Mengkaji Bisnis Kuliner

357
Oleh : B.Junianto Wibowo
Oleh : B.Junianto Wibowo

RADARSEMARANG.COM – Saat ini, bisnis kulineran telah merebak di berbagai penjuru kota. Tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga sampai ke kota-kota kecil. Perkembangannya cukup pesat sekali, karena hampir setiap tahun muncul usaha kulineran baru. Pada kuartal ke II tahun 2017, tingkat pertumbuhan bisnis kuliner telah mencapai 7,19%. (Aryant, Bisnis.Com)

Pada umumnya, aneka makanan dan minuman yang menjadi menu andalan dalam bisnis kulineran bersifat tradisional. Yang berbeda antara kota satu dengan kota lainnya, dan telah menjadi core business nya. Misalnya Semarang dengan usaha Tahu Gimbal, Bandeng Presto, Mie Kopyok, Lunpia, Soto Semarang. Surakarta dengan ayam bakar, Timlo, Serabi, Yogyakarta dengan gudeg, soto sulung, bakpia, dll.  Namun, ada juga  yang mengusahakan makanan dan minuman yang telah menjadi favorit bagi sebagian besar masyarakat umum, seperti bakso, mie, sate, tengkleng, nasi goreng, dll.

Kreativitas Usaha

Beberapa tahun belakangan ini, kemajuan bisnis kulineran ditandai dengan munculnya kreatifitas usaha yang mengikuti selera konsumen. Hal itu bisa dilihat dari ragamnya varian produk kuliner yang dijajakan pengusaha kuliner. Misalnya untuk bakso saja, ada bakso bola tenis, bakso krikil, bakso balungan, bakso babat, hingga bakso dengan kupat atau lontong.  Kemudian, wingko yang semula hanya rasa kelapa, sekarang ditawarkan dengan rasa durian, nangka, strawberry.  Juga ada gudeg ayam, telur, ceker, dan koyor, dan masih banyak lagi varian produk kuliner lainnya.

Dari segi pelayanan, semakin banyak yang menjajakan produk makanan dan minuman dengan sistim delivery, yaitu pesan dan antar.  Bahkan, ada beberapa yang menggunakan sistim online.

Untuk kenyamanan konsumen, semakin banyak pengusaha kuliner dalam menjalankan bisnisnya menampilkan tata ruang menarik. Mulai dari dekorasi dengan aneka pernak-pernik sampai kolam ikan serta taman nan indah. Sehingga membuat konsumen merasa betah.

Yang tidak kalah menariknya adalah semakin banyaknya pengusaha kuliner yang melengkapi usahanya dengan hiburan. Seperti tayangan televisi dengan acara menarik, yang kita sebut dengan nonton bareng sambil menikmati hidangan yang dibeli. Ada juga yang mengontrak pengamen, kemudian memainkan alunan musik kondang sehingga konsumen merasa betah untuk duduk begitu lama mendengarkan lagu sambil menikmati hidangan yang dipesan. Dan masih banyak lagi jenis hiburan menarik yang dipergunakan pengusaha kuliner untuk menarik konsumen.

Manfaat Bagi Lingkungan

Eksistensi bisnis kulineran amat berarti. Selain sebagai sumber pendapatan masyarakat juga menjadi sumber pendapatan asli daerah, seperti retribusi usaha maupun parkir.  Dari segi sosial, usaha kulineran ikut membantu Program Pemerintah Daerah dalam mengatasi pengangguran.  Artinya, munculnya usaha kulineran tanpa disadari akan mempekerjakan tenaga kerja yang tersedia di sekitarnya. Entah sebagai juru masak, kasir, pelayan, maupun bagian pengadaan bahan-bahan. Apabila, jumlah usaha kulineran bertambah, maka jumlah angkatan kerja yang terserap di usaha kulineran juga meningkat. Sehingga, jumlah angka pengangguran berkurang.

Yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa bisnis kulineran juga ikut menggerakkan ekonomi rakyat di sekitarnya. Sebagai misal, suatu usaha makanan yang memerlukan bahan-bahan akan disuplai oleh pedagang. Selanjutnya bahan-bahan yang di pedagang itu sendiri juga disuplai oleh petani. Jadi ada mata rantai yang tidak terpisahkan antara pengusaha kuliner, pedagang dan petani. Kemudian, adanya jasa usaha pendukung seperti jasa transportasi, penyediaan gas untuk kompor, perlengkapan kertas, plastik, dsbnya maupun jasa perbaikan.   Kesemuanya itu akan menimbulkan terciptanya aktivitas ekonomi di kalangan masyarakat. Dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Penataan Bisnis Kuliner

Meskipun bisnis kuliner telah berkembang pesat dengan segala kreatifitas dan manfaatnya terhadap lingkungan, namun masih cukup banyak ditemui usaha kuliner yang kondisi lingkungannya kurang baik, kotor, kumuh sehingga kurang menarik. Terutama yang ada di pinggir jalan atau di halaman. Sehingga, diperlukan penataan terhadap aneka bisnis kuliner yang dianggap  masih belum rapi.

Penataan bisnis kuliner, antara lain melalui pembentukkan cluster. Selain sangat memudahkan konsumen dalam memilih kuliner yang akan dituju, model cluster juga dapat menyatukan pengusaha kuliner sejenis dalam mengelola bisnisnya.

Misalnya, melalui paguyuban, yang dapat dipastikan kondisi usaha dari masing-masing anggota akan tetap terjaga baik. Karena ada jaminan kebersihan, keteraturan tempat usaha, ketersediaan bahan maupun sarana yang dibutuhkan.

Hal lain adalah setiap pengusaha kuliner akan mudah mengakses informasi penting seperti bahan baku, persaingan usaha, kredit bank, dsbnya. Yang kesemuanya itu sangat berguna dalam upaya perbaikan, pengembangan usaha, efisiensi maupun kemajuan bisnis kuliner. Sehingga, akan memberi keuntungan yang tidak sedikit bagi pengusaha kuliner. (*)