Kondisinya Memprihatinkan, Kini Dihuni 11 Warga

Melongok Istana Simongan, Rumah Peninggalan Raja Gula Oei Tiong Ham

303
RUMAH BERSEJARAH: Istana Simongan yang kini kondisinya memprihatinkan. (kanan) Mbah Warni salah satu penghuni rumah peninggalan Raja Gula Oei Tiong Ham ini. (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RUMAH BERSEJARAH: Istana Simongan yang kini kondisinya memprihatinkan. (kanan) Mbah Warni salah satu penghuni rumah peninggalan Raja Gula Oei Tiong Ham ini. (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Sebuah rumah tua berdiri tegak di kawasan perkampungan Bojongsalaman RT 03 RW VIII, Kecamatan Semarang Barat. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari Jalan Raya Pamularsih. Jawa Pos Radar Semarang tergelitik untuk menelisik lebih dalam, bangunan yang disebut-sebut sebagai Istana Simongan tersebut. Seperti apa?

AFIATI TSALITSATI

SUASANA Kampung Bojongsalaman tampak lengang saat Jawa Pos Radar Semarang tiba di sebuah rumah yang dulunya dikenal sebagai Istana Simongan. Dulunya di rumah tersebut tinggal keluarga Oei Tiong Ham, raja gula terkaya di Asia Tenggara. Namun kini kondisi rumah dua lantai tersebut sudah rusak dimakan usia. Temboknya kusam dan mengelupas hingga tampak batu batanya. Lumut dan tanaman liar juga terlihat tumbuh di sela-sela tembok.  Saat ini, rumah bersejarah itu dihuni sejumlah warga. Salah satunya Mbah Warni, yang telah menempati rumah tersebut sejak 1960 atau 58 tahun lalu.

Menurut Mbah Warni, masa kecil Oei Tiong Ham bersama sang ayah, Oei Tjie Sien, dihabiskan di rumah besar tersebut. Hingga sekarang, perwakilan keluarga Tiong Ham sekali waktu masih menyempatkan diri untuk menyambangi rumah ini. Sekarang di lantai 1 rumah itu dihuni 11 warga.

“Cicitnya Tiong Ham, perempuan masih muda, sekitar tiga tahunan lalu datang kemari. Dia melihat-lihat ke dalam rumah. Dia tanya, apa aja peninggalan harta buyutnya?” imbuh Yanti, warga lain yang tinggal di rumah tersebut.

Mbah Warni menceritakan, kali pertama menempati rumah itu, ia masih melihat ada dua patung macan, meja marmer, wadah hio ukuran besar, hingga beberapa lukisan Tiongkok. Namun kini ia tak mengetahui, di mana barang-barang berharga peninggalan Tiong Ham tersebut berada. “Kemungkinan sudah diambil sama kepala asrama ABRI yang sempat tinggal di rumah ini,” katanya.

Menurut Mbah Warni, rumah peninggalan Tiong Ham ini sempat digunakan sebagai asrama tentara pada zaman dulu. Ia sendiri tinggal di situ lantaran ikut suaminya bertugas sebagai prajurit TNI di Simongan. Mbah Warni mengaku, ia dan suaminya merupakan asli Ponorogo. Baru pada 1960, ia diminta untuk tinggal di rumah tersebut.

“Dulunya kampung ini hutan, cuma ada rumah ini saja. Lalu lama-kelamaan beberapa tentara pindah kemari dan punya keturunan sampai sekarang,” cerita Mbah Warni.

Dari luar, rumah peninggalan keluarga Tiong Ham ini kondisinya memprihatinkan. Temboknya kusam, sebagian bahkan keropos dan atapnya bocor jika hujan turun. Salah satu sisi rumah cagar budaya tersebut juga dijadikan sebagai kandang ayam milik penghuninya.

Dituturkan Mbah Warni, pejabat Pemkot Semarang sempat bertandang untuk menengok rumah tersebut. Kedatangannya dalam rangka meminta para penghuni supaya pindah dan menggunakan rumah itu sebagai pusat bangunan bersejarah. Rumah keluarga Tiong Ham sendiri kini dikelola sebagai aset PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

“Katanya (rumah ini, Red) akan diminta untuk ditempati pemerintah. Tapi, kami minta ganti lokasi rumah yang baru. Karena kami sudah lama di sini. Namun sampai kini tidak ada kabarnya lagi,” terangnya.

Selain Mbah Warni, Yanti yang juga tinggal di rumah tersebut menilai keberadaan rumah tersebut sebenarnya memiliki nilai historis yang penting. Lantaran usia bangunannya sendiri sudah lebih dari tiga abad. Terlepas dari penampakannya yang sudah rapuh, kayu bangunannya masih kokoh.

“Lantainya juga masih asli. Sempat mau dicongkelin warga tapi saya larang. Kusen jendelanya juga ada yang mau beli Rp 700 ribu. Malahan, kayu atapnya sempat ditawar Rp 2 miliar,” katanya.

Ada kisah tersendiri dari rumah milik bekas pengusaha opium tersebut. Yanti dan Mbah Warni kompak mengisahkan bahwa keluarganya sempat diganggu arwah perempuan Tionghoa yang konon adalah anak terakhir Tiong Ham. Yanti menambahkan, bayangan perempuan Tionghoa tersebut sering menampakkan diri baik siang maupun malam. “Yang nggak kuat pasti lari terbirit-birit. Makanya, lantai atas rumah ini saya biarkan kosong melompong,” ujarnya. (*/aro)