Menggagas Sekolah Ecopreneur

SMP IT PAPB Semarang

418
USMAN ROIN/TIM EKSIS SMP IT PAPB
USMAN ROIN/TIM EKSIS SMP IT PAPB

RADARSEMARANG.COMSOBAT Eksis, ragam prestasi SMP Islam Terpadu PAPB Semarang yang beralamat di Jalan Panda Barat 44, Palebon, Pedurungan telah ditorehkan. Mulai dari tingkat kota, regional hingga nasional.

Menurut penanggung jawab (pj) prestasi akademik dan non akademik, Mulyono, kepada Eksis Jawa Pos Radar Semarang, SMP IT PAPB pada 2011 dan 2013 telah mendapat anugerah sekolah yang menerapkan Pendidikan Karakter. Pada 2016, mendapat penghargaan Sekolah Sehat Tingkat Kota Semarang. Lalu, penghargaan Adiwiyata Tingkat Provinsi 2017, Apresiasi Sekolah Keren Nasional dari Kemendikbud 2017, serta Anugerah Jawa Pos Radar Kedu-Radar Semarang di tahun yang sama.

“Semua prestasi itu tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak, mulai dari guru, pegawai, siswa, orang tua dan masyarakat,” ungkapnya.

Kepala SMP IT PAPB, Drs H Ramelan SH MH, mengatakan, prestasi yang ditorehkan bukanlah apa-apa tanpa uluran tangan semua. “Adanya prestasi tersebut tentu tidak mudah dicapai tanpa kerja sama berbagai pihak,” katanya.

Ramelan menambahkan, pada waktu dekat akan coba mewujudkan gagasan SMP IT PAPB  sebagai sekolah ecopreneur atau sekolah yang coba melakukan bisnis dari pemanfaatan lingkungan. “Gagasan ecopreneur ini adalah memproduksi barang dan segala aktivitasnya secara ramah lingkungan hingga kemudian menghasilkan imbal balik secara ekonomis,” paparnya.

Terkait penerapan sekolah ecopreneur, selaku pj sekolah sehat dan adiwiyata, Ma’rifah, kepada Eksis Jawa Pos Radar Semarang menuturkan, ecopreneur merupakan pendidikan berwirausaha yang peduli dengan kelestarian lingkungan. Adapun SMP IT PAPB sangat bisa sekali menerapkannya walau terkendala lahan. Hal itu bisa disiasati melalui pembelajaran hidroponik. “Jadi, anak-anak diajari terlebih dahulu menanam hijau-hijauan, yang kemudian hasilnya bisa dijual,” ujarnya.

Rifa –panggilan akrab Ma’rifah– menjelaskan, terkait hasil jualnya bisa berupa tanamannya sendiri, atau buah yang dihasilkan dari tanaman. Sedangkan bentuk pembelajaran ecopreneur sendiri, saat mapel IPA anak-anak diajak praktik menanam. Setelah bisa, kemudian anak diminta merawat hingga kemudian bisa menghasilan dan berbuah. Baru setelah itu, anak-anak diminta memasarkan hasil tanamnya, bisa kepada sesama anak sendiri atau kepada bapak/ibu guru yang memerlukan.

“Intinya, hasil tanam anak-anak  itu ada terusannya dengan menjual,” ungkapnya.

Senada dengan Ma’rifah, Sekretaris Sekolah Sehat dan Adiwiyata, Rumiarti, mengatakan, agar sekolah ecopreneur bisa terwujud di SMP IT PAPB, yang utama dilakukan adalah sosialisasi tentang arti dan tujuan ecopreneur.

“Jadi, agar anak-anak mudah memahami dan mempunyai keterampilan soal ecopreneur, maka sosialisasi terkait ecopreneur kami lakukan terlebih dahulu. Terlebih, tidak semua anak bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Justru dengan program ecopreneur yang digagas SMP IT PAPB akan memberikan bekal keterampilan lingkungan kepada anak,” tandasnya.

Rumi menambahkan, yang paling mudah belajar ecopreneur adalah membuat kompos yang kemudian hasilnya dijual. Atau juga membuat media tanam berupa pot dari bahan bekas.

“Sebagaimana yang sudah kami lakukan, yakni mendaur ulang handuk bekas menjadi pot tanaman yang alami,” katanya.

Bisa juga dengan membuat hidroponik sederhana dari bahan bekas, mulai dari botol  minuman, baskom, maupun ember. Cara ini terbilang lebih murah disamping berupaya membuat hidroponik dari bahan pipa. Karena itu, agar program ecopreneur ini berhasil di SMP IT PAPB, simpelnya akan memanfaatkan lingkungan sekolah yang ada sebagai media tanam secara alami melalui mapel. “Maka mapel IPA, Prakarya dan IPS saya kira bisa menjadi pelaksana utama sekolah ecopreneur di SMP IT PAPB,” pungkasnya. (eksis/tim humas SMP IT PAPB/aro)