Oleh: Basuki Raharjo
Oleh: Basuki Raharjo

RADARSEMARANG.COM – AKHIR-akhir ini siswa SMP enggan berbahasa Jawa ragam krama. Dalam berkomunikasi dengan orang tua dan keluarganya di rumah dan di dalam lingkungan pergaulannya, juga dengan bapak dan ibu guru di sekolah,  siswa banyak terbiasa berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa dalam ragam ngoko. Anak tidak menguasai kosa kata ragam krama, karena tidak terbiasa. Ada pepatah mengatakan ‘orang bisa karena biasa’.

Unggah-ungguh basa dalam bahasa Jawa bisa diimplementasikan untuk menanamkan karakter anak didik. Anak akan menghormati orang lain (yang lebih tua) dengan cara berbicara menggunakan ragam basa krama alus. Ragam basa krama digunakan untuk berbicara dengan orang lain yang lebih tua. Hal ini perlu latihan–latihan yang tidak gampang. Bermain peran adalah model yang dapat diterapkan untuk melatih dan membiasakan anak untuk berbicara menggunakan Bahasa Jawa ragam basa krama (krama lugu, atau krama alus). Dalam pemaparan sebuah cerita ada beberapa macam peran yang akan dilakukan oleh anak. Anak akan menggunakan ragam basa ngoko juga ragam basa krama sesuai peranan yang ada dalam cerita.

“Le, kowe mulih sekolah jam pira ? Kula wangsul jam setunggal, Mbah.”, “Pak, kula wau sowan simbah lajeng dipun paringi arta kalih simbah”.

Demikian dicontohnya. Namun ketika di lingkungan kehidupannya, dia mengatakan, “Pak, kula badhe kondur rumiyin”, “Bu, kula nyuwun dhahar”, “Mas, kula ajeng siram”. Dan sebagainya.

Kemudian teman-temanya akan menertawakannya. Hal ini juga akan membuat anak menjadi malu untuk mengulangi menggunakan kata-kata dalam ragam basa krama. Akhirnya ungkapan-ungkapan ini akan banyak kita dengarkan. “Pak, aku bali sik, ya “ , “Mbak, wis madhang gurung ?”, “Ngko arep mangkat jam pira, Mas ?”, “Nek wis ngantuk, kana turu, Lik.” Itu sebagian dari ungkapan-ungkapan yang tidak pas untuk diterapkan dalam kehidupan berbahasa anak. Semestinya ungkapan itu adalah, “Pak, kula wangsul rumiyin, nggih “ , “Mbak, sampun dhahar menapa dereng ?”, “Mangke badhe tindak jam pinten, Mas ?”, “Menawi sampun ngantuk, sumangga sare, Lik.”

Namun demikian ungkapan-ungkapan seperti itu anak kadang jarang menemui. Oleh karena itu, peran pendidikan di sekolah sangatlah berat ketika tidak ada kerja sama dengan orang tua serta saudara-saudara di lingkungan kehidupannya. Kalau hal ini dibiarkan akan membahayakan, karena penanaman karakter unggah-ungguh bisa jadi tidak terwujud. Kalau anak sudah menggunakan Bahasa Jawa ragam ngoko, maka perasaan hormat kepada lawan bicara seakan sudah tidak ada. Berbeda kalau anak menggunakan ragam bahasa krama, maka perasaan hormat kepada lawan bicara itu tetap ada. Ketika rasa hormat kepada lawan bicara sudah tidak ada, tidak mustahil tata krama yang selama ini kita jaga tidak akan terpupuk dan terpelihara.

Apakah tata krama unggah-ungguh itu harus dengan Bahasa Jawa ragam krama? Jawabannya jelas tidak. Karena letak penghormatan seseorang terletak pada penyebutan jenis kata kerja dan nama anggota badan bagi orang yang dihormati, dengan kosa kata tembung krama inggil. Namun demikian nuansa rasa hormat akan muncul ketika seseorang menggunakan Bahasa Jawa ragam krama.

Lantas bagaimana agar ragam krama ini tetap digunakan untuk menanamkan tata krama kepada siswa, kita sebagai pendidik dan orang tua selalu memberi contoh dan arahan agar siswa sering mendengar dan meniru serta menggunakan Bahasa Jawa ragam krama. Kita juga tetap waspada terhadap segala perilaku anak yang mungkin menyimpang dari tatanan norma, baik norma sosial, agama maupun aturan negara. Nasihat, contoh-contoh perilaku, tata tertib siswa juga harus ditulis yang jelas dan operasional, sehingga siswa dapat memahami dan menerapkan tata tertib itu dengan baik, mudah dan bertanggung jawab. Agar kelak menjadi anak yang berakhlak mulia berbudi pekerti luhur, berkarakter dan berwawasan global. (tj3/1/aro)

Guru SMP Negeri 3 Sukoharjo