Warga Karangsari Diberi Pendidikan Politik

254
TULARKAN ILMU: Warga Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah diajari melek pendidikan politik kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TULARKAN ILMU: Warga Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah diajari melek pendidikan politik kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, DEMAK – Warga Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah kemarin mendapatkan pendidikan politik oleh KPUD setempat. Diskusi politik yang berlangsung di teras komunitas rumah kita (Koruki) tersebut menjadi ajang belajar bersama terkait demokrasi dan politik lokal, termasuk bagaimana menjadikan warga ini sebagai pemilih yang cerdas.

Anggota komisioner KPUD Demak, Hastin Atas Asih mengatakan, menjadi pemilih cerdas sangat diperlukan dalam berbagai hajatan demokrasi, diantaranya dalam pesta pemilihan gubernur (Pilgub) Jateng 27 Juni mendatang.

“Kita berharap, kalau pemilihnya cerdas tentu tidak akan mudah tergoda oleh iming iming yang menggiring mereka untuk memilih calon tertentu. Ibaratnya, memilih kucing dalam karung,” kata Hastin yang membidangi Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat ini.

Dia menuturkan, pemilih cerdas hendaknya berani menolak segala bentuk politik uang. “Sekarang ini ada istilah sodaqoh politik terkait pemberian uang untuk memilih calon,” katanya.

Menurutnya, iming-iming  politik uang dengan besaran Rp 10 ribu tentu tidak sebanding dengan suara yang berikan untuk calon. Sebab, yang sebesar itu akan habis hanya untuk beli krupuk. “Disinilah pentingnya memilih pemimpin yang tanpa diembel embeli uang,” ujarnya.

KPUD pun mengajak para pemilih agar menggunakan hak pilihnya dengan rasional. Sebab, dalam pengalaman beberapa kali pilgub, partisipasi masyarakat selalu dibawah 50 persen. Menurutnya, dalam pilgub kali ini KPUD sudah 80 persen malakukan sosialisasi dimasyarakat.

Direktur Koruki, Kusfitriya Martyasih mengatakan, ibu ibu warga desa harus melek politik dan lebih aktif dalam pesta demokrasi. Karena itu, mereka juga harus membekali diri supaya kenal lebih dekat para calon.

“Emak-emak biasanya nyoblos yang ganteng atau ada uangnya. Jangan mater, asal main coblos aja. Dengan adanya sosialisasi ini mudah mudahan pemilih tidak tergiur karena uangnya,” ujar dia. (hib/bas)