BUAH UNGGULAN: Lengkeng itoh merupakan salah satu buah unggulan yang dikembangkan Yayasan Obor Tani. (DOKUMEN PRIBADI)
BUAH UNGGULAN: Lengkeng itoh merupakan salah satu buah unggulan yang dikembangkan Yayasan Obor Tani. (DOKUMEN PRIBADI)

“Kami ingin memberi contoh ke pemerintah kalau desa bisa makmur kalau punya kebun buah.”

RADARSEMARANG.COM – Indonesia adalah negara agraris yang memiliki tanah subur dan air melimpah. Ini merupakan keunggulan sebuah bangsa. Hanya saja, selama ini keunggulan ini tidak pernah digarap, bahkan cenderung diabaikan.

KETUA Dewan Pembina Yayasan Obor Tani, Budi Dharmawan, mengatakan, keunggulan sumber daya di bidang pertanian, sebenarnya sudah disadari oleh Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno. Hanya saja, sebelum bisa diperinci dan dimanfaatkan maksimal, kekuasaan Bung Karno keburu runtuh pada 1967.

Kemudian, pada masa Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto, arah kebijakan bangsa berubah. Pemerintah condong mementingkan investor untuk membuka pabrik-pabrik di Indonesia. Dengan masuknya investasi besar, lapangan pekerjaan di bidang industri, terbuka lebar. Orang-orang berbondong-bondong jadi pekerja pabrik. “Kita digiring jadi kuli-kuli. Di Indonesia, sawah dikerjakan sebisanya,” jelasnya.

Pada 2005, Budi membuka sentra pertanian buah di Desa Ngebruk, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal. Lahan bekas kebun cengkih seluas 234 hektare, diubah menjadi kebun buah. Namanya: Plantera Fruit Paradise. Di lokasi ini, ia menanam berbagai jenis tanaman buah bibit unggul. Seperti durian, buah naga, lengkeng, sirkaya dan lain sebagainya.

Menanam pohon buah tidak bisa sembarangan. Ketersediaan air harus benar-benar dipikirkan. Jangan sampai kebun buah tidak mendapatkan air yang cukup saat kemarau tiba. Agar ketersediaan air selalu terjamin, maka dibuat embung atau waduk mini di bagian atas lahan.

Agar tidak bocor, embung dilapisi geomembran yang masih diimpor dari Thailand. Embung menjadi penampung air hujan yang akan menjadi sumber utama pengairan selama musim kemarau. Posisi embung yang lebih tinggi dari kebun buah, memudahkan pengairan ke pohon-pohon di lahan pertanian.

BERSAMA PRESIDEN: Budi Dharmawan saat diminta memaparkan konsep-konsep pertanian kepada Presiden Joko Widodo. (DOKUMEN PRIBADI)
BERSAMA PRESIDEN: Budi Dharmawan saat diminta memaparkan konsep-konsep pertanian kepada Presiden Joko Widodo. (DOKUMEN PRIBADI)

Kini, Plantera telah menjadi salah satu tempat tujuan wisata agrobisnis di Kendal. Pengunjung bisa berjalan-jalan di kebun sambil memetik buah yang sudah matang. Selain Plantera, Budi juga membuka agrowisata serupa di Bawen Kabupaten Semarang. Agrowisata Hortimart dengan luas 27 hektare.

Sekitar setahun setelah membuka Plantera, Budi mendirikan Yayasan Obor Tani. Ia ingin menularkan cara bertani buah ke desa-desa. Harapannya, agar para petani di desa bisa meningkat kesejahteraannya lewat menanam buah-buahan. “Kami ingin memberi contoh ke pemerintah kalau desa bisa makmur kalau punya kebun buah,” tutur pemilik nama Kwik Kian Djin ini.

Tak hanya menularkan teori pertanian, Yayasan Obor Tani juga menyediakan segala macam kebutuhan pada desa mitra binaan. Pihak desa cukup menyediakan lahan seluas sekitar 20 hektare dan kelompok tani yang akan mengelola. Selanjutnya dengan menggandeng sejumlah pihak, Yayasan Obor Tani akan membuatkan embung, melatih petani, menyediakan bibit, pupuk, membantu perawatan hingga memasarkan produk yang dihasilkan. “Desa-desa sangat appreciate, pendapatan petani bisa naik 10 kali lipat dibandingkan dulu,” tutur pria kelahiran Juwana, 26 November 1936 ini.

