Sempat Gagal Mengawali, Namun Pantang Menyerah

Poernomo, Perajin Frame Kacamata dan Jam Tangan Kayu

303
UNIK : Poernomo, perajin frame kacamata dan jam tangan kayu menunjukkan cara dan teknik memahat kayu sehingga menjadi jam tangan yang unik dan menarik. (ISTIMEWA)
UNIK : Poernomo, perajin frame kacamata dan jam tangan kayu menunjukkan cara dan teknik memahat kayu sehingga menjadi jam tangan yang unik dan menarik. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Di tangan kreatif, ragam benda dapat diolah menjadi barang-barang dengan nilai ekonomi lebih. Salah satunya Poernomo yang mengolah berbagai jenis kayu menjadi frame kacamata dan jam tangan. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

SEJUMLAH kacamata dan jam tangan terpajang rapi di salah satu stan kerajinan di DP Mal Semarang, baru-baru ini. Menariknya, material jam maupun frame kacamata tersebut bukan berasal dari bahan yang lazim, namun menggunakan kayu.

“Lazimnya kacamata maupun jam tangan terbuat dari plastik, logam atau material umum lainnya. Sehingga kehadiran jam tangan bermaterial kayu memberikan warna yang cukup berbeda,” ujar sang perajin, Poernomo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria yang sebelumnya menggeluti usaha las ini mengungkapkan, ia memang tertarik dengan ragam kerajian, khususnya yang unik. Termasuk jam tangan kayu yang lebih dahulu populer di kota selain Semarang.

“Saya berpikir, memiliki perlengkapan las yang pasti bisa dimanfaatkan untuk hal lain juga. Kemudian tahun 2015, akhir saya utak-atik sisa kayu yang ada, saya pahat coba-coba dulu, belajar membuat. Di tahap belajar ini sempat gagal, coba lagi, sampai akhirnya jadi,” ujar pria kelahiran Grobogan ini.

Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2016, ia merasa produknya sudah cukup layak untuk dipasarkan. Menggunakan label Nowis Handmade, Poernomo memasarkan via online dan offline dengan menitipkan pada sejumlah gerai.

“Memang di beberapa kota lain, kerajinan serupa juga ada. Namun, sebagian mulai menggunakan mesin. Sedangkan saya, sejauh ini masih mempertahankan handmade, membuat secara manual bagian tiap bagian,” ujarnya.

Sejauh ini, menurutnya, jam dan kacamata jenis ini cukup diminati. Keunikan yang hadir dari material kayu menjadi salah satu daya tarik. Dengan keunggulan terletak pada nilai seni dari pahatan dan motif-motif kayu yang digunakan, terlebih bila produk tersebut dibuat secara manual alias handmade.

Namun demikian, tak sembarang kayu yang bisa digunakan. Kualitas, warna serta corak menjadi pertimbangan dalam pemilihan material kayu. Beberapa pilihan tersebut di antaranya jenis kayu maple, sonokeling, eboni, coconut wood dan stabilizerwood. “Sebetulnya sama-sama berkualitas. Hanya saja, tiap jenis kayu memiliki warna dan corak yang berbeda,” terangnya.

Kayu maple, misalnya, jenis ini untuk yang suka warna putih atau krem. Tapi sayangnya, kayu jenis ini di Indonesia masih jarang, sehingga harus impor. Sedangkan untuk warna-warna gelap digunakan jenis sonokeling, glugu atau coconut wood serta eboni.

“Kayu eboni ini lokal Indonesia. Tapi harga juga cukup mahal, karena dari segi kualitas maupun motif, cukup bagus dan sedikit langka. Sedangkan untuk jenis sonokeling di Jawa masih banyak dijumpai,” ujarnya.

Hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri. Karena kayu-kayu yang sulit dijumpai tentu akan berdampak pada harga. Sedangkan untuk model, sebagian besar pembeli menyukai bentuk bulat maupun kotak. Kombinasi bentuk-bentuk tersebut dinilai cukup serasi dengan material kayu yang kian menonjolkan kesan klasik dan elegan.

“Tapi bagi yang ingin custom, bentuk selama masih bisa dikerjakan secara manual, kami juga layani. Selain itu, karena kayu, di salah satu sisi juga bisa diukir nama atau pesan. Sehingga terasa lebih spesial bila digunakan untuk kado,” ujarnya.

Kemudian dari pemasaran, pria yang memiliki workshop di kawasan Pedurungan ini menggunakan sistem offline dengan memajang produk di Galeri Kreatif dan beberapa toko serta pemasaran online melalui Instagram.

“Peminatnya beragam, rata-rata justru berasal dari luar Semarang, beberapa waktu lalu juga ada pembeli dari Jepang yang memesan cukup banyak. Termasuk Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga sempat membeli produk saya,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap bisa terus mengembangkan usaha ini dengan berbagai inovasinya. Mulai dari pemasaran hingga sistem pengemasan yang dinilai menjadi nilai tambah dari suatu produk. “Banyak mendapat masukan juga baik dari teman maupun pembeli. Salah satunya terkait dengan pengemasan, yang saat ini saya gunakan bambu dan kayu, agar serasi,” ujarnya. (*/ida)