KOCAK: Penampilan salah satu peserta Seleksi Pertunjukan Rakyat di halaman GOR Jatayu Kota Pekalongan, Sabtu (7/4). (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOCAK: Penampilan salah satu peserta Seleksi Pertunjukan Rakyat di halaman GOR Jatayu Kota Pekalongan, Sabtu (7/4). (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Pertunjukan seni rakyat diyakini masih menjadi media penyampaian informasi yang ampuh. Karena itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jateng  menggelar Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) yang disisipi seleksi pertunjukan rakyat.

Teriknya udara Kota Batik Pekalongan tidak mematahkan semangat penggiat seni di eks Karesidenan Pekalongan di kompleks GOR Jatayu Kota Pekalongan, Sabtu (7/4). Make up yang hampir luntur terkena keringat, terus diusap agar penampilan tetap menarik. Tampak puluhan penari, nayogo (pemain gamelan, Red), sinden, hingga dalang, bersiap diri untuk manggung.

Suasannya benar-benar kental dengan nuansa tradisonal. Musik gamelan slendro, pelog dan bonang berpadu dengan bas elektrik, drum, gitar listrik dan gong, merdu, rancak dan kadang mendayu-ndayu. Dialog-dialog dengan bahasa daerah, kadang lucu, ceria, dan kadang menyedihkan. Namun gelak tawa penonton seakan tiada henti.

“Konsep seni tradisional masih dibutuhkan saat ini, karena tidak semua orang juga menggunakan media elektronik dalam keseharian. Untuk itu, kami coba angkat lagi pertunjukan rakyat. Ini menjadi media informasi sekaligus nguri-uri budaya kita,” jelas Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Jateng, Evi Sulistyorini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pertunjukan kedelapan grup disajikan dalam bentuk drama. Semua dibawakan dengan gaya kocak, menarik, dan menyesuaikan dengan bahasa lokal mereka. Guyon waton ala Pekalongan percampuran logat Tegal dan Jawa, atau gaya ngapak khas Slawi, Tegal, dan Brebes. Hingga kesenian Paranggolo ala Pemalang yang mirip ludruk ala Jawa Timuran.

Walaupun menggunakan bahasa lokal bernuansa tradisional, semua peserta juga tetap menyisipkan nuansa modern dengan dunia teknologi kekinian. Seperti telepon dengan WA, bercerita tentang internet, Youtube dan teknologi kekinian lain disebut dalam beberapa adegan pendukung.

Setiap peserta diberikan waktu kurang lebih 40 menit. Rinciannya, 10 menit persiapan, dan 30 menit penampilan. Wajib menyertakan unsur tari, musik, dan pesan dalam bentuk dialog  maupun lagu. Serta bisa memilih di antara tiga tema wajib, yakni tentang Pemilu Damai, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, serta Gotong Royong dalam Bermasyarakat.

Seleksi ini, kata Evi, adalah bentuk penyemangat bagi pelaku seni tradisional agar bisa bangkit. Sehingga budaya asli bangsa tidak lekang oleh kemajuan zaman. Masyarakat juga akan lebih menikmati pertunjukan, selain juga dapat informasi yang bermanfaat. “Dengan penampilan kesenian daerah, semoga informasi bisa diterima lebih mudah bagi semua lini masyarakat,” harapnya.

Seleksi pertunjukan rakyat ini, jelas Evi, akan digelar di 5 lokasi. Selain di Kota Pekalongan, berikutnya akan digelar di Boyolali, Rembang, Grobogan, dan Kota Semarang. Setelah semua seleksi digelar, baru akan dilakukan penilaian. “Nanti para pemenang utama akan tampil pada malam puncak PPID Jateng di Pekan Raya Jawa Tengah,” ujarnya. (kom/han/aro)