Kini, Yayasan Obor Tani sudah membangun sekitar 60 embung di berbagai daerah di Indonesia, dengan 20 embung sudah mulai ditanami pohon buah. Tersebar di 16 desa di Jawa Tengah dan 4 di Daerah Istimewa Jogjakarta. Selain untuk mengairi lahan pertanian buah, embung-embung tersebut juga menjadi tempat wisata lokal yang menggerakkan ekonomi desa.

Kiprah Budi dan Yayasan Obor Tani dalam memberdayakan petani di desa-desa rupanya menarik perhatian Presiden Joko Widodo. Pada Juli 2015, ia diundang ke Istana Negara untuk memaparkan usaha dan peluang pertanian buah langsung kepada Jokowi dan Menteri Pertanian ,Andi Amran Sulaiman. Selama sekitar 1 jam, ia bercerita tentang pertanian buah di hadapan orang nomor satu di Indonesia tersebut. “Saya diminta cerita, biar kegiatan selama ini didengarkan untuk diadopsi oleh pemerintah,” jelas Budi.

Jokowi yang tertarik dengan cerita Budi, langsung meminta Menteri Pertanian untuk menindaklanjuti paparan tersebut. Jokowi bahkan ingin berkunjung langsung ke kebun buah milik Budi.

“Saya bilang ke Pak Jokowi, kalau ingin melihat langsung kehidupan petani, tidak bisa hanya blusukan hanya beberapa jam. Saya tawari Pak Jokowi untuk menginap di Hortimart dan beliau tertarik. Hortimart sudah sempat disurvei oleh Paspampres, tapi ternyata Pak Jokowi belum jadi datang.” Pada September 2017, Jokowi mengutus Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki (sekarang menjabat Koordinator Staf Khusus Presiden) ke Hortimart untuk kembali mendalami program-program Yayasan Obor Tani.

Pasar buah di dunia internasional, tutur adik ekonom Kwik Kian Gie ini, potensinya sangat besar. Hanya saja, pasar buah internasional masih dikuasai hasil pertanian dari Tiongkok dan Thailand. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya alam yang dipastikan bisa bersaing dengan kedua negara tersebut. Hanya sumber daya manusia dan teknologi yang saat ini masih jadi kendala agar bisa bersaing di pasar buah internasional.

Ia mengakui, teknologi pertanian di Indonesia sudah tertinggal jauh dari negara-negara maju lain. Masih banyak petani Indonesia yang mengandalkan cara menanam tradisional yang ketinggalan zaman. Sudah banyak ditemukan teknologi baru yang bisa membuat cara bertani menjadi lebih efisien dan hasilnya lebih banyak serta berkualitas tinggi. “Kecepatan perubahan teknologi pertanian itu sama cepatnya dengan gadget. Petani Indonesia sudah tertinggal 100 tahun,” ujarnya.

Agar bisa mengadopsi teknologi pertanian terkini dan efisien, maka dibutuhkan petani yang melek ilmu pertanian. Sebagai calon pemasok sumber daya manusia di bidang pertanian, Budi selanjutnya mendirikan Yayasan Ilmu Tani. Yayasan ini akan mendidik kader-kader pertanian yang pintar dan jujur. Baginya, orang-orang yang jujur sangat diperlukan untuk menjalankan program-program dari Yayasan Obor Tani.

Salah satu cara untuk melatih kejujuran, jelas mantan perwira TNI Angkatan Laut ini, para kader tani ini akan masuk asrama selama masa pelatihan. “Di asrama nanti akan kelihatan siapa saja yang jujur dan yang tidak jujur.”

Yayasan Ilmu Tani tidak hanya bertugas menyiapkan sumber daya manusia. Yayasan nantinya juga akan membuat standarisasi kualitas buah. Sehingga produk yang dihasilkan mitra Yayasan Obor Tani nantinya bisa memiliki standar kualitas yang seragam. “Ke depan juga harus dibuat cabang yang mengurusi bidang pemasaran.”

Bagi Budi, pertanian bisa menjadi kunci kemakmuran bangsa bila benar-benar diperhatikan pemerintah. Lewat Yayasan Obor Tani, ia ingin menularkan metode pertanian modern ke desa-desa agar penduduknya bisa hidup makmur. “Walaupun Yayasan Obor Tani cuma sak tengu (sekecil kutu, red), kecil, tapi cita-cita kita besar. Indonesia bisa makmur lewat pertanian.” (ton.pratono/isk)