Tuntut Tunda Relokasi, Minta Tempat yang Sepadan

361
PROTES: Sejumlah PKL Barito Mlatiharjo yang kiosnya terkena proyek normalisasi sungai BKT membentangkan spanduk dan poster menuntut pengunduran relokasi, Selasa (10/4). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PROTES: Sejumlah PKL Barito Mlatiharjo yang kiosnya terkena proyek normalisasi sungai BKT membentangkan spanduk dan poster menuntut pengunduran relokasi, Selasa (10/4). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) Kelurahan Mlatiharjo, Kecamatan Semarang Timur meminta pemerintah memberikan tempat relokasi yang sesuai. Mereka cemas, hingga kini belum memiliki tempat. Sementara pada tanggal 13 April nanti, mereka diminta mengosongkan bangunan yang selama ini mereka tempati.

”Janjinya mau direlokasi ke Penggaron. Tapi di sana belum ada bangunannya,” ujar Amhar Rusidi, 47, wakil Ketua paguyuban PKL Kelurahan Mlatiharjo saat menggelar aksi damai dengan berjalan kaki secara bersama dari Jembatan Citarum menuju Jembatan Kaligawe.

Mereka membentangkan spanduk bertuliskan tuntutan diundurnya relokasi. ”Sementara itu, pedagang lain yang disuruh pindah, mereka langsung terima kunci,” imbuhnya sedikit memprotes.

Amhar menjelaskan, seperti para pedagang lainnya, mereka ingin diperlakukan sama. Mereka ingin ketika mengosongkan tempat lama, pemerintah sudah menyediakan tempat baru untuk menampung barang dan melanjutkan kegiatan perekonomian. Mereka meminta agar disediakan bangunan permanen dengan luasan yang sesuai dengan kebutuhan.

Di Kelurahan Mlatiharjo, lanjutnya, terdapat 214 PKL dengan usaha bubut, las, kayu mebel, besi dan pengepul rongsokan. Sejumlah pedagang sudah mendapatkan tempat di Banjardowo, sementara 137 pedagang masih dijanjikan akan menempati Pasar Barito Baru di Penggaron.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto menegaskan bahwa pemerintah tidak akan melakukan pembongkaran sebelum para pedagang mendapat tempat relokasi. Fajar mengatakan, hingga tersedianya tempat, para pedagang masih bisa menempati lapak mereka masing-masing.

”Tidak beda jauh dari Rejosari blok 7. Di situ hanya yang sudah mendapatkan tempat yang kami bongkar. Jadi surat pertama, tanggal 13 itu untuk mereka yang sudah mendapat tempat,” tandasnya.

Surat pemberitahuan bahwa pembongkaran hanya dilakukan terhadap mereka yang sudah mendapatkan tempat, dikatakan Fajar, telah disusulkan pada Selasa sore (10/4) kemarin. ”Supaya tidak ada rasa gelisah. Silakan berjualan, selama dinas perdagangan belum menyediakan tempat relokasi,” ujarnya.

”Memang di satu sisi untuk proses percepatan. Tapi kami juga harus mengedepankan aspek sosial,” imbuh Fajar yang selalu mengutamakan pendekatan personal kepada para pedagang ini. (sga/ida)