Selalu Pegang Tiga Spirit Kesuksesan

Dr H  Abdurrahman Kasdi, Lc, MSi 

187
UTAMAKAN PENDIDIKAN : Abdurrohman Kasdi dalam Rapat Senat Terbuka Terbatas Ujian Promosi Doktor IAIN Walisongo Semarang. (dokumen pribadi)
UTAMAKAN PENDIDIKAN : Abdurrohman Kasdi dalam Rapat Senat Terbuka Terbatas Ujian Promosi Doktor IAIN Walisongo Semarang. (dokumen pribadi)

RADARSEMARANG.COM – Kemauan, perjuangan dan komitmen adalah tiga elemen penting yang wajib dimiliki setiap orang yang ingin meraih kesuksesan. Kemauan dan perjuangan melahirkan prestasi. Sedangkan komitmen melahirkan kontinuitas dan tanggung jawab. Demikianlah prinsip Dr H Abdurrahman Kasdi, Lc, MSi dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.

Menurutnya, kebaikan itu harus dilakukan terus menerus, tidak hanya sekali dua kali saja, agar masyarakat memberikan image bahwa orang tersebut memang baik. Sebagai anak kampung, kisah perjuangan pria kelahiran Pati, 25 Februari 1976, yang akrab disapa Kang Dur ini sangat berliku. Ia lahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya, Kasdi, merupakan petani yang hanya mengandalkan beberapa petak sawah. Namun, ia punya prinsip agar keluar dari jerat kemiskinan. Karena itu, pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh. Dengan pendidikan, seseorang bisa memperluas cakrawala, mengubah paradigma berfikir, dan bisa memperbanyak networking.

Sebagai anak kampung, tetangga sekitar rata-rata bekerja sebagai petani dan peternak. Ia pun kemudian sempat memiliki persepsi, bahwa orang sukses itu, ya harus bertani dan beternak. Setelah remaja, Abdurrahman menjalani pendidikan di sebuah pondok pesantren  dekat kota dan sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang dilanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Dalam proses pendidikan ini, ia kemudian banyak berinteraksi dengan orang kota. Persepsinya tentang orang sukses pun berubah. Ia berpikir, bahwa ternyata berdagang dan menjadi pegawai itu lebih menjanjikan ketimbang bertani dan beternak. Apalagi setelah kuliah, semakin luas pandangannya tentang kiat-kiat sukses. “Bahwa ternyata menjadi konsultan, orang yang bergerak di bidang jasa juga lebih survive ketimbang lainnya,” ujar suami dari Dr Hj Umma Farida, Lc, MA, Sekretaris Umum PW Muslimat NU Jateng dan Dosen STAIN Kudus ini.

Berbekal persepsi demikian, Kang Dur dengan segala daya dan upaya tetap berusaha melanjutkan kuliah. Dalam pendidikan, ia meraih gelar Magister terbaik di Universitas Indonesia (UI) pada 2004, dan Doktoral terbaik di IAIN Walisongo Semarang pada 2012 dengan predikat cumlaude. Selama menempuh studi, baik S1 (di Universitas Al Azhar, Mesir), S2 (di UI Jakarta) maupun S3 (di IAIN Walisongo Semarang), ia tidak pernah meminta uang sepeserpun dari orang tua. Sebaliknya, ia hanya mengandalkan beasiswa untuk mencukupi kebutuhan perkuliahan dan kehidupan sehari-hari. Bahkan dengan kegigihannya itu, selesai S2, dengan bekal saving dari beasiswa S1 dan S2, ia bisa membangunkan rumah untuk kedua orangtuanya di kampung halaman.

Dia selalu berupaya mengembangkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. “Pengaruh nilai kuliah (IPK) terhadap kesuksesan seseorang hanya kecil sekali, maka dari itu harus ditunjang dengan keaktifan dalam berorganisasi dan membangun jaringan (networking),” katanya penuh optimisme.

Dia mengungkapkan, setidaknya ada tiga spirit yang melandasi kesuksesan seseorang, yaitu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Tiga spirit inilah yang selalu dipegang. Baik ketika mengawali karir menjadi penerjemah berita untuk politik Timur Tengah di ANTV dan TV7 (Sekarang Trans 7) pada  2003, sampai ketika menjadi Direktur Pascasarjana di STAIN Kudus dan sekarang menjabat Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STAIN Kudus .

Karir Kang Dur pun sangat cepat, saat masih CPNS (2004), sudah dipercaya menjadi Sekretaris P3M (Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) STAIN Kudus. Pada saat menempuh S3, pada usia 31 tahun Kang Dur juga dipercaya menjadi Dekan FAI Unisfat Demak dan setahun kemudian diangkat menjadi Wakil Rektor 1 Unisfat bidang akademik sampai 2010.

Pada 2011, diusianya yang ke-35 tahun, ia sudah menyelesaikan jenjang Doktoral (S3) dan langsung diberi amanat oleh kampusnya, STAIN Kudus menjadi Wakil Ketua III (Wakil Rektor III) dan mulai awal tahun 2013 pada usia ke-37, diberi amanah menjadi Direktur Pascasarjana STAIN Kudus. (wahib pribadi/ric)