WORKSHOP : Pelaksanaan Workshop Using Electronic Evidence in Terrorism and Transnational Crime Cases di JCLEC Semarang dihadiri Wakajati Jateng, Priyanto. (ISTIMEWA)
WORKSHOP : Pelaksanaan Workshop Using Electronic Evidence in Terrorism and Transnational Crime Cases di JCLEC Semarang dihadiri Wakajati Jateng, Priyanto. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Menyamakan persepsi antara penegak hukum, terkait penggunaan alat bukti elektronik, Kejaksaan se-ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) selenggarakan event bersama berkonsep workshop mengenai Using Electronic Evidence in Terrorism and Transnational Crime Cases di Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation (JCLEC). Event tersebut diikuti 10 perwakilan negara ASEAN.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jateng, Sadiman melalui wakilnya, Priyanto, mengatakan, workshop tersebut merupakan tindak lanjut dari adanya MoU antara Kejaksaan Agung dan Australian Attorney General Department yang sudah ditandatangani pada bulan Februari 2017 lalu.

Ia berharap, workshop tersebut menjadi wadah bagi penegak hukum di negara-negara ASEAN untuk berbagi pengalaman. Kemudian bisa saling memberikan rekomendasi strategi dalam penggunaan alat bukti elektronik pada perkara terorisme.

“Kami sangat serius memandang penggunaan alat bukti elektronik ini. Workshop tersebut bertujuan untuk menyamakan persepsi antara penegak hukum, khususnya kaksa dalam menggunakan alat bukti elektronik dan bagaimana bekerja sama antar kejaksaan di ASEAN,” kata Priyanto kepada awak media yang tergabung dalam Forum Jurnalis Kejati (FJKT) Jateng, Kamis (12/4)

Menurutnya, alat bukti elektronik sangat berperan dalam penyelidikan kasus terorisme.  Alasannya, karena para pelaku terorisme secara fasih menggunakan media elektronik untuk berkomunikasi. Ia menyebutkan,  para pelaku terorisme mengetahui bahwa penggunaan media elektronik menjadi lebih susah untuk ditelusuri,  berbeda dengan penggunaan handphone.

“Mereka menggunakan email atau grup chatting untuk berkomunikasi. Serta melakukan propaganda melalui bulletin board atau mailing list,”sebutnya.

Terpisah, Kordinator Komunitas Peduli Hukum (KPH) Semarang, Mardha Ferry Yanwar mengatakan, teroris merupakan masalah bersama seluruh negara,  sehingga antar penegak hukum perlu saling berkordinasi dan tukar pengalaman, apalagi di era modern saat ini dunia elektronik semakin berkembang. (jks/zal)