CINTAI LINGKUNGAN : Anggota Kopling bersama mahasiswa USM, STIEPARI Semarang dan pegawai Pemkot Semarang sebelum melakukan Gerakan Memungut Sampah (GMS) di Jalan Pahlawan, Kota Semarang. (DOKUMEN PRIBADI)
CINTAI LINGKUNGAN : Anggota Kopling bersama mahasiswa USM, STIEPARI Semarang dan pegawai Pemkot Semarang sebelum melakukan Gerakan Memungut Sampah (GMS) di Jalan Pahlawan, Kota Semarang. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Untuk peduli terhadap lingkungan, tak harus dinilai seberapa kaya dan seberapa mampunya seseorang. Tak perlu juga dinilai pengurus organisasi/lembaga resmi atau tidak. Tapi semua itu bisa dilihat dari kiprah nyata di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana yang dilakukan Komunitas Peduli Lingkungan (Kopling) Semarang.

JOKO SUSANTO

AKTIVITAS Kopling patut diapresiasi, kendati bukan aktivitas pecinta alam yang biasanya menyukai pengunungan. Sebab, kepeduliannya justru langsung menyentuh masyarakat banyak. Di antaranya, aksi peduli pendidikan dan literasi pada 12 November 2017, dengan membagikan 100 buku bacaan kepada TPQ di Kampung Pelangi Semarang. Pada 3 Februari 2018 lalu, membagikan nasi bungkus untuk tukang becak, petugas parkir, pengemis, dan kaum duafa, di sejumlah titik lokasi seperti Taman Gajahmungkur, Jalan Pemuda, Johar, Poncol, serta Jalan Imam Bonjol, Semarang.

Selain itu, Kopling juga pernah membagikan 250 nasi kotak dengan lauk pauk ayam goreng kepada anak jalanan dan gelandangan di seputar Hotel Metro Johar, Polder Tawang, Kampung Kali, Peterongan, Gajahmada, dan Simpanglima, Semarang. Kemudian berbagi sembako untuk para penyapu jalanan.

Adapun program terbarunya adalah Gerakan Memungut Sampah (GMS) yang dilakukan di seputaran lokasi Car Free Day (CFD), yakni dengan menyisir sembari menyapu jalanan di Jalan Pemuda, Pahlawan, Pandanaran, Semarang. Gerakan tersebut bekerjasama dengan Pemkot Semarang, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Pariwisata Indonesia (STIEPARI) Semarang dan Universitas Semarang (USM).

Menariknya Kopling ini, didirikan dan dibentuk tanpa sengaja, apalagi dirancang sebelumnya. Komunitas ini justru terbentuk saat nongkrong dan ngopi bareng empat anak muda di daerah Pleburan, Semarang. Adalah Agung Cahyono, mahasiswa Magister Manajemen Unisbank Semarang; Chintya Medyasari, alumni program Indonesia Mengajar (IM) cetusan Anies Baswedan yang saat ini menjadi Gubernur DKI Jakarta; serta Arvian Akte dan Joko Suwardoyo, keduanya karyawan perusahaan swasta. Bahkan meski sama-sama sibuk, keempatnya tetap kompak menyatukan visi dan misinya dalam menolong sesama warga Kota Lumpia.

“Kopling berdiri pada April 2016 lalu. Sekarang, anggotanya ada 30 orang. Untuk melakukan aksi social, jelas bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Terpenting adalah niat dan ketulusannya untuk membantu sesama, begitulah pedoman yang kami lakukan,” kata Kordinator Kopling Semarang, Agung Cahyono kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (2/4).

Komunitasnya, kata Agung, memiliki semangat mengajak dan terus berbagi terhadap sesame. Terutama bagi mereka yang hidupnya kurang berkecukupan. Kopling sendiri tergerak lantaran prihatin melihat kondisi lingkungan sekitar yang kurang tanggap terhadap sesamanya. Dengan modal nekat dan kepedulian kuat, Kopling akhirnya memantapkan diri membesarkan komunitas ini.

“Kami tidak berpikiran macam-macam, modalnya cuma nekat dan saling patungan. Kemudian mengajak siapa yang mau gabung, jadi murni swadaya yang mau berpartisipasi,” sebut alumni SMA Negeri 3 dan alumni sarjana teknik industri Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) ini.

Kopling kali pertama menggelar kegiatan pada Mei 2017, yakni membagikan 250 nasi kotak kepada anak jalanan dan gelandangan. Saat itu, pihaknya merasa jumlah nasi yang disediakan sudah banyak, ternyata masih kurang banyak. “Dari situlah, kami semakin tergerak untuk terus peduli kepada sesama,” tuturnya.

Bapak dua anak itu mengatakan, kehadiran Kopling membagikan nasi bungkus karena merasa sangat bermanfaat bagi mereka yang kurang beruntung hidupnya. Apalagi, anak jalanan dan gelandangan, banyak yang belum makan saat malam hari. “Gelandangan dan anak jalanan, kalau malam ngemper. Padahal, sejak paginya masih banyak yang belum sarapan. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbuat sedikit untuk membantu sesama,” sebut pria yang tinggal di Jalan Pamularsih, Semarang Barat ini.

Pendiri Kopling lainnya, Chintya Medyasari menambahkan, saat komunitasnya  membagikan 100 buku bacaan di TPQ, mendapatkan sambutan positif. Karena di sekolah tersebut, belum ada buku dan perpustakaan. Sedangkan, buku yang dibagikan itu ada buku cerita anak, sejarah, cerita rakyat, nabi, jalan wisata, dan pembentukan karakter.

Dikatakan Chintya, setiap orang pasti sering melihat lingkungan sekitar. Bisa dilihat kondisi lingkungan sekarang, bisa dibilang sangat memprihatinkan. Orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap sesama bisa dihitung dengan jari, belum lagi dari sisi banyaknya sampah yang berserakan, jalan yang rusak, sampah yang dibuang sembarangan, kurangnya pengawasan aparat pemerintahan, sikap acuh tak acuh masyarakat terhadap lingkungan yang ditinggalinya, dan lainnya.

Sudah seharusnya, katanya, masyarakat menyadari dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Karena lingkungan itu juga yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat itu sendiri. “Walaupun pemerintah telah melakukan berbagai upaya, jika masyarakat tidak mendukung, tentu tidak akan terlaksana dengan baik. Jadi sudah seharusnya, masyarakat berpartisipasi dan memberikan dukungan kepada pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang harmonis dan peduli sesama,” imbuhnya. (*/ida)