Tinggi, Penderita Kekerdilan

297

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID—Jumlah anak-anak di Kabupaten Magelang yang menderita stunting (kekerdilan) masih cukup tinggi. Pada 2017 lalu, misalnya, tercatta ada 105 anak dari 37,6 persen balita. Penyebabnya, Kabupaten Magelang masuk dalam daerah endemis gondok. Sedangkan untuk gizi buruk sendiri, masih ada 30 anak pada 2016, dan 18 anak pada 2017.

“Karena Kabupaten Magelang masuk dalam wilayah endemis gondok, biasanya penderita stunting tersebut berbanding lurus dengan penderita gondok,” terang Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Aman di sela-sela penandatanganan MoU kerjasama dengan FOI di aula Dinkes Magelang, Selasa (3/4) kemarin.

Kerja sama yang dilakukan untuk menekan angka gizi buruk dan anak stunting (kekerdilan) dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dan Foodbank Of Indonesia (FOI). Kerja sama dituangkan dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).

“Tujuannya, membangun kerja sama antara pemerintah dengan lembaga masyarakat dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDG’s) mengenai bidang pangan dan gizi. Misinya, mengakhiri kelaparan dan meningkatkan gizi anak, melalui pelaksanaan program sayap dari ibu (Sadari).”

Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia, M Hendro Utomo, mengatakan, gizi sangat mempengaruhi kualitas hidup manusia. Pada umumnya, anak yang kurang gizi, akan tumbuh lebih pendek dan mengalami kelambatan pertumbuhan otak.

“Maka, perlu adanya pedoman bagi individu, keluarga, masyarakat tentang pola makan yang sehat. Juga sangat penting untuk menjaga gizi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir atau saat 1000 hari pertama kehidupan.”

Terkait kerja sama, lanjut Hendro, pihaknya telah menginisiasi program Sadari di seluruh Puskesmas. “Tahap awal, kami kembangkan di Kecamatan Mungkid.” Di sana, ada tiga kelompok Posyandu yang sudah dilatih. Yakni, Posyandu di Desa Mungkid, Sanggrahan; dan Desa Gatak Sirat. Salah satu programnya, memberikan makanan tambahan berbahan baku lokal selama tiga kali dalam seminggu untuk ibu hamil dan menyusui, juga balita. (vie/isk)