Kampung Bahari Diprediksi Molor

310
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG PROYEK KAMPUNG BAHARI DIPREDIKSI MOLOR : Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Taman Kampung Bahari di kawasan Tambaklorok, Kota Semarang, Kamis (5/4). Penyelesaian pembangunan Kampung Bahari diprediksi molor akibat pembebasan lahan belum tuntas. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG PROYEK KAMPUNG BAHARI DIPREDIKSI MOLOR : Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Taman Kampung Bahari di kawasan Tambaklorok, Kota Semarang, Kamis (5/4). Penyelesaian pembangunan Kampung Bahari diprediksi molor akibat pembebasan lahan belum tuntas. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Proyek pembangunan Kampung Bahari di Tambaklorok, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) diprediksi molor. Sebab, sejumlah lahan milik warga hingga saat ini belum dibebaskan oleh Pemkot Semarang.

Digadang-gadang, ke depan kawasan kumuh di Tambaklorok Semarang tersebut bakal disulap menjadi kampung apung. Salah satu contoh adalah balai pertemuan apung berlantai dua di kawasan tersebut menghabiskan dana Rp 1 miliar. Mimpi jauh ke depan, setiap rumah apung milik warga akan dibangun dengan perkiraan biaya antara Rp 100 juta hingga Rp 300 juta. Jika ada rob, permukiman apung tersebut akan terapung mengikuti debit air.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono mengaku pesimistis proyek ini bisa selesai tepat waktu. Salah satu contohnya adalah pengerjaan jalan berhenti lantaran beberapa rumah yang terkena dampak proyek ternyata belum dibebaskan.

“Di lapangan, hanya ada dua pekerja yang sedang membangun taman. Sedangkan untuk pembangunan jalan terhenti lantaran ada rumah yang belum dibebaskan,” katanya, Kamis (5/4).

Pemkot diminta segera melakukan percepatan dalam rangka membantu pemerintah pusat. “Kami mengapresiasi pembangunan Kampung Bahari. Beberapa titik lokasi sudah dilakukan pembangunan cukup signifikan. Ada pedestrian, tambatan kapal, dan lain-lain. Di sisi lain, memang ada tiga pekerjaan besar yang jadi perhatian, yakni pelebaran jalan, ternyata masih sedikit sekali yang sudah dilakukan pengecoran,” katanya.

Diperkirakan baru terlaksana 20 persen. Hal ini karena terkendala pembebasan lahan. Padahal jalan tersebut menjadi akses paling utama. Selanjutnya pembangunan taman atau Ruang Terbuka Hijau (RTH). “Progres pembangunan RTH ini juga belum ada progres signifikan. Selain itu pembangunan pasar, belum signifikan,” katanya.

Sebab, kondisi di lapangan terlihat belum banyak pekerja yang terlibat. Maka dari itu, lanjutnya, pekerjaan proyek nasional ini diharapkan dapat dilakukan upaya percepatan seperti penambahan pekerja oleh kontraktor. “Saya membaca, kontrak proyek ini berakhir pada Juli mendatang. Maka saya mendorong agar dilakukan percepatan. Meskipun saya tidak optimis, pada Juli mendatang akan selesai,” katanya.

Salah satu warga Tambak lorok, Vonas, mengaku akses jalan menuju pasar ikan hingga saat ini semakin memprihatinkan. Apalagi saat terjadi hujan deras. Pembetonan baru dilaksanakan dari ujung pantai hingga sebelum Pasar TPI Tambaklorok. Kurang lebih masih menyisakan 200-an meter yang belum dibeton.

“Saya enggak tahu, katanya akses jalan menuju ke Kampung Wisata Bahari ini merupakan proyek nasional, tapi kok kondisinya sangat memprihatinkan,” katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, memang masih ada kendala mengenai pembebasan lahan di kawasan Tambak Lorok. Salah satunya akses menuju dermaga, dengan panjang 378 meter dan lebar 20 meter. “Kami targetkan pembayaran ganti untung warga dilaksanakan Oktober nanti menggunakan APBD Perubahan 2018,” katanya. (amu/ric)