Kartu Gambar Tingkatkan Menghafal Wilangan Jawa

371
Oleh : Sholikin, S.Pd
Oleh : Sholikin, S.Pd

RADARSEMARANG.COM – Para peserta didik sering salah sebut wilangan atau angka Jawa dalam pergaulan sehari-hari. Lantaran kemampuan berbahasa Jawa yang minim, akibat pelajaran bahasa Jawa di kelas hanya 2 jam pelajaran dalam satu minggu. Karena itu penulis menawarkan metode cepat mengingat wilangan Jawa melalui kartu gambar.

Istilah milang angka sebenarnya dari kata wilangan angka. Dan wilangan angka merupakan bilangan atau nemuralia kalimat yang menjelaskan tentang jumlah barang atau urutan dalam satu kalimat. Wilangan angka terdiri atas angka numeralia pokok (cardinal) dan wilangan gumathok (numeralia pokok tentu). Kata wilangan pokok merupakan jawaban untuk pertanyaan dari kata berapa, sedangkan wilangan gumathok, merupakan wilangan dari angka nol sampai angka sembilan.

Penerapan unggah–ungguh bahasa Jawa terutama pada wilangan angka (milang angka) Jawa masih banyak yang kurang pas. Ini terbukti pada para siswa di sekolah ketika berdialog dengan bapak/ibu guru. Ketika anak bercakap-cakap atau berdialog mengucapkan angka sebelas, dua lima, lima puluh.  Dengan tegas dan lugas serta percaya diri anak menjawab setunggal welas,kalih dasa gangsal, dan gangsal doso anak sangat percaya dan yakin bahwa krama inggil sebelas adalah setunggal welas, dua puluh lima adalah kalih dasa gangsal, lima puluh adalah gangsal dasa. Setelah anak ditanya sudahkah benar krama inggil tersebut, anak menjawab dengan serentak leres, leres, leres pak (betul, betul, betul pak).

Setelah diberi penjelasan mengenai krama inggil wilangan Jawa angka tersebut salah. Anak kaget, ternyata selama ini yang digunakan oleh anak-anak salah penerapan. Krama inggil sebelas, tidak setunggal welas, akan tetapi sewelas yang benar. Krama inggil dua puluh lima, yang biasa disebut kalih dasa gangsal ternyata salah peneraan yang benar selawe (selangkung), untuk angka lima puluh, yang banyak disebut gangsal dasa itu juga kurang benar, yang pas adalah seket.

Untuk mempermudah pengenalan krama inggil wilangan angka Jawa (wilang angka) di samping banyak latihan penerapan dengan orang tua, guru, dan orang yang lebih tua, perlu latihan dengan menggunakan model baru yang berupa kartu gambar.

Dalam pengenalan kartu gambar ini penulis menyiapkan sejumlah 100 kartu yang ditulis penyebutan angka dari 1 – 100 dalam bahasa Jawa menggunakan bahasa ngoko dan krama inggil. Adapun teknik dan cara penggunaannya, anak bergantian maju ke depan kelas. Pada tahap pertama sepuluh anak mengambil kartu yang tertuliskan angka Jawa mengunakan basa ngoko secara acak, kemudian sepuluh anak menuliskan dalam kertas menggunakan bahasa krama inggil wilangan Jawa sesuai pasangan masing – masing. Setelah itu masing–masing anak lari untuk mencari pasangan masing–masing yang sesuai. Setelah itu guru mencocokkan kebenarannya.

Pasangan siswa nomor lima ternyata salah penulisan, sewelas ditulis setunggal welas, pasangan nomor enam juga salah, selawe ditulis selangkung. Nomor tujuh juga salah menulis satus ditulis setunggalatus. Bahkan, yang sangat parah kesalahannya pada peserta nomor sepuluh seket ditulis gangsal doso.

Pada tahap kedua guru memberikan contoh kartu gambar tertuliskan wilangan Jawa menggunakan bahasa ngoko dan bahasa krama inggil untuk dihafalkan dalam waktu lima menit. Dari sinilah anak langsung mengetahui milangangka Jawa yang benar, setelah anak mengetahui basa krama inggil wilangan Jawa yang benar, maka anak menerapkan.

Penggunaan kartu gambar krama inggil wilangan jawa ini sangat menarik perhatian siswa dalam pembelajaran, sehingga akan mempermudah belajar mereka dalam memahami wilangan angka Jawa krama inggil. Untuk itu guru bahasa Jawa perlu menerapkan model demikian. Sehingga bahasa Jawa akan lebih menarik lagi. (*/tj/ida)

*) Guru SMP N 2 Guntur, Demak