RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Jawa Tengah mengalami deflasi sebesar 0,004 persen pada bulan Maret. Penurunan harga beras menjadi salah satu pendorong utama terjadinya deflasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Margo Yuwono mengatakan, turunnya harga di kelompok bahan makanan menjadi pendorong utama deflasi di bulan Maret. Khususnya penurunan harga beras yang memberikan dampak cukup signifikan.

“Beras ini memiliki andil yang cukup besar dalam penghitungan inflasi deflasi. Sehingga penurunan harga akan memberikan dampak yang juga cukup besar. Namun demikian, bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, deflasi tidak setajam saat itu yang mencapai 0,12,” ujarnya, kemarin.

Deflasi ini terjadi di tiga kota Survey Biaya Hidup (SBH) yaitu Purwokerto, Tegal dan Cilacap. Masing-masing memiliki angka deflasi sebesar 0,44 persen, -0,27 persen dan Cilacap -0,11 persen. Sedangkan, inflasi tertinggi di Kota Surakarta sebesar 0,18 persen diikuti Kota Kudus sebesar 0,06 persen dan Kota Semarang sebesar 0,05 persen.

Adapun, lanjut dia, pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks adalah transport, komunikasi dan jasa keuangan. Margo menegaskan, penyebab utama deflasi adalah turunnya harga beras, daging ayam ras, telur ayam ras, kacang panjang dan kentang. “Naiknya harga bawang putih, bawang merah, bensin, nangka muda dan cabai merah merupakan komponen yang menahan laju deflasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, inflasi terjadi di semua ibukota provinsi di Pulau Jawa. Inflasi tertinggi di Serang sebesar 0,23 persen, Bandung 0,21 persen, Yogyakarta sebesar 0,15 persen, DKI Jakarta sebesar 0,09 persen, dan Surabaya sebesar 0,06 persen. “Inflasi terendah terjadi di Semarang sebesar 0,05 persen,” ujarnya. (dna/ric)