Tebar Perdamaian, Guru Agama Islam Kunjungi Gereja

135
SILATURAHMI: Sebanyak 30 guru agama Islam se-eks Karesidenan Semarang saat melakukan kunjungan ke Gereja Santa Theresiana, Bongsari, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SILATURAHMI: Sebanyak 30 guru agama Islam se-eks Karesidenan Semarang saat melakukan kunjungan ke Gereja Santa Theresiana, Bongsari, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Sebanyak 30 guru agama Islam se-eks Karesidenan Semarang melakukan kunjungan ke Gereja Santa Theresiana, Bongsari. Kunjungan tersebut untuk membicarakan tentang kegelisahan guru agama Islam terkait dengan model pendidikan yang dapat menguatkan perdamaian. Mereka diterima oleh Pastur Kepala Paroki Santa Theresia Bongsari, Romo Eduargus Didik Cahyono, Sabtu (31/3). Kegiatan tersebut merupakan kerja sama antara Officer Capacity Building Wahid Foundation dengan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA).

Senior Officer Capacity Building Wahid Foundation, Hafizen, mengatakan, kegiatan ini berawal dari kegelisahan orangtua, karena anak muda yang rentan kemudian ditambah dengan kegelisahan guru agama Islam terkait dengan model pendidikan kita yang bisa melakukan penguatan perdamaian.

“Ini merupakan bagian dari kita untuk penguatan dengan melakukan perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki identitas berbeda. Sebab, yang membuat kita saling curiga karena kita mengalami krisis perjumpaan, krisis saling mengenal, sehingga pertemuan ini memungkinkan untuk saling berinteraksi, saling mengenal lalu ke depan memungkinkan untuk bekerja secara kolaboratif melakukan kerja-kerja perdamaian, di khusunya di Semarang dan Jateng,” katanya.

Dikatakan, pertemuan tersebut tidak untuk mencari titik temu teologis, tetapi untuk menjalin silaturahmi dan kerja sama untuk mencapai cita-cita perdamaian antaragama dan antaridentitas yang berbeda.

Pastur Kepala Paroki Santa Theresia Bongsari, Romo Eduargus Didik Cahyono, mengaku sangat mendukung Wahid Foundation dan eLSA yang bisa memahami agama dengan cara pandang yang berbeda. Selain itu, dalam pertemuan itu bukan untuk mencari titik temu dan tidak saling untuk merendahkan, tetapi saling memahami dan kekayaan tradisi keagamaan masing-masing. “Untuk itu, agama lain ikut melanjutkan apa yang telah dilakukan saat ini guna terciptanya kedamaian,” paparnya.

Dalam pertemuan tersebut, para guru agama Islam banyak menanyakan hal-hal keagamaan mulai dari apakah romo itu boleh menikah atau menikah diam-diam serta masalah kristenisasi. Semuanya dijawab oleh Romo Eduargus Didik Cahyono dengan terbuka dan tidak ada yang ditutup-tutupi. “Artinya semuanya mengalir bagaikan air, sehingga semuanya dapat berjalan lancar,” katanya. (hid/aro)