Pengusaha Jamu Berbahaya Diringkus

410
ILEGAL : Kepala BPOM Kota Semarang, Endang Pudjiwati, mengecek produk jamu yang disita dari RN di kantor BPOM Semarang, Selasa (10/4). 9AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
ILEGAL : Kepala BPOM Kota Semarang, Endang Pudjiwati, mengecek produk jamu yang disita dari RN di kantor BPOM Semarang, Selasa (10/4). 9AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Seorang penjual jamu ilegal di Kabupaten Tegal berhasil diringkus oleh petugas gabungan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Semarang, Selasa (10/4). Dari pelaku berinisial RN, 40, petugas mengamankan 2.904 dos jamu ilegal yang terdiri dari 27 item. Diketahui, pelaku mengedarkan jamu tersebut melalui media online.

Kasi Pendidikan BPOM Kota Semarang, Agung Supriyanto menjelaskan, RN diamankan petugas di rumahnya di Desa Ujungrusi, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Menurutnya, petugas sempat mengalami kesulitasn saat meringkus RN lantaran lorong gang menuju rumahnya yang sempit.

“RN selama ini jual jamu ilegal itu sampai ke Brebes dan Pemalang,” ujarnya Agung saat gelar di Kantor BPOM Semarang, Banyumanik, Selasa (10/4).

Kepala BPOM Kota Semarang, Endang Pudjiwati membeberkan, ribuan barang bukti jamu yang disita terdiri dari berbagai jenis mulai kemasan jamu pegal linu, obat kuat, hingga pil jamu jenis lainnya. Menurut Endang, jamu-jamu tersebut mengandung bahan kimia berbahaya.

Lebih jauh, RN telah mengedarkan jamu ilegal tersebut selama tiga tahun terakhir. Saat ini, petugas masih terus memperdalam penyelidikan untuk menelusuri jaringan pengedar jamu ilegal lainnya. RN menjual produk-produk racikan jamu ilegal tersebut melalui akun Facebook.

“Kami melakukan pengawasan terhadap akun media sosial yang menjual-belikan obat tradisional dengan berbagai macam khasiat. Obat yang kita amankan ini macam-macam, ada obat pegal linu, obat kuat, dan masih banyak lagi,” tuturnya.

Barang bukti yang disita petugas, lanjut Endang, diduga mengandung bahan kimia. Jika dibiarkan, efek sampingnya sangat berbahaya apabila diminum tanpa dosis yang ditentukan yakni dapat menyerang ginjal, lambung, hingga organ tubuh lainnya.

Kendati demikian, beberapa produk dari ribuan yang disita sebenarnya sudah terdaftar di BPOM. Namun, peredarannya telah dihentikan atau ditarik dari pasar lantaran kedapatan mengandung bahan kimia.

“Sebenarnya, pada tiap kemasan tercantum izinnya, tapi begitu di cek nomor registrasinya menggunakan aplikasi kami, tidak terdaftar (produknya),” imbuhnya.

Atas kejadian ini, Endang mengimbau kepada masyarakat untuk dapat melaporkan bila menemukan hal serupa. Ia berharap masyarakat dapat memiliki peran aktif untuk menangkal peredaran jamu ilegal.

“Biar warga sekitar terlindungi. Untuk itulah, konsumen harus jeli mengecek kemasan, segel, dan cek label. Izin edarnya juga harus berbadan hukum,” tambahnyaa.

Atas perbuatannya, jika terbukti bersalah dalam pengembangannya maka RN akan dijerat dengan UU Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dengan penjara 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar. (tsa/zal)