33 C
Semarang
Selasa, 26 Mei 2020

Siswa SMP Enggan Berbahasa Jawa Krama

Another

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat...

RADARSEMARANG.COM – AKHIR-akhir ini siswa SMP enggan berbahasa Jawa ragam krama. Dalam berkomunikasi dengan orang tua dan keluarganya di rumah dan di dalam lingkungan pergaulannya, juga dengan bapak dan ibu guru di sekolah,  siswa banyak terbiasa berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa dalam ragam ngoko. Anak tidak menguasai kosa kata ragam krama, karena tidak terbiasa. Ada pepatah mengatakan ‘orang bisa karena biasa’.

Unggah-ungguh basa dalam bahasa Jawa bisa diimplementasikan untuk menanamkan karakter anak didik. Anak akan menghormati orang lain (yang lebih tua) dengan cara berbicara menggunakan ragam basa krama alus. Ragam basa krama digunakan untuk berbicara dengan orang lain yang lebih tua. Hal ini perlu latihan–latihan yang tidak gampang. Bermain peran adalah model yang dapat diterapkan untuk melatih dan membiasakan anak untuk berbicara menggunakan Bahasa Jawa ragam basa krama (krama lugu, atau krama alus). Dalam pemaparan sebuah cerita ada beberapa macam peran yang akan dilakukan oleh anak. Anak akan menggunakan ragam basa ngoko juga ragam basa krama sesuai peranan yang ada dalam cerita.

“Le, kowe mulih sekolah jam pira ? Kula wangsul jam setunggal, Mbah.”, “Pak, kula wau sowan simbah lajeng dipun paringi arta kalih simbah”.

Demikian dicontohnya. Namun ketika di lingkungan kehidupannya, dia mengatakan, “Pak, kula badhe kondur rumiyin”, “Bu, kula nyuwun dhahar”, “Mas, kula ajeng siram”. Dan sebagainya.

Kemudian teman-temanya akan menertawakannya. Hal ini juga akan membuat anak menjadi malu untuk mengulangi menggunakan kata-kata dalam ragam basa krama. Akhirnya ungkapan-ungkapan ini akan banyak kita dengarkan. “Pak, aku bali sik, ya “ , “Mbak, wis madhang gurung ?”, “Ngko arep mangkat jam pira, Mas ?”, “Nek wis ngantuk, kana turu, Lik.” Itu sebagian dari ungkapan-ungkapan yang tidak pas untuk diterapkan dalam kehidupan berbahasa anak. Semestinya ungkapan itu adalah, “Pak, kula wangsul rumiyin, nggih “ , “Mbak, sampun dhahar menapa dereng ?”, “Mangke badhe tindak jam pinten, Mas ?”, “Menawi sampun ngantuk, sumangga sare, Lik.”

Namun demikian ungkapan-ungkapan seperti itu anak kadang jarang menemui. Oleh karena itu, peran pendidikan di sekolah sangatlah berat ketika tidak ada kerja sama dengan orang tua serta saudara-saudara di lingkungan kehidupannya. Kalau hal ini dibiarkan akan membahayakan, karena penanaman karakter unggah-ungguh bisa jadi tidak terwujud. Kalau anak sudah menggunakan Bahasa Jawa ragam ngoko, maka perasaan hormat kepada lawan bicara seakan sudah tidak ada. Berbeda kalau anak menggunakan ragam bahasa krama, maka perasaan hormat kepada lawan bicara itu tetap ada. Ketika rasa hormat kepada lawan bicara sudah tidak ada, tidak mustahil tata krama yang selama ini kita jaga tidak akan terpupuk dan terpelihara.

Apakah tata krama unggah-ungguh itu harus dengan Bahasa Jawa ragam krama? Jawabannya jelas tidak. Karena letak penghormatan seseorang terletak pada penyebutan jenis kata kerja dan nama anggota badan bagi orang yang dihormati, dengan kosa kata tembung krama inggil. Namun demikian nuansa rasa hormat akan muncul ketika seseorang menggunakan Bahasa Jawa ragam krama.

Lantas bagaimana agar ragam krama ini tetap digunakan untuk menanamkan tata krama kepada siswa, kita sebagai pendidik dan orang tua selalu memberi contoh dan arahan agar siswa sering mendengar dan meniru serta menggunakan Bahasa Jawa ragam krama. Kita juga tetap waspada terhadap segala perilaku anak yang mungkin menyimpang dari tatanan norma, baik norma sosial, agama maupun aturan negara. Nasihat, contoh-contoh perilaku, tata tertib siswa juga harus ditulis yang jelas dan operasional, sehingga siswa dapat memahami dan menerapkan tata tertib itu dengan baik, mudah dan bertanggung jawab. Agar kelak menjadi anak yang berakhlak mulia berbudi pekerti luhur, berkarakter dan berwawasan global. (tj3/1/aro)

Guru SMP Negeri 3 Sukoharjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus korona. ANTONIUS CHRISTIAN, Solo-DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa...

Utang Besar

Kalau diterjemahkan, nama perusahaan ini berarti 'sejahtera'. Di Singapura ia didaftarkan dengan nama Hin Leong Trading Ltd --bahasa daerah Hokkian, tempat lahir pendiri perusahaan...

More Articles Like This

Must Read

Temuan SKTM Palsu Terus Bertambah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng tetap mengumumkan hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA dan SMK pada Rabu (11/7) kemarin. Hanya saja, pengumuman dilakukan...

Sopir Ambulans Edarkan Sabu

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Seorang sopir ambulans berinisial B alias T, 44, pegawai di instansi Public Safety Center (PSC) 119 Kota Magelang dibekuk Satuan Narkoba...

Jembatan Kayu Putus, Truk Terjun ke Sungai

DEMAK - Jembatan kayu  di atas Kali Serang yang menghubungkan Desa Rejosari, Kecamatan Mijen, Demak dengan Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, pagi kemarin...

Ratusan Proyek Belum Dikerjakan

SEMARANG-Ratusan proyek infrastruktur yang dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Semarang 2017 sebesar Rp 4,5 triliun, ternyata baru terserap Rp 1,2...

Hutan di Jateng Terancam Rusak

SEMARANG - Kawasan hutan di Jawa Tengah terancam rusak parah. Sebab, karena keterbatasan anggaran pemprov hanya mengalokasikan penanaman 2 juta pohon setiap bulan. Selain...

Kapolda Imbau Masyarakat Isi E-Filing

SEMARANG - Forum Silaturahmi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) I Jawa Tengah bersama Kapolda Jawa Tengah mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) PPh melalui e-Filing yang...