Temukan Tantangan di Reportase

98

Dulu dia hanya turun ke lapangan saat ada tugas dari dosen. Kini ia sering terjun ke lapangan untuk melakukan reportase. Itu atas inisiatif sendiri.

”Awal ke lapangan dulu saya dapat tugas dari salah satu dosen. Meski saya mengambil program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, waktu itu tak tertarik menjadi seorang reporter,” kata warga RT 6 RW 4, Desa Kalipucang, Welahan, Jepara.

Beberapa kali melakukan praktik reportase. Gadis kelahiran Jepara, 12 Mei 1996 ini kerap menemukan tantangan. Tatangan tersebut mengubah niatnya. Kini dia mantab untuk bisa menjadi reporter yang profesional.

”Dalam setiap peliputan, tantangannya berbeda-beda. Kadang harus berlatih bersabar ketika menunggu narasumber yang waktunya super sibuk. Belum lagi jika ketemu narasumber yang kurang kooperatif,” jelas mahasiswa semester VI Jurusan Dakwah STAIN Kudus itu.

Anggota dewan mahasiswa itu paham tentang ritme kerja seorang reporter berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya. Meski begitu, dia tak begitu mempermasalahkan. ”Kalau soal itu memang sudah menjadi risiko. Jadi saya yang harus pintar-pintar membagi waktu. Sehingga, satu agenda ke agenda lain tetap bisa berjalan beriringan,” paparnya. (daf)

(ks/ris/top/JPR)