BERSYUKUR : Warga Dusun Cepit Desa Pagergunung Kecamatan Bulu membawa tenongan dalam tradisi
BERSYUKUR : Warga Dusun Cepit Desa Pagergunung Kecamatan Bulu membawa tenongan dalam tradisi "Rejeban Plabengan" di Lereng Gunung Sumbing, Jumat (30/3). (Ahsan fauzi/radar kedu)

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG – Ratusan pengunjung berbondong-bondong ke lereng Gunung Sumbing Dusun Cepit Desa Pagergunung Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung, Jumat (30/3). Mereka mengikuti tradisi “Rejeban Plabengan” yang digelar warga setempat. Warga sambil membawa tenong berisi nasi tumpeng, pisang, ingkung ayam serta lauk pauk lainnya berjalan menuju makam sahabat Ki Ageng Makukuhan di Bukit Plabengan.

Kades Pagergunung Sukarman mengatakan, tradisi Rejeban Plabengan ini diselenggarakan setiap Jumat Wage pada bulan Rajab. “Kegiatan ini sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Pagergunung kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan banyak rezeki,” ucap Sukarman.

Rejeban Plabengan tahun ini agak berbeda dengan tahun lalu. Jika tahun lalu hanya ada 1 tumpeng besar, kali ini tersedia 7 tumpeng. Masing-masing tumpeng berasal dari 7 rukun tetangga (RT) di Desa Pagergunung. “Kegiatan ini diawali dengan kegiatan pengambilan air di wilayah Gunung Sumbing oleh 7 orang utusan Dusun Cepit pada Kamis (29/3), kemudian malamnya digelar tahlilan obor dan selawatan. Setelah Rejeban Plabengan selesai dilanjutkan pentas kesenian tradisional,” terangnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung Woro Andijani mengatakan, Desa Pagergunung merupakan 1 dari 10 desa wisata yang ditetapkan Pemkab Temanggung. Dusun Cepit merupakan salah satu jalur pendakian ke puncak Gunung Sumbing. “Tradisi Rejeban Plabengan ini bisa menjadi daya tarik wisatawan. Dari kegiatan ini pula, saya berharap makin banyak wisatawan berkunjung ke sini (Gunung Sumbing, red),” harapnya.

Tradisi Rejeban Plabengan ritual di Dusun Cepit ini cukup menarik bagi wisatawan. Di antara keunikan dan kekhasanya adalah barisan warga memikul tenong, panorama di sekitar berupa ladang sayuran dengan latar belakang gunung sehingga indah sekali. “Kegiatan dari tahun ke tahun semakin baik, pengunjung juga terus bertambah, bukan hanya dari warga Temanggung saja, tetapi juga dari daerah lain, bahkan ada turis dari Prancis,” tukasnya. (san/ton)