Perlunya Perubahan Paradigma tentang Mengajar

458
Oleh : Dra Eva Ratihwulan M.Pd
Oleh : Dra Eva Ratihwulan M.Pd

RADARSEMARANG.COM, PANDANGAN mengajar yang hanya sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan, dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. Mengapa bisa begitu? Minimal, ada tiga alasan penting. Alasan inilah yang kemudian menuntut perlu terjadinya perubahan paradigma mengajar; dari mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran, hingga mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.

Pertama, siswa bukan orang dewasa dalam bentuk mini. Melainkan, mereka adalah organism yang sedang berkembang. Agar mereka dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangannya, dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang secara optimal.

Karena itulah, kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi—khususnya teknologi informasi— memungkinkan setiap siswa dapat dengan mudah memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas tanggung jawabnya. Guru dituntut lebih aktif mencari informasi yang dibutuhkan. Ia juga harus mampu menyeleksi berbagai informasi yang dianggap perlu, juga penting untuk kehidupan mereka.

Guru harus menjaga siswa agar tidak terpengaruh oleh berbagai informasi yang dapat menyesatkan dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Karena itu, kemajuan teknologi menuntut perubahan peran guru. Guru tidak lagi memosisikan diri sebagai sumber belajar yang bertugas menyampaikan informasi. Melainkan, harus berperan sebagai pengelola sumber belajar untuk dimanfaatkan siswa itu sendiri.

Guru saat ini berperan sebagai fasilitator. Siswa dituntut mencari informasi sendiri terlebih dahulu dari berbagai sumber. Manakala siswa mengalami kesulitan, baru guru berperanan mengarahkan, memfasilitasi, dan memberi pencerahan kepada peserta didik.

Kedua, ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecenderungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Begitu hebatnya perkembangan ilmu biologi, ilmu ekonomi, hukum, dan lain sebagainya. Apa yang dulu tidak pernah terbayangkan, sekarang menjadi kenyataan. Di bidang teknologi, misalnya, begitu hebatnya orang menciptakan benda-benda mekanik yang bukan hanya diam. Tetapi bergerak, bahkan bisa terbang menembus angkasa luar. Pun, kehebatan para ahli yang bergerak dalam bidang kesehatan yang mampu mencangkok organ tubuh manusia, sehingga menambah harapan hidup manusia.

Semua di balik kehebatan-kehebatan itu, bersumber dari apa yang kita sebut sebagai pengetahuan. Abad pengetahuan itulah yang seharusnya menjadi dasar perubahan. Bahwa belajar, tak hanya sekadar menghafal informasi dan menerima pengetahuan. Tetapi mengasah kemampuan berpikir dengan menganalisis berbagai masalah.

Ketiga, penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah laku manusia. Dewasa ini, anggapan manusia sebagai organism pasif yang perilakunya dapat ditentukan oleh lingkungan—seperti dijelaskan dalam aliran behavioristic—telah banyak ditinggalkan orang. Orang sekarang lebih percaya bahwa manusia adalah organism yang memiliki potensi, seperti yang dikembangkan oleh aliran kognitif holistic. Potensi itulah yang akan menentukan perilaku manusia. Karena itu proses pendidikan bukan lagi memberikan stimulus. Tetapi usaha mengembangkan potensi yang dimiliki oleh pembelajar tersebut. Di sini, siswa tidak lagi dianggap sebagai objek. Tetapi sebagai subjek belajar yang harus mencari dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan itu tidak diberikan, akan tetapi dibangun oleh siswa.

Ketiga hal di atas, menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajar jangan hanya diartikan sebagai proses menyampaian materi pembelajaran. Atau, memberikan stimus sebanyak-banyaknya kepada siswa. Namun lebih dipandang sebagai proses mengatur lingkungan, agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

Dalam istilah “pembelajaran’ yang lebih dipengaruhi oleh perkembangan hasil-hasil teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan belajar, siswa diposisikan sebagai subjek belajar yang memegang peran utama. Sehingga dalam setting proses belajar mengajar, siswa dituntut beraktivitas secara penuh. Bahkan secara individual mempelajari bahan pelajaran. Dengan demikian, kalau dalam istilah “mengajar (pengajar)” atau “teaching” menempatkan guru sebagai “pemeran utama” memberikan informasi, maka dalam “instruction” guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, memanage berbagai sumber dan fasilitas untuk dipelajari siswa. (*/isk)

 Guru SMA Negeri 5 Magelang