Orang Kaya, Mampu Kendalikan Hawa Nafsu

178
HARMONIS : Abdurrohman Kasdi bersama istri, Umma Farida, dan dua anaknya, Akmal Fawwaz Aulia Rahman serta Azka Fayyad Atqia Rahman. (Dokumen pribadi)
HARMONIS : Abdurrohman Kasdi bersama istri, Umma Farida, dan dua anaknya, Akmal Fawwaz Aulia Rahman serta Azka Fayyad Atqia Rahman. (Dokumen pribadi)

RADARSEMARANG.COM – Di sela-sela kesibukan kampus, Kang Dur tidak melupakan tugas sebagai makhluk sosial dan tugas bermasyarakat. Buktinya ia aktif di berbagai organisasi sosial dan keagamaan.

Diantaranya: menjadi Sekretaris DPD KNPI Demak (2010-2013), Sekretaris III PW IKA PMII Jawa Tengah (2010-2015), Sekretaris MUI Kabupaten Demak (2011-2016), dan Ketua PC GP Ansor Kabupaten Demak (2013-2018). “Orang itu kalau beda pendapat kadang tidak menjadi masalah. Nah, yang masalah itu kalau beda pendapatan,” selorohnya. Maka dari itu, untuk mensinergikan antara pendapat dan pendapatan, khususnya antara karir dan pengabdian, maka ia sempatkan untuk aktif dalam organisasi sosial dan keagamaan.

“Kalau semuanya selalu dihitung dengan uang, semuanya harus menghasilkan secara materi, ya tidak akan ada habisnya. Misalnya, sudah beli satu rumah masih pengin rumah kedua. Kemudian, sudah punya satu mobil pengin mobil kedua, dan seterusnya,” ujar dia.  Ia pun mengingat kata Rasulullah, “Orang yang kaya sejatinya adalah orang yang bisa mengekang nafsunya”.

Karena itulah, ia punya keyakinan bahwa setiap kegiatan, profesi, dan apa saja yang dikaruniakan oleh Allah SWT, pasti ada hikmahnya. “Kadang sesuatu menurut kita itu baik, padahal menurut Allah tidak baik. Sebaliknya, kadang menurut kita tidak baik, tetapi menurut Allah itu baik. (QS. At-Takwir: 29). Sehingga kita selalu husnudzdzan kepada Allah. Apa yang ditakdirkan kepada kita itu ada hikmahnya,” katanya.

Kang Dur membuktikan itu. Ketika kuliah di al-Azhar Mesir, ia bisa berkunjung ke beberapa negara dan perguruan tinggi ternama. Diantaranya; Universitas al-Azhar, Universitas Cairo, Aniversitas ‘Ain asy-Syam, dan American University in Cairo, Mesir (1996-2000). Kemudian, Universitas Umm al-Qura’ Makkah dan Jami’ah Islamiyah Madinah, Saudi Arabia (1997), serta ke Yordania (1996), Qatar (2000), dan Uni Emirat Arab (2000).

Pada saat penelitian Disertasi (S3), ia juga mendapatkan beasiswa penelitian dari Kemenag untuk meneliti wakaf produktif di Universitas Al-Azhar (2009). Sedangkan ketika menjabat sebagai Direktur Pascasarjana, ia juga mendapatkan kesempatan melakukan studi banding ke Malaysia (International Islamic University/IIU dan Universitas Kebangsaan Malaysia/UKM) serta ke Singapura (National University of Singapore). Bahkan ia juga telah 5 kali dikirim menjadi petugas haji Indonesia (TPHI Kloter dan TPHI Non Kloter), baik mewakili PBNU maupun mewakili kampusnya. (wahib pribadi/ric)