Bibir Jurang Jadi Favorit, Meski Tanpa Ada Pengaman

Spot-Spot Selfie Mengundang Bahaya

419

BERBAHAYA: Seorang pengunjung berselfie di bibir jurang dengan latar belakang Cemoro Sewu, Gumuk Reco, Desa Sepakung, Banyubiru, Kabupaten Semarang. (EKO WAHYU BUDIYANTO/NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Banyak spot selfie di lokasi pariwisata yang kurang memperhatikan keamanan hingga membahayakan pengunjung. Apalagi spot selfie yang berada di bibir jurang atau tempat dengan ketinggian. Saat ini memang belum muncul korban, namun bisa jadi bangunan spot selfie yang hanya dibuat dari bambu atau papan kayu tersebut bisa rapuh. Hal itu perlu diingatkan sedini mungkin, agar para pengelola objek wisata yang selalu menjadi viral di media sosial ini memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga keamanan bersama. 

SAAT ini, keberadaan setiap objek wisata selalu menawarkan tempat selfie yang menarik dan istagramable. Tempat-tempat itu yang selalu menjadi incaran para pengunjung. Khususnya, pengunjung usia muda. Berfoto selfie di atas ketinggian menjadi hal yang paling dicari pengunjung.

Karenannya, setiap pengelola tempat wisata berlomba-lomba menambahkan fasilitas tempat selfie untuk mendongkrak pengunjung. Seperti yang dilakukan pengelola objek wisata Gumuk Reco, Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.

Kades Sepakung, Ahmad Nuri, mengatakan, tempat selfie paling diminati oleh para pengunjung di tempat wisata tersebut adalah spot sangkar burung yang berada di Gumuk Reco. Berada di tebing Telomoyo dengan ketinggian 150 meter, sangkar burung seakan menjadi magnet bagi wisatawan.

Meski termasuk kategori berbahaya, namun ratusan pengunjung rela antre hanya untuk mengabadikan momen menggunakan kamera ponsel. Mereka berpose di atas sangkar burung yang dipasang di bibir bukit. “Terbuat dari kayu yang dianyam sedemikian rupa menyerupai sangkar burung,” kata Nuri kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (14/4).

Akar kayu yang di anyam tersebut kemudian ditopang dengan kayu yang lebih besar. Tujuannya untuk memperkokoh tumpuan sangkar burung. Melalui sangkar burung tersebut, foto yang dihasilkan cukup bagus. Latar belakang tebing Telomoyo dan area persawahan yang luas menjadikan hasil foto seolah-olah sangkar burung benar-benar di atas awan. Adapun diameter sangkar burung tersebut sekitar 1,5 meter.  “Ketika hari libur, ratusan pengunjung antre hanya untuk berfoto di situ,” ujarnya.

Nuri mengklaim jika tempat selfie sangkar burung tersebut aman bagi pengunjung. Hal itu terbukti jika sampai saat ini tidak ada korban yang jatuh saat berfoto di sangkar burung tersebut.

“Ada 4 titik top selfie di Gumuk Reco. Tiga di antaranya telah dipasang pengaman berupa pagar, sedangkan di sangkar burung belum ada,” katanya.

Ia mengatakan, meski berbahaya, namun hal itu menjadi daya tarik bagi pengunjung. Bahkan, pengunjung rela mengantre hanya untuk berfoto di tempat itu. “Kalau weekend ada 300 – 400 pengunjung datang ke Gumuk Reco. Setiap pengunjung gratis apabila ingin berfoto di atas sangkar burung tersebut,” ujarnya.

Selain Gumuk Reco, destinasi wisata lain di Desa Sepakung, yakni Cemoro Sewu. Letak Cemoro Sewu berada di atas Gumuk Reco. Dari Gumuk Reco, pengunjung menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit. Di tempat tersebut juga disediakan tempat selfie dari atas ketinggian. Ada 8 tempat selfie yang disediakan oleh pihak pengelola.

Adapun tempat selfie yang paling banyak dimanfaatkan pengunjung, yakni tebing batu. Berada di ketinggian 250 meter, tebing batu tersebut menjadi spot favorit pengunjung. “Latar belakang pemandangannya kan hutan pinus, dan itu bagus sekali,” katanya.

Meski begitu, tempat selfi tebing batu ini juga tidak dilengkapi pengaman. Namun hal itu justru menjadi daya tarik bagi pengunjung. Untuk berpose di tebing batu tersebut, pengunjung harus melintasi medan ekstrim. Aksesnya masih bebatuan. Berbahaya setiap habis diguyur hujan. Selain licin, untuk menuju tebing batu juga tidak dilengkapi fasilitas meniti bambu. Sehingga berbahaya, apalagi aksesnya di lereng tebing. “Ya, memang harus berhati-hati karena berbahaya,” ujarnya.

Setiap akhir pekan, jumlah pengunjung di Cemoro Sewu rata-rata 700 orang. Setelah membayar tiket masuk, mereka bebas menikmati wahana yang ada. Termasuk tempat selfie. Meski berbahaya, Nuri mengatakan jika sampai saat ini tidak ada korban yang jatuh saat berpose di tebing batu.

Namun pihak pengelola tetap mewanti-wanti setiap pengunjung untuk berhati-hati. Adapun pengelola tempat wisata di Sepakung adalah Pokdarwis setempat. “Kita rencana juga mau buka tempat wisata baru lagi. Yakni, air terjun Kedung Macan, namun masih kita tata,” katanya.

Objek wisata lain di Kabupaten Semarang yang juga memiliki tempat selfie di atas ketinggian adalah Lereng Kelir, Desa Brongkol, Kecamatan Jambu. Setidaknya ada lima titik selfie di atas ketinggian yang disediakan oleh pihak pengelola.

Ketua Pokdarwis Lereng Kelir, Imam Syahroni, 25, mengatakan, jika tempat selfie di atas ketinggian menjadi lokasi favorit pengunjung. “Dari lima titik, tiga di antaranya memang tidak dilengkapi pengaman,” ujarnya.

Tidak adanya pengaman di tiga titik tersebut memang disengaja oleh pihak pengelola. Sebab, ini untuk mewadahi pecinta spot selfie ekstrem. “Berada di pohon dan memang tidak ada pengamannya,” katanya.

Spot selfie ekstrim tersebut sangat menantang. Berada di lereng tebing dengan ketinggian 10 meter. Dikatakan Imam, khusus untuk tempat selfie ekstrim pihaknya selalu mengingatkan para pengunjung untuk berhati-hati. “Jangan foto di pinggir, dan jangan gegojegan di tempat tersebut karena tidak ada pengamannya,” tuturnya.

Meski berbahaya, namun animo pengunjung sangat besar. Pihak pengelola menarik retribusi sebesar Rp 5 ribu pada hari biasa, dan Rp 7 ribu pada hari libur. (ewb/aro)