PINTAR MELIHAT PELUANG: Soleh Dahlan, owner Dafam Group, memulai bisnis dari nol. (LUTFIE HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PINTAR MELIHAT PELUANG: Soleh Dahlan, owner Dafam Group, memulai bisnis dari nol. (LUTFIE HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

“Saya sukses bukan karena warisan orang tua, bukan korporasi dengan pemerintah. Semua diawali dari nol dan kerja keras.”

RADARSEMARANG.COM – From zero to hero. Itulah sosok Soleh Dahlan. Dari orang biasa, kini punya banyak hotel di bawah bendera Dafam Group. “Saya benar-benar (memulai) bisnis dari nol. Tidak ada warisan orang tua atau modal dari siapapun,” ucap Soleh Dahlan saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, baru-baru ini, di salah satu hotel miliknya di Pekalongan.

LAHIR di Jakarta pada 10 Februari 1951, Soleh Dahlan menyebut dirinya asli Pekalongan. Ia terlahir dari pasangan suami-istri Ahmad Dahlan dan Lucia Siti Maona. Dahlan kecil, mengenyam pendidikan di TK dan SD Pius. SMP, berlanjut ke Satya Wiguna Pekalongan dan baru SMA, hijrah ke Semarang. Di Semarang, Dahlan remaja bersekolah di SMA Loyola.

Selepas SMA, Dahlan melanjutkan pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jurusan Teknik Elektro. Lulus dari UKSW, Dahlan merantau ke Jakarta, kerja di International Business Machines (IBM), sebuah perusahaan komputer pertama di Indonesia. “Perusahaan saya dulu yang menangani BUMN seperti Pertamina, PLN, BI, PDAM di DKI, dan lainnya.”

Hanya 3 tahun bekerja, Dahlan memutuskan pulang ke kampung halaman. Bersama adiknya yang berprofesi asisten apoteker saat itu, Dahlan membuka apotek. “Namanya Apotek Asli, lokasinya di Banjarsari. Modalnya pas-pasan, hasil kerja di Jakarta,” kenangnya. Dahlan mengaku, saat buka apotek, ia mendapatkan banyak dispensasi dari Wali Kota Pekalongan ketika itu: Supomo. “Dibantu sampai buka,” ujarnya. Alasan wali kota, sambung Dahlan, karena senang pada anak muda yang pilih berwirausaha. “Apalagi apotek saat itu masih sangat jarang.”

Sebagai pebisnis muda, Dahlan banyak berinovasi. Ia antarjemput resep dan obat sendiri. Semua dilakukan hanya menggunakan sepeda angin. “Saya tidak malu pakai sepeda. Malah saya dapat banyak simpati warga Pekalongan,” kata Dahlan yang menemui koran ini mengenakan stelan batik. Awal 1980-an, Dahlan lantas melirik bisnis sarang burung walet. “Ini titik poin kesuksesan saya dalam berbisnis,” ucap bapak 3 orang anak itu.

Bisnisnya lancar. Hanya saja, terkendala dengan kondisi Kota Pekalongan yang saat itu dikenal sebagai wilayah sumbu pendek. Sebagai warga keturunan Tionghoa, Dahlan muda ambil peranan. Ia ditunjuk oleh Wali Kota Pekalongan saat itu, Joko Prawoto, untuk berperan aktif menjaga keamanan. “Saya ditunjuk sebagai Ketua BadanKomunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB). Anggotanya, multietnis yang nasionalis.”

Ketika kerusuhan 1998 pecah, Pekalongan aman. Padahal, selain Selain Jakarta, wilayah sumbu pendek di Jawa Tengah lainnya, terkena imbas. Salah satunya, Solo. “Pekalongan bisa aman, karena kita bantuan anggota TNI hingga 1.000 personel dari Panglima TNI saat itu. Pengusaha juga kompak dan terbukti aman.”

Anak-Anaknya Kembali ke Tanah Air

Pada 2010, anak-anak Soleh Dahlan yang sebelumnya tinggal di luar neger, balik ke Indonesia. Selama ini, mereka mencari pengalaman berbisnis di Australia, London, dan Tiongkok. “Ketiga anak saya tidak sekolah formal, bukan sarjana. Mereka saya suruh cari ilmu dan pengalaman,” ujarnya. Nah, pada tahun itu pula, tercetuslah ide mendirikan hotel. Hotel pertamanya di Semarang, yakni Dafam Hotel Semarang, kemudian Hotel Marlin, Dafam Pekalongan, Dafam Cilacap, dan Dafam Pekanbaru.

Dafam Corporate yang dibentuknya, kini sudah menjadi operator untuk 32 hotel se-Indonesia. Terbaru, salah satu hotel di Makkah, dengan 2 ribu kamar. Di tengah persaingan puluhan operator hotel di Indonesia, Dafam mendapat banyak kepercayaan.

“Kerja tim saya luar biasa, Dafam dipercaya mengelola banyak hotel. Terbaru, sudah MoU mengelola 2.000 kamar hotel milik Olayan Corporate di Makkah. Ini prestasi tim, bukan saya pribadi,” serunya bangga. Dalam waktu dekat, bahkan ada pengusaha di Singapura dan Malaysia yang ingin hotelnya di kelola oleh Dafam.

Dalam berbisnis, kata Dahlan, yang penting dilakukan adalah tekun, peduli, dan ‘nguwongke’ (memanusiakan) karyawan. Karena itu, Dahlan dikenal dekat dengan karyawan-karyawannya. “Manajemen kami sangat menghargai karyawan. Terbukti, hampir 90 persen, karyawan sejak awal loyal semua.”

Di perusahaan yang didirikan, Dahlan berprinsip, meski bisnis untuk mencari untung, namun tetap harus profesional. “Jangan mentang-mentang kenal banyak pejabat, minta proyek sana-sini.” Ia pun melanjutkan, “Yang penting kita kerja baik, saya sukses bukan karena warisan orang tua, bukan korporasi dengan pemerintah. Semua diawali dari nol dan kerja keras.” (hanafi/isk)