INOVATIF : Ketua RW 07 Kelurahan Wates Kota Magelang, Sukaryadi, menimbun sampah organik ke dalam biopori plus, inovasi baru dari Kampung Organik Pinggirejo Kota Magelang Kamis (5/4). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
INOVATIF : Ketua RW 07 Kelurahan Wates Kota Magelang, Sukaryadi, menimbun sampah organik ke dalam biopori plus, inovasi baru dari Kampung Organik Pinggirejo Kota Magelang Kamis (5/4). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Kampung Organik Pinggirejo RW 07 Kelurahan Wates, Kota Magelang mencoba inovasi baru bernama biopori plus. Inovasi tersebut merupakan penggabungan dua fungsi menjadi satu wadah, yakni biopori sebagai resapan air dan tempat pembuatan pupuk kompos.

Pembina Kampung Organik Pinggirejo, Berdiyanto, Kamis (5/4) kemarin ditemui di basecamp Kampung Organik mengatakan, ide mencoba inovasi tersebut murni muncul dari warga RW 07 yang sudah cukup lama mengelola kampung organik. Gagasannya sendiri, menurut Berdiyanto, sangat sederhana yaitu bagaimana caranya agar biopori itu tidak hanya menjadi resapan air, tapi memiliki fungsi lain.

“Biopori biasanya berukuran kecil sekecil paralon yang dibuat di beberapa titik. Karena ukuran kecil, maka sering tidak mampu menampung air hujan yang terkadang volumenya tinggi, sehingga fungsi biopori kurang maksimal,” kata Berdiyanto.

Setelah mencari berbagai referensi dan berdiskusi dengan warga, pihaknya berpikir untuk membuat biopori yang multifungsi. Akhirnya tercetus gagasan membuat biopori dengan ukuran cukup besar yang fungsinya tidak hanya untuk resapan air, tapi sekaligus pembuatan pupuk kompos.

“Kami buat biopori berbentuk kotak ukuran 70 x 40 cm dan kedalaman 60 cm. Di dalam kotak ini, dimasukkan krat minuman  dengan fungsi menampung sampah organik. Di bagian atas dilindungi dengan ram besi dan di bibir lubang dicor agar lebih kuat,” bebernya.

Praktik dan proses pemanfaatan biopori plus, menurut Berdiyanto, sangat sederhana karena sampah organik seperti dedaunan, buah, dan sayuran langsung dimasukkan ke dalam kotak biopori. Saat hujan biopori ini berfungi sebagai resapan air sekaligus dapat mempercepat pembusukan sampah organik.

“Untuk menjadi kompos, kira-kira butuh waktu sekitar 20 hari. Setelah 20 hari, kita angkat kratnya dan isinya diambil untuk dijemur. Setelah kosong diisi kembali dengan sampah organik,” ungkapnya.

Ketua RW 07 Kampung Pinggirejo, Sukaryadi memaparkan, inovasi ini sangat sederhana dan diklaim tidak ada di tempat lain alias yang pertama. Biopori plus menurutnya bisa diterapkan di mana saja, termasuk kampung-kampung yang lahannya sempit.

“Pembuatan bisa di jalan kampung atau gang, bisa pula di pekarangan rumah. Biayanya memang tidak murah, karena satu lubang sampai Rp 300.000. Yang mahal di besi pelindungnya,” imbuh Sukaryadi.

Lanjut Sukaryadi, pembuatan biopori plus di Kampung Organik, biaya berasal dari kas kampung dengan uji coba sebanyak 5 lubang yang dibuat di area basecamp Kampung Organik. “Baru kita mulai Selasa (2/4) lalu dan biopori sudah diisi dengan sampah organik. Kami berharap dengan adanya biopori plus ini produksi pupuk kompos meningkat dari biasanya 60 kg/bulan. Sisi lain sampah yang terolah akan lebih banyak,” pungkas Sukaryadi. (had/lis)