Guru Ngaji Jadi Kurir Sabu

Upah Sekali Antar Rp 1 Juta

279
TERGIUR BAYARAN: Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo (kanan) saat gelar perkara kasus sabu dengan tersangka Agung Rukiyanto dan Sriyono. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERGIUR BAYARAN: Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo (kanan) saat gelar perkara kasus sabu dengan tersangka Agung Rukiyanto dan Sriyono. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Dua warga Solo ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah terkait kasus narkotika. Ironisnya, salah satu tersangka adalah seorang guru mengaji yang kerap memberikan tausyiah di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kota Bengawan.  Keduanya adalah Agung Rukiyanto (AGR), 47, warga Kampung Tegalayu RT 001 RW 002 Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan, Solo dan Sriyono (SYN), 53, warga Pringgading RT 004 RW 009 Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Keduanya ditangkap usai mengambil paket sabu di pertigaan Pungkruk, Jalan Raya Sukowati Km 4 Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jumat (6/4) sekitar pukul 00.25. Akibat perbuatannya itu, AGR gagal melaksanakan umrah yang rencananya berangkat, Senin (9/4) kemarin.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo, menjelaskan, pengungkapan kasus narkoba ini setelah menindaklanjuti laporan dari masyarakat adanya mobil Daihatsu Xenia warna hitam bernopol AD 8935 IU membawa narkoba jenis sabu menuju arah Solo.  Begitu menerima laporan, petugas Tim Berantas BNNP Jateng langsung bergerak ke lokasi. Mobil yang dimaksud akhirnya dilakukan penggeledahan di Pertigaan Pungkruk, Sragen. “Saat dilakukan penggeledahan ditemukan barang bukti narkoba jenis sabu yang terbungkus aluminium foil. Sabu dikemas dalam dua paket dengan berat 10 gram. Barang bukti ini disimpan tersangka di dalam mobil yang dikendarainya,” ungkapnya saat gelar perkara di Kantor BNNP Jateng, Senin (9/4).

Saat itu juga kedua tersangka dibawa ke Kantor BNNP Jateng untuk dimintai keterangan. Dari hasil pemeriksaan, sabu 10 gram tersebut diambil AGR atas perintah seseorang yang mengaku bernama Bejo, berdomisili di Kaliurang, Jogjakarta. Nantinya, sampai di Solo, paket sabu itu akan diambil lagi oleh seseorang, yang belum diketahui identitasnya.  “Untuk pekerjaan ini, AGR diberi upah Rp 1 juta. Sedangkan tersangka SYN sejak dari awal mengetahui bahwa AGR akan mengambil narkotika, dia berperan turut membantu mencarikan alamat transaksi tersebut,” katanya.

Menurut pengakuan AGR, lanjut Tri Agus, tersangka mulai memakai sabu sejak 1998, dan sempat berhenti pada 2002. Namun aktif lagi memakai sabu mulai Januari 2018. Tri Agus juga menyebutkan, setiap harinya, tersangka AGR mengajar mengaji di salah satu ponpes yang ada di Solo. “Tersangka ini setiap harinya mengajar ngaji di pondok. AGR juga rencananya pada 9 April 2018 berangkat umrah ke Tanah Suci. Praktis, rencana umrah AGR gagal, karena harus menjalani proses hukum,” bebernya.

AGR mengakui, mengonsumsi sabu kembali saat bertemu teman lamanya pada awal 2018. Kemudian diajak pesta sabu di suatu tempat oleh teman lamanya tersebut, hingga akhirnya berkenalan dengan Bejo. “Ada teman lama yang datang ngajak reuni, terus memakai bareng, bertiga sama Bejo. Akhirnya kenal, sempat pesan barang (sabu) dua kali. Terus pesan yang ketiga kalinya ini disuruh ambil barang di Sragen, bilangnya nanti kalau sudah sampai di Solo akan diambil orang, gak kenal,” katanya.

Agus menambahkan, kasus ini membuktikan bahwa narkotika telah merambah seluruh sendi kehidupan masyarakat. Menurutnya, belum lama ini, BNNP Jateng juga menangkap seorang mahasiswa semester akhir sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) di Semarang, terkait kasus penyalahgunaan narkotika jenis pil ekstasi.

“Agar kasus seperti ini tidak semakin meluas, BNNP Jateng akan semakin merangkul kelompok-kelompok agama, termasuk MUI agar bisa membantu menyebarkan informasi mengenai bahaya narkotika,” imbuhnya.

Para tersangka saat ini masih ditahan di Rumah Tahanan BNNP Jateng untuk menjalani proses hukum. Akibat perbuatannya, kedua tersangka akan dijerat pasal 114 ayat 2, jo pasal 132 ayat 1, subsider pasal 112 ayat 2, jo pasal 132 ayat 1, UU No 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal pidana mati. (mha/aro)