33 C
Semarang
Minggu, 12 Juli 2020

Dewan Minta Warga Tambakrejo Legowo

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang meminta agar warga Tambakrejo, Semarang, yang menolak atas rencana relokasi ke Rusunawa Kudu, agar bersikap legowo. Ia berharap warga bisa mengalah untuk segera pindah ke Rusunawa demi Kota Semarang.

Selain itu Pemkot Semarang juga diminta memerhatikan nasib para nelayan yang terancam kehilangan matapencaharian karena dipindah ke Rusunawa Kudu. Ini mengingat pembangunan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) sedang berjalan.

“Dalam kondisi seperti ini, kami berharap warga bisa mengalah dengan menempati Rusunawa Kudu. Ini demi pembangunan Kota Semarang lebih baik,” kata Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, kemarin.

Dia memahami keluhan warga Tambakrejo yang rata-rata bekerja sebagai nelayan. Kurang lebih 150-an nelayan di kawasan Tambakrejo, Semarang, yang terdampak normalisasi Sungai BKT sehingga harus direlokasi dan sudah disediakan relokasi di Rusunawa Kudu.

Wajar kalau sebagian nelayan masih menolak karena lokasi Rusunawa Kudu yang jauh dari laut. Sehingga menyulitkan mereka melaut sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari.

“Kami menyadari mereka tidak mungkin direlokasi ke permukiman yang jauh dari laut. Mereka kan nelayan. living cost-nya yang harus dikeluarkan tentunya lebih besar. Tapi kondisinya sudah mendesak,” katanya.

Selain itu, Pemerintah Kota Semarang harus segera menyiapkan Rusunawa bagi nelayan.  Proses pembangunan selalu memiliki dampak positif dan negatif. “Itu bagian dampak negatif. Sedangkan dampak positifnya, pembangunan normalisasi ini untuk menangani persoalan banjir. Yang merasakan juga masyarakat,” katanya.

Normalisasi Sungai BKT harus berjalan terus sehingga keberadaan warga yang masih menempati bantaran sungai tentu akan menghambat proses pembangunan yang dilakukan.

“Sebaiknya nelayan menempati Rusunawa Kudu sementara sembari menunggu pembangunan Rusunawa bagi nelayan yang rencananya akan dibangun di kawasan Tambaklorok, Semarang,” katanya.

Sebagai kompensasinya, Pemkot Semarang harus bisa memfasilitasi warga Tambakrejo. Misalnya dengan membebaskan uang sewa Rusunawa setidaknya selama satu tahun.

Sedikitnya, hingga kini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana mencatat ada 143 hunian di lokasi proyek normalisasi yang masih ditempati warga di Tambakrejo. 73 kepala keluarga di antaranya telah bersedia direlokasi. Sedangkan sisanya menolak.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan pihaknya masih melakukan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Rusunawa bagi nelayan di kawasan Tambaklorok sedang disiapkan. Tetapi pembangunan rusunawa nelayan ini tidak bisa dibangun sekarang. Kurang lebih dua tahun ke depan,” katanya.

Tahun ini, ada penambahan satu twinblok tower di Rusunawa Kudu merupakan bantuan dari Kementerian PUPR. Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi meminta agar warga nelayan di kawasan tersebut bersabar. “Sementara mau menempati Rusunawa Kudu, nantinya setelah Rusunawa di Tambaklorok selesai dibangun bisa menempati di situ,” katanya. (amu/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Sekolah Banjir, Siswa Pulang Gasik

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Akibat hujan deras yang turun selama tiga hari berturut-turut, gedung SMPN 3 Tirto, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan terendam banjir dengan ketinggian...

Pembelajaran Bahasa Jawa dengan Kartu Kata

Pembelajaran Bahasa Jawa saat ini mengalami proses metamorphosis. Termasuk pemilihan dan penguasaan kosa kata (diksi) Bahasa Jawa merupakan salah satu momok yang menakutkan bagi...

Siapkan KUR Rp 40 M

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG - BNI KC Temanggung tahun ini siap mengucurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 40 miliar. Dana KUR diprioritaskan untuk petani tembakau....

Keruk Tanah BKT Butuh Waktu Setahun

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Proses pembangunan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) saat ini telah memasuki tahap awal. Sejumlah alat berat dan beberapa truk telah beraktivitas di...

Berharap Jadi Sekolah Rujukan

MAGELANG–Kepala SD Mutual Kota Magelang Mustaqim, S.Pd.I.,M.Pd menjadi salah satu peserta dari 30 peserta program International Education Recharging (IER) to Beijing pada Senin-Selasa, 25...

Merapi Waspada, Pendakian Dilarang

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID - Letusan freatik Gunung Merapi, semakin intensif dalam dua hari ini. Setelah 3 kali letusan freatik Senin (21/5) dini hari pukul 01.25, disusul...