GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pengerjaan proyek pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang memang dipercepat, untuk mengejar target agar bisa beroperasi pada Lebaran mendatang. Namun saat ini masih ada sejumlah kendala, di antaranya rencana relokasi 1.300 makam di Jalan Plampisan, Jalan Honggowongso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

Menurut Kepala Seksi Administrasi Kontrak PT Waskita Karya, Ronald Aldriano, untuk bisa merelokasi 1.300 makam tersebut, kontraktor membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Sedangkan relokasi makam, masih menunggu proses penyiapan lahan. “Sudah tidak ada warga yang keberatan. Lahan pengganti juga sudah ada, tetapi masih menunggu waktu penyiapan 1.300 titik makam,” kata Ronald Aldriano, kemarin.

Diakuinya, relokasi tersebut belum bisa dilakukan, karena masih menunggu proses pengurukan. Mengingat lokasi lahan pengganti berada di dataran rendah. Setelah proses pengurukan selesai, relokasi makam segera dilaksanakan.

Pemindahan makam tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati, yakni memindahkan makam satu per satu. Pihaknya mengaku telah menghitung waktu yang dibutuhkan. “Dalam sehari, kami bisa memindahkan 70 makam. Sehingga dengan jumlah 1.300 makam diperkirakan membutuhkan waktu satu bulan,” katanya.

Lahan pengganti makam tersebut tidak jauh dari lokasi semula. Itu juga atas kehendak warga yang meminta agar lokasi baru tidak terlalu jauh dari lokasi awal. Selain relokasi makam, pengerjaan Seksi V (Kota Semarang) juga menunggu penyelesaian penggantian benda wakaf berupa Masjid Al-Mustaghfirin di daerah Bringin Ngaliyan dan satu lahan milik warga bernama Sri Urip yang sempat proses hukum.

Sedangkan pengerjaan Seksi IV (Kendal), terdapat 131 bidang lahan belum terbebaskan. Masing-masing berada di Desa Nolokerto, Sumberrejo, Magelung, Menjalin, Kertomulyo, dan Sumbersari. “Saat ini sedang proses penyelesaian di Pengadilan Negeri (PN) Kendal,” katanya.

Pihaknya menyatakan akan melakukan percepatan pengerjaan untuk mengejar target Lebaran mendatang agar bisa beroperasi. Selain melakukan koordinasi dengan Panitia Pembebasan Tanah (P2T) dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Pemerintah Daerah (Pemda), pihaknya juga menambah jumlah pekerja, baik untuk Seksi IV maupun Seksi V. Jumlah pekerja semula 600 orang, saat ini ditambah menjadi 1.000 orang.

“Selain itu, menambah jumlah peralatan seperti crane ekskavator, dump truk, dozzer, motor grader, vibro, dan lain-lain. Jam kerja juga ditambah menjadi dua shift hingga malam hari,” katanya.

Sementara itu, Kepala Sub Seksi Pengaturan Tanah Pemerintah BPN Kota Semarang, B Wibowo Suharto mengatakan, sebetulnya tidak ada masalah berarti untuk melakukan pembebasan lahan. Baik penggantian lahan makam maupun benda wakaf. Tetapi hal tersebut membutuhkan waktu cukup lama karena harus mengikuti tahapan dan proses sesuai regulasi.

“Makam seluas 5.300 meter persegi di Plampisan yang dikelola Paguyuban Ngarso itu tinggal menunggu waktu. Lahan pengganti sudah ada, sudah dilakukan appraisal. Dananya juga sudah siap,” katanya.

Begitupun Masjid Al-Mustaghfirin di Bringin, saat ini sedang proses pembangunan masjid pengganti. Sudah dilakukan pembangunan. Setelah pembangunan selesai, bisa dilakukan relokasi sekaligus menunggu administrasi Badan Wakaf dan Kementerian Agama. “Saat ini semua proses itu sedang berjalan, sedang menunggu waktu saja,” katanya.

Sedangkan sengketa lahan milik warga bernama Sri Urip juga dalam proses penyelesaian. PPK sudah mengajukan eksekusi dan sudah dilakukan konsinyasi di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. “Begitu semua proses selesai, langsung eksekusi,” katanya. (amu/ida)