa kemudian baru menghafalkan pasangan yang lain. Dimulai dari pasangan yang sama dengan aksara carakan, yaitu Ra Ga Ya Nga. Kemudian 3 aksara yang sama, yaitu Ka Ta La, Ca Ja Ba, dan aksara yang mirip dengan huruf latin C, yaitu Ma Wa; mirip huruf latin W, yaitu Dha Tha; mirip huruf latin J, yaitu  Na, Nya; mirip huruf L, yaitu Da. Sama dengan carakan peserta didik mencermati dan menulis secara berulang 3 atau 4 kali. Kemudian latihan kalimat 3-5 kalimat.

Mempelajari dengan pola kemiripan memudahkan peserta didik untuk mengingatnya. Menulis aksara Jawa pasti acak tidak mungkin berurutan Hanacaraka dan seterusnya. Peserta didik menulis kata maupun kalimat akan mudah, karena tidak terpancang menghafal carakan dengan berurutan. Begitu juga ketika membaca Aksara Jawa mereka akan bisa cepat membaca.

Belajar dengan metode yang sederhana memudahkan peserta didik cepat memahami. Guru memang harus telaten dalam membimbing pada awal pembelajaran, namun seterusnya peserta didik akan asyik dengan sendirinya. Peserta didik yang sudah pandai menghafal aksara Jawa memang akan senang dengan materi ini.

Aksara Jawa diharapkan tetap eksis seperti huruf Kanji Jepang maupun Hangeul Korea. Masyarakat Jepang dan Korea sangat menghargai dan bangga akan huruf yang mereka punyai. Masyarakat Jawa diharapkan juga bangga mempunyai aksara Jawa, maka mereka harus senang mempelajarinya. Aksara Jawa jangan sampai hilang dari tanah Jawa, sebisa mungkin tetap lestari jangan sampai punah atau bahkan berkembang di negara lain. Salah satu cara tetap mengembangkannya dengan memberikan materi menulis dan membaca aksara Jawa pada tingkatan SD, SMP maupun SMA.

Mengingat banyak naskah kuno yang ditulis menggunakan aksara Jawa dan mempunyai nilai sejarah tinggi, maka aksara Jawa harus terus dikenalkan. Generasi mendatang tetap bisa memahami sejarah negerinya. Jangan sampai yang tertarik mempelajarinya orang-orang asing, sehingga pada masa yang akan datang justru kita yang akan belajar dari mereka.

Mengenalkan huruf dengan memberikan celah kemudahan kepada peserta didik akan menumbuhkan minat untuk mempelajarinya. Peserta didik tidak akan merasa terpaksa maupun tertekan dalam belajar. Siapa lagi yang akan menjaga keberadaan dan kelestariannya kalau bukan generasi selanjutnya. Pemberian rangsangan dan motivasi agar semangat belajar dan mencintai kebudayaan milik daerahnya sangat penting dalam pembelajaran. (tj3/2/aro)

Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 1 Kertek Wonosobo

 

Silakan beri komentar.