33 C
Semarang
Minggu, 31 Mei 2020

Siti Masitha Dituntut 7 Tahun

Eks Ketua Nasdem Dituntut 9 Tahun

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Tuntutan berbeda dijatuhkan Penuntut Umum (PU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap pasangan Bakal Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tegal, Siti Masitha Soeparno dan Amir Mirza Hutagalung. Keduanya dituntut atas kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) dugaan suap di RSUD Kardinah, Tegal dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (2/4).

Bahkan Wali Kota Tegal nonaktif, Siti Masitha tersebut terancam hak politiknya dicabut. Pasalnya PU KPK menuntut majelis hakim mencabut hak politiknya, setelah 4 tahun terdakwa bebas. Kemudian, Siti dituntut hukuman pidana selama 7 tahun penjara. PU KPK, Fitroh Rochcahyanto juga meminta majelis hakim menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 200 juta subsidair 6 bulan kurungan.

“Menuntut majelis hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan, melakukan tindak pidana sesuai yang diatur dalam dakwaan pertama, Pasal 12 huruf B, Undang-undang nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah ke dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) juncto Pasal 64 KUHP,” kata Fitroh di hadapan majelis hakim yang dipimpin Antonius Widjantono.

Sedangkan, terhadap mantan Ketua DPD Partai Nasdem Brebes, Amir Mirza Hutagalung, PU KPK menuntut pidana selama 9 tahun penjara. Amir juga dibebankan membayar denda sebesar Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan. Sidang tersebut digelar secara terpisah.

Dalam pertimbangannya, PU KPK menilai Siti Masitha menikmati suap sekitar Rp 500 juta. Namun Siti dianggap kooperatif selama menjalani persidangan. Kemudian, terdakwa Siti juga mengakui dan menyesali perbuatannya.

KPK menganggap, perbuatan Siti Masitha melibatkan Amir Mirza Hutagalung dalam pengaturan pemerintahan Tegal merupakan hal yang salah. Dia juga menilai uang suap yang diberikan dari Cahyo Supriyadi, Sugiyanto, Sri Murni, dan Sadat Fariz melalui Amir Mirza ditujukan kepada terdakwa. “Terdakwa menyatakan bahwa Amir Mirza Hutagalung merupakan representasi dirinya sebagai Wali Kota Tegal,” sebut Fitroh.

Kemudian, Amir Mirza Hutagalung sebagai orang dekat Siti Masitha, telah ikut campur dalam lingkungan pemerintahan Kota Tegal. Amir juga dianggap telah membantu sejumlah pihak dalam memenangkan proyek pekerjaan di Kota Tegal dengan menerima fee hingga mencapai Rp 5,8 miliar.

“Selain itu, Terdakwa juga membantu Cahyo Supriyadi (terpidana perkara yang sama) dalam membuat payung hukum uang jasa pelayanan di RSUD Kardinah Tegal dan sejumlah proyek pengadaan alat kesehatan dengan menerima fee hingga mencapai Rp. 2,9 miliar,” ungkapnya.

Usai mendengar tuntutan tersebut, Siti Masitha menyatakan akan membuat pembelaan atau pledoi secara pribadi. Dia juga mengatakan, penasehat hukumnya juga akan mengajukan pembelaan. Sama halnya dengan Amir Mirza. “Kami akan mengajukan pembelaan pribadi, yang mulia,” kata Siti. (jks/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Patung Yesus Tertinggi Tercatat Leprid

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Patung Yesus (setengah badan) membawa kambing dengan tinggi 3,8 meter dan lebar 2,8 meter, di halaman Gereja Santo Ignatius, Jalan Subali, Kota Semarang...

Tinggi, Minat Jadi Banser dan Fatser

BATANG - Banyaknya generasi muda di Kabupaten Batang yang ingin menjadi anggota Banser (Barisan Serba Guna) dan Fatser (Fatayat Serba Guna), membuat pengurus Korcab Kabupaten Batang...

Leonardo Ketua DPC HFLA Pantura

RADARSEMARANG.COM, PEMALANG - Untuk penyegaran organisasi, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Hotel Front Liners Association (HFLA) Pantura menggelar pemilihan ketua dan pengurus yang baru. Acara yang...

Pelaksanaan Grup Y Kacau

CIKARANG – Gelaran babak delapan besar Grup Y Liga 2 kembali mengalami penundaan jadwal. Bahkan kemungkinan besar babak delapan besar Grup Y yang rencananya...

Koleksi Ratusan Die Cast

Hobi memang bisa menjadi pemecah kejenuhan. Seperti yang dilakukan Kasatlantas Polres Salatiga AKP Eddy Sutrisno yang memiliki koleksi ratusan miniatur mobil atau die cast....

Belum Bisa Atur Sistem Buruh Migran

SEMARANG – Pelanggaran hak asasi manusia terhadap buruh migran di Indonesia saat ini masih belum bisa terselesaikan dengan baik oleh pemerintah. Bahkan pemerintah dianggap...