Usung Konsep Sociopreneurship dan Instagramable

238

RADARSEMARANG.COM – PASAR Karetan dan Pasar Semarangan Tinjomoyo didukung penuh oleh Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Jateng. Konsep dua pasar tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda, yakni mengusung konsep sociopreneurship dengan menggandeng masyarakat sekitar dan mengenalkannya lewat media sosial. Tentu saja, objek wisata tersebut harus intagramable, bisa dengan pemandangan maupun tempat yang eksotis.

“Ide dasarnya adalah pasar, yakni tempat bertemunya antara penjual dan pembeli dalam suatu tempat, dengan  memberdayakan masyarakat sekitar atau kelompok sadar wisata (Pokdarwis),” kata Penasihat Genpi Jateng, Shafiq Pahlevi Lontoh kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Shafiq menjelaskan, perbedaan antara kedua pasar tersebut adalah pada sistem pembayaran yang dilakukan, namun sama-sama tidak menggunakan uang tunai. Jika pada Pasar Karetan pengunjung harus menukarkan sejumlah uang untuk menukar koin, di Pasar Semarangan Tinjomoyo mengusung konsep pembayaran chasless, yakni dengan menggunakan Tap Cash dan YAP bekerjasama dengan BNI. “Di Pasar Semarangan Tinjomoyo disupport oleh perbankan, karena Semarang saat ini menuju smart city, sehingga tidak menggunakan pembayaran uang tunai,” paparnya.

Perbedaan yang mendasar pada Pasar Semarangan Tinjomoyo,lanjut dia, dari sisi kuliner. Pada pasar ini lebih menonjolkan akulturasi budaya dengan empat jenis kuliner yang berbeda, yakni makanan Tiongkok, Jawa, Arab dan Eropa. “Sebelumnya kami melakukan kurasi makanan, penyajiannya, pedagangnya dan tempat-tempat dengan spot selfie. Selain itu juga dari segi marchandise,” ucapnya.

Dengan konsep pasar yang unik dan baru, Pasar Karetan yang dilaunching pada November 2017, setiap minggunya berhasil mendatangkan sekitar 2.000 pengunjung dengan nomimal transaksi sekitar Rp 30 juta. Sementara Pasar Semarang Tinjomoyo untuk soft launching Maret lalu, transaksinya baru Rp 7 juta. “Dari dua pasar tersebut, Genpi Jateng mendapatkan sharing keuntungan sekitar 20 persen,” ucapnya.

Koordinator Genpi Jateng, Wahyudi D Hartanto, mengaku jika progres Pasar Semarangan Tinjomoyo punya masa depan yang cerah. Hal ini terbukti pada test market yang dilakukan belum lama ini, di mana ribuan pengunjung tampak antusias meski hujan mengguyur tempat wisata yang dulunya mangkrak tersebut. “Rencananya April ini akan diresmikan, dengan konsep yang beda yakni smart, sustainable, dan size. Yakni, harus ada ide kreatif dan inovatif lagi agar bertambah besar dan nggak ngebosenin pengunjung,” paparnya.

Setelah diresmikan, pasar yang berdiri di lahan Pemkot Semarang tersebut rencananya akan dikenakan tiket masuk untuk menambah pendapatan UPTD Tinjomoyo sebesar Rp 4.500 per orang. Selain itu, Genpi juga akan mengajak berbagai komunitas meramaikan acara, serta penambhaan wahana, salah satunya dengan mendatangkan investor. “Evaluasi soft opening kemarin, kami akan membuat gubug untuk para penjual yang totalnya ada sekitar 20-an. Selain itu juga mengajak investor agar bisa membangun wahana jika dimungkinkan,”tambahnya.

Pasar Semarangan Tinjomoyo sendiri, mengajak sejumlah Pokdarwis terdekat. Misalnya, Kandri, Nongkosawit dan lainnya yang merupakan binaan Pemkot Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Semarang. “Kami diajak mengenalkan Sego Kethek dan kerajinan tangan dari limbah kayu bekas,” tambah M Nur Khusaeni, Pokdarwis dari Kandri.

Juragan Pasar Semarangan Tinjomoyo, Mei Kristanti, mengatakan jika pihaknya sengaja menyulap kawasan Tinjomoyo menjadi lebih hidup dan menarik dengan membuat beberapa stan kuliner, kesenian dan kerajinan dari kelompok sadar wisata Kota Semarang, yang dibuat mirip pasar tradisional. Bedanya adalah semua transaksi di Pasar Semarangan Tinjomoyo dilakukan cashless atau non tunai. “Konsepnya pasar, namun digital, langkah ini untuk mendukung 100 destinasi wisata digital yang dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata,” katanya.

Pasar Semarangan Tinjomoyo akan dibuka setiap Sabtu mulai pukul 15.00- 21.00 dengan menyediakan aneka kuliner khas Semarangan. Misalnya, Sego Kethek, Sego Jantung, Sego Ambeng dan lainnya sengaja disetting khas pedesaan, dengan suasana asyik, nyaman, namun dengan harga yang murah.  “Pada 7 April nanti akan diresmikan oleh Pemkot Semarang,” ujarnya. (den/aro)