Berlakukan Aturan Ketat Bagi Pengunjung

238

RADARSEMARANG.COM – DIGENJOTNYA pariwisata Kota Semarang, membuat sekelompok masyarakat Dusun Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang membuat objek wisata yang instagramable. Objek wisata ini memadukan kreativitas dan keindahan alam yang ada di kawasan Goa Kreo dan Waduk Jatibarang.

Masyarakat Talunkacang sendiri membuat beberapa spot-spot selifie di belakang rumah yang saat ini digemari masyarakat, seperti spot selfie Negeri di Atas Awan, Rumah Pohon, dan Balon Udara, dengan latar Waduk Jatibarang yang mempesona.

Meski unik dan menarik, sayangnya faktor keamanan kerap diindahkan. Sebab, spot selfie tersebut masih terbuat dari bambu, dan tanpa pagar pengaman. Padahal kanan-kirinya merupakan jurang yang cukup dalam.

“Meski masih tradisional, kami memberlakukan aturan dan pengawasan yang ketat bagi para pengunjung. Tujuannya, agar tidak jatuh korban. Alhamdulillah selama hampir satu tahun beroperasi, belum ada korban,” kata pemilik spot selfie “Negeri di atas Awan,” Tumadi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria yang juga menjadi sesepuh sekaligus pengurus tim penggali potensi kampung ini mengaku, rata-rata dari 5 spot selfie yang ada di Talunkacang menggunakan material bambu. Idealnya, memang menggunakan beton atau material besi yang lebih kuat. Namun untuk mencegah terjadinya kecelakaan, setiap wahana yang ada dibatasi maksimal 10 orang, dan setiap harinya dilakukan pengecekan pilar agar tidak memakan korban.

“Memang dari bambu, soalnya kalau bikin dari cor dan kaca biayanya mahal. Masalah pinggirnya memang tidak dikasih pagar, soalnya kalau dikasih pagar pemandangannya malah tidak kelihatan. Namun dari segi keamanan, dibilang aman karena dilakukan pengecekan,” ujarnya.

Ia mengaku sebelumnya, hanya ada satu spot selfie di kampung tersebut, dan baru muncul pada 2017 lalu saat Hari Raya Idul Fitri. Lambat laun, karena minat masyarakat cukup tinggi, tim penggali potensi kampung kemudian membuat beberapa spot selfie lainnya dan kini total ada sekitar 5 spot selfie. Semuanya berada di atas ketinggian, dan menghadap ke Waduk Jatibarang.

“Yang membuat aturan ya tim penggali potensi kampung, termasuk kapasitas orang yang masuk, biar amanlah istilahnya. Dulu pembangunannya pun swadaya, istilahnya percobaan atau prototipe dulu. Makanya dibuat dari bambu, namun ternyata sambutannya sangat tinggi,”paparnya.

Aturan lain yang dibuat selain keamanan, lanjut dia, adalah sistem pendapatan dari masing-masing objek wisata yang harus dibagi tiga bagian, yakni pengelola, penyewa lahan, dan untuk kas kampung di RW III ini. “Termasuk untuk perbaikan dan perawatan ini kami perhatikan. Untuk karyawan, kami memberdayakan masyarakat dengan tujuan mengangkat perkonomian masyarakat,” ucapnya.

Masih terkait sisi keamanam, Tumadi dan timnya juga meminta pengelola spot selfie yang ada untuk mengganti tiang bambu yang digunakan. Menurut dia, masa usia pakai tiang bambu tersebut selama satu tahun. Namun kebanyakan dari pengelola spot selfie telah melakukan pergantian tiang bambu dengan bambu baru ataupun menggantinya dengan tiang beton.

“Selain maksimal 10 orang  pengunjung dalam satu spot, juga dilakukan pengawasan oleh pengelola, caranya dengan lisan ataupun tulisan. Paling disorot adalah anak kecil, namun kebanyakan pengunjung sudah tahu akan risiko yang ada, sehingga kesadaran mereka untuk mentaati aturan sangat tinggi,” bebernya.

Dikatakan, dalam satu hari, khususnya saat hari libur, minimal ada sekitar 300 nomor antrian di setiap wahana yang ada di Talunkacang. Untuk menikmati spot tersebut, setiap satu antrian ditawarkan 1 paket foto dengan 3 kali sesi foto seharga Rp 5.000.

Setelah satu tahun berdiri dan mengetahui potensi pasarnya cukup besar, berangsur-angsur pengelola spot selfie pun mengganti bambu dengan beton dan cor.

“Karena sudah tahu pasar dan keuntungannya, ada yang dibongkar dan buat lagi dari benton serta dilengkapi dengan pagar demi keamanan pengunjung. Belum semua sih, namun sudah berangsur-angsur mengarah ke sana,” bebernya.

Disinggung tanggapan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ataupun Pemerintah Kota Semarang terkait spot selfie tersebut. Tumadi mengaku belum ada dukungan dari dinas terkait, namun belum lama ini Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, yang datang ke lokasi sangat mendukung dan senang, karena warga Talunkacang dianggap kreatif dan bisa menghidupkan pariwisata Kota Semarang.

“Pak Wali pesannya ya pengawasan dan keamanannya diperketat. Lain-lainnya nggak masalah. Pada dasarnya, kami tetap mengutamakan keamanan dan keselamatan,” tegasnya.

Murti Sari Dewi, pemilik spot selfie Rumah Pohon belum lama ini telah mengganti tiang bambu dengan cor, dan lantai dengan beton demi keamanan pengunjung yang datang ke tempat miliknya. “Biar aman aja, Mas, kalau pas ramai dan banyak rombongannya tidak jatuh korban,” ungkapnya.

Sebelum mengganti dengan beton, lanjut dia, ia mengaku sempat deg-degan karena dalam satu rombongan wisatawan ada sekitar 12 orang yang ingin selfie bersama. Untungnya, saat itu rombongan mau diberi pengertian dan membagi menjadi dua kelompok, demi menjaga keamanan pengunjung.

“Modalnya sekitar Rp 15 juta- Rp 20 juta kalau dengan cor, walaupun lebih murah menggunakan bambu. Saya lebih memilih cari aman dengan beton, sehingga kalau ada rombongan besar bisa diakomodir semua,” bebernya. (den/aro